by

Menempatkan Ahok Juara, Ini Keanehen Survei Hamdi Muluk dkk

Djoko Edi.[Nicholas/radarindonesianews.com]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Survei Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia yang
dipimpin Hamdi Muluk jelas ngaco. Saya tidak mempersoalkan riset, sebab
harus melihat prosesnya. Namun yang saya soal adalah hasil survei yang
menempatkan total kapabilitas Ahok berada di ranking 1, sedang Yusril
nomor paling bontot. Luar biasa! Bahkan Yusril, bisa kalah kapabel
(layak) daripada Suyoto (Bupati Bojonegoro). Sampai di situ, berhenti
logika saya.


Yoto (Suyoto) baru memimpin di kabupaten, Yusril sudah jadi
Mensesneg. Yoto baru belajar tahun 2003, Yusril sudah selesai memimpin.
Yoto belum apa-apa tahun 2003, Yusril sudah jadi profesor dan ahli
hukum. Yoto baru enam bulan promosi mau jadi Cagub, Yusril sudah jadi
tokoh nasional. Yusril sudah menangani masalah negara sejak pak Harto,
Yoto masih di DPW PAN Jatim.


Jadi, bagaimana survei malah menempatkan visionernya Yusril rendah,
paling bontot pula. Aduh, ngaco banget! Visioner menurut saya, adalah
kemampuan seseorang melihat ke depan, ke masa depan, dan kemampuan
menerjemahkan masa depan. Padanannya kalau di business plan adalah NPV
(Net present value). Nilai yang diharapkan di masa depan dari modal yang
diterbitkan. Kalau empiriknya (pengalamannya) satu meter, visionernya
juga satu meter.


Rasanya tak ada yang membantah, empirik atau pengalaman Yusril lebih
panjang. Bagaimana bisa visionernya lebih pendek? Rasanya Hamdi Muluk
harus ke Dubai, baru bisa bikin Dubai Internet City. Lebih dari itu
namanya dukun atau Nabi.


Intelektualitas Yusril paling rendah pula. Apa pulak ini cak Hamdi?
Apa Yusril tidak intelek? Yusril telah menjadi penulis pidato Presiden
Soeharto karena intelektualitasnya. Bukan karena menyogok, bukan pula
karena injak kaki, atau dikarbit. Ia adalah salah satu profesor termuda
di Indonesia, mosok tidak intelek. Dengan menempatkan pada ranking
terbawah, sama sajah dengan menyatakan Yusril tidak intelek. Ahhh,
bercanda Hamdi ini.


Kemampuan politik Yusril paling rendah. Ini sudah gila! Sewaktu
Soeharto mundur, Yusril yang menyiapkan semua. Padahal ia belum
mendirikan PBB. Waktu reformasi, Yusril mendirikan PBB dan mendapat satu
fraksi di DPR. Apa itu bukan kemampuan politik? Sori cak Hamdi, saya
mengikuti kejanggalan hasil riset antum.


Padahal nama-nama lain dalam survei itu belum punya track record yang
berarti di partai politik, apalagi bikin partai politik. Lalu kemampuan
apa yang digunakan Yusril itu kalau survei yang dilakukan Hamdi Muluk
dan kawan-kawan ini menempatkan kemampuan politik Yusril rendah? Heboh
benar survei Hamdi Muluk dan kawan-kawan ini.


Kemudian tentang integritas moral. Artinya tidak berkorupsi, bersih
diri, dan konsisten. Lagi-lagi survei yang dilakukan Hamdi Muluk
menempatkan Yusril terendah pula? Artinya Yusril koruptor, tidak bersih
diri, dan tidak konsisten. Sudah bener inikah? Komparasi, lebih bersih
dari Sandiaga Uno ketimbang Yusril? Dari catatan saya, Yusril lebih
bersih. Tak ada kasus korupsi yang melibatkan Yusril seheboh Ahok.


Secara fakta hukum, Ahok sudah berkasus korupsi. Cuma tinggal
pembuktian. Yusril belum pernah. Yang di Kejaksaan Agung beberapa waktu
lalu, Jaksa Agung sendiri yang menarik kasusnya hingga Hendarman
Supandji terjungkal dari kursi Jaksa Agung. Selesai kasus di Kejaksaan
Agung itu dan kasusnya batal. Artinya tak ada kasus Ahok jelas fakta hukumnya. 
Baik itu skandal lahan RSSW, menyusul
kemudian pembelian tanah Cengkareng untuk rencana pembangunan rumah
susun, dan status saksi pada kasus reklamasi. Sebagai orang hukum maka
saya menilai jelas Ahok berkasus korupsi. Bagaimana mungkin yang fakta
jadi terbalik dalam suervei yang dilakukan Hamdi Muluk dan kawan-kawan
ini?


Tentang konsistensi. Faktanya Yusril konsisten. Ia tidak lompat
sana-sini, dan statementnya tidak mencla-mencle. Tolong tunjukkan satu
saja di mana Yusril tidak konsisten? Satu saja! Tapi dalam survei Hamdi
Muluk menempatkan Ahok sebagai juara dua. Padahal kita tahu Ahok kutu
loncat. Dari satu parpol ke parpol lain. Artinya dari satu ideologi ke
ideologi lain. Jadinya, tambah aneh hasil riset ini.


Kemudian aspek kemampuan memahami govermental (pemerintahan). Yusril
juga pada posisi paling buruk. Aduh, ini tak sesuai fakta. Kecuali
Sjafrie, nama-nama lainnya baru memimpin di skala lokal. Sandiaga Uno
malah belum memimpin di birokrasi pemerintahan. Di swasta yes. Tapi
tidak apple to apple toh? Yoyok saya tak kenal. Tapi dalam survei ini
lebih hebat daripada Yusril.


Hasil survei Hamdi Muluk ini jelas aneh. Beda dengan Hamdi yang pasti
hebat, saya pernah menelakukan penelitian (survei dan riset) sebanyak
33 kali. Baik yang komersil dan probono. Setahu saya, hasil riset sudah
diketahui sejak desain riset. Tugas riset hanya menguji yang diketahui
itu. Di situ ada kontrol yang mengendalikan proses riset. Terutama jika
hasilnya paradoks dengan kenyataan.


Nah, saya ingin mengajukan pertanyaan, apakah riset yang dilakukan
Hamdi Muluk dan kawan-kawan ini memiliki alat kontrol? Atau
jangan-jangan semua preliminary? Pantas heboh. Artinya riset itu belum
rampung! Sebab, paradigma apapun, metodologi apapun, tugas riset hanya
mencari kebenaran yang mendekati kenyataan. Kalau hasilnya paradoksal,
pasti ada determinisme luar biasa. Bagaimana dong Hamdi?(TS*)

Comment

Rekomendasi Berita