by

Pahamilah, Menikah Tak Hanya Butuh Kesiapan Tapi Juga Keberanian

Foto: copyright thinkstockphotos.com
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kalau ditanya sudah siap menikah apa belum, mungkin kita bisa dengan
percaya dirinya menjawab siap. Tapi kalau ditanya sudah berani atau
belum, hm… sepertinya butuh berpikir dua kali untuk menjawabnya.
Seseorang
menikah umumnya hanya ingin sekali seumur hidup. Menghabiskan sisa
waktu bersama dengan orang yang paling kita cintai. Berbahagia dengan
orang yang sudah kita pilih dan memilih kita jadi pasangan hidup. Dan
menikah itu tak hanya butuh kesiapan tapi juga keberanian.
Akan Ada Masalah Baru Bermunculan Saat Menikah, Beranikah Menghadapinya?
Jelas
akan ada banyak masalah dan konflik baru yang bermunculan ketika kita
menikah nantinya. Sanggup dan beranikah kita untuk menghadapi dan
menyelesaikannya? Pastinya memang tak akan mudah. Siap saja tak akan
cukup jika tak ada keberanian untuk menghadapi semua persoalan yang akan
menghadang nantinya.
Beranikah untuk Menyesuaikan Diri dengan Kehidupan Pernikahan?
Beranikah
dan sanggupkah kita menyesuaikan diri dengan kehidupan pernikahan? Tak
sekadar berani berjanji manis di mulut saja. Tapi benar-benar
membuktikan diri kita mampu untuk beradaptasi dengan semua perubahan
yang akan dihadapi saat menikah nanti. Susah senang, sedih bahagia, suka
dukanya dijalani beriringan.
 
 
“I
don’t want to be married just to be married. I can’t think of anything
lonelier than spending the rest of my life with someone I can’t talk to,
or worse, someone I can’t be silent with.”
― Mary Ann Shaffer, The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society  
 
Butuh Keberanian Mengendalikan Ego Sendiri untuk Kebaikan Bersama
Setiap
individu, masing-masing pasangan pasti punya ego sendiri-sendiri. Saat
sudah menikah, kita tak bisa cuma menuruti ego dan kepentingan diri
sendiri. Penting untuk bisa sama-sama berani keluar dari zona nyaman dan
berusaha untuk saling beradaptasi. Memahami kelebihan dan kekurangan
masing-masing.
 
 

“A
great marriage is not when the ‘perfect couple’ comes together. It is
when an imperfect couple learns to enjoy their differences.”
― Dave Meurer 
 
Untuk
menikah, hal pertama yang diperlukan memang kesiapan diri. Tapi itu
saja belum cukup. Butuh keberanian dan pembuktian diri untuk bisa
menerima semua konsekuensi dari keputusan untuk menikah yang kita buat.
Memasuki
gerbang pernikahan itu baru sebuah awal. Baru awal untuk perjalanan
yang lebih panjang dan bisa jadi lebih sulit. Lalu, beranikah kita
memperjuangkan setiap pilihan kita dan menjalani itu semua tanpa
berkeluh kesah?[vem]

Comment

Rekomendasi Berita