by

Rizal Ramli: Negara Dipakai Untuk Menindas Rakyat, Ini Tidak Benar

Rizal Ramli, mantan menteri Menteri
Koordinator bidang Maritim dan Sumber Daya.[Nicholas/radarindonesianews.com]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Di areal wilayah Pemukiman eks warga kampung Aquarium, pasar ikan
Jakarta Utara dilangsungkan acara pemutaran film dokumenter secara
terbuka yang diinisiator bersama warga eks korban gusuran kampung
aquarium layaknya menonton acara layar tancep dengan judul,”Kedok Palsu
Revitalisasi”. Adapun menurut rencananya bakal hadir mantan Menteri
Koordinator bidang Maritim dan Sumber Daya kabinet Kerja Pemerintahan
Jokowi-JK, Dr. Rizal Ramli yang terundang, serta selain itu Ratna
Sarumpaet (aktivis pemerhati HAM dan koordinator RSCC/Ratna Sarumpaet
Crisis Centre), Lius Sungkarisma (tokoh Tionghoa), Haikal Sekjen Partai
Priboemi, Geprindo (Gerakan Pribumi Indonesia), dan juga beberapa elemen
masyarakat yang tergabung dalam komunitas masyarakat Jakarta Utara, Minggu malam (7/8).
 
“Warga setempat, seperti diketahui sudah bermukim di
lokasi ini selama 40 tahun dan ada juga yang lebih.Kenapa sih tidak di
tata ulang saja, mengapa digusur?,” papar mantan Menteri Koordinator
Bidang Perekonomian pada masa Presiden Abdurahman Wahid itu mengatakan.
Jakarta, Minggu (7/8).
 
Lebih lanjut,
Ramli yang juga merupakan seorang mantan tokoh pergerakan mahasiswa,
ahli ekonomi dan politisi Indonesia, menyampaikan kalau misalnya, lokasi
yang luasnya 4 ha ini, kenapa ga 1/2 ha saja dibangun rumah
susun.”Lihat sekarang lokasi rumah susunnya saja jaraknya berpuluh
kilometer lebih dari lokasi tempat mereka mencari makan
(berpenghasilan),” tuturnya lagi.
“Dan tiap
bulan mesti bayar sewa, sedangkan mereka tidak bisa membayar. Soalnya
dari mana penghasilannya coba ?,” ungkapnya dengan tegas dan memberikan
bayangan nasib warga eks korban gusuran kampung aquarium.
Soalnya,
menurut pandangan Rizal secara tidak langsung tindakan ini nampak dan
terasa kejam sekali. “Coba kalau lokasi yang misalnya memiliki luas
sebesar empat (4) ha lokasi ini, lalu setengah (1/2) hektar dibangun
rumah susun yang tinggi sekali. Kemudian setengah (1/2) hektar lagi
dibangun taman. Kemudian sisanya di tenderkan saja ke pihak swasta yang
tiga (3) hektarnya, bisa saja dijual 25 juta per meternya.”
imbuhnya menjelaskan.
“Ini kejam sekali, coba
kalau seperti yang saya gambarkan tadi, warga disini-kan kemungkinan
bisa memperoleh tempat tinggal atau rumah,” urainya lagi.
Rizal
Ramli kemudian memberikan contoh, seperti hal yang mana pernah
dilakukan di Singapura oleh PM nya yang ketika itu dijabat oleh Lee Kuan
Yew.”Dimana ada daerah kumuh didirikan flat. Lalu untuk
meningkatkan integritas sosialnya supaya semakin dekat, yang bermukim
ada keturunan india, tionghoa, keturunan melayu, juga ada
bule biar makin dekat dan semakin terintegrasi masyarakat,” jelasnya.
“Ini
kan cara yang tidak bener. Di mana ini juga malahan menggusur dengan
menggunakan aparat lagi. Kan menambah biaya besar, paling juga tanah
disini dihargai sejuta hingga dua juta permeternya, jangan gitulah,”
imbuhnya dengan nada menyesali. 
Rizal pun
mengingatkan,”bahwa kalau kapitalisme ingin dipakai dengan cara ugal
ugalan, ditambah lagi negara dipakai untuk menindas rakyat, ini tidak
benar,” ucapnya lagi.
Pasalnya, menurutnya ini
bukan maksud yang dahulu dicita citakan oleh para pendiri bangsa
(founding father) seperti Bung Karno, Bung Hatta.”Bukan ini maksudnya,
Bung karno dan Bung Hatta bikin Republik ini agar rakyatnya sejahtera
dan makmur. Ada tata cara, dimana jangan main gusur, bisa menata ulang
dengan baik. Jangan bertindak seenaknya, jangan karena orang ga punya
apa apa dan ga punya kuasa. Jangan bertindak seenaknya,” jelasnya.
“Ini
janjinya menata. Loh, kok bisa ini Gubernur melawan perintah Presiden,
bukannya menata malahan menggusur sesuai keinginginan pengembang.
Soalnya bohirnya, pengembang. Ini yang mestinya dibenahi, bila ingin
Negara kita maju, sesuai dimana cita-cita pendiri bangsa,” tandasnya.[Nicholas]

Comment

Rekomendasi Berita