by

Menjadi Wanita Asyik di Media Sosial, Bukan Yang Hobi Mengusik

Foto: copyright thinkstockphotos.com
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Apakah kamu salah satu orang yang meng-unshare/un-follow karib di
media sosial karena semua status atau fotonya mulai mengganggu? Atau
jangan-jangan kamulah yang kini jadi banyak “musuh” di media sosial
karena idealisme yang kamu sebarkan?
We are not judging you.
Kami di sini hanya mau sharing atas semua perilaku kamu tunjukkan di
media sosial. Untuk memandu kita, simak deh tulisan dari Nuri Sadida, M.
Psi, dosen dan peneliti dari Fakultas Psikologi Universitas YARSI,
Jakarta. Beliau memaparkan fenomena ini bisa terjadi.
“Saat ini
semua orang menggunakan media sosial untuk tujuan berinteraksi dan
bergaul dengan orang lain. Sebelum adanya media sosial, orang
berinteraksi satu sama lain di dunia nyata.
Namun saat ini, media
sosial merupakan alat yang cukup efektif untuk berinteraksi. Hanya saja
di kemudian hari, intensnya masyarakat menggunakan media sosial membuat
netizen menampilkan berbagai perilaku yang berbeda dibandingkan dengan
interaksi di dunia nyata, yang sayangnya banyak dari perilaku tersebut
adalah perilaku negatif (misalnya mem-bully orang lain, menyebarkan
berita bohong/ hoax, menghina orang lain, dsb).
Lebih
memprihatinkan lagi, ternyata perilaku negatif di media sosial cukup
banyak terjadi pada perempuan. Kamu mungkin pernah mengalami ini,
melihat seseorang membuat status yang kasar di media sosial, padahal
anda tahu keseharian orang tersebut cukup santun. Atau kamu melihat
orang-orang di lingkaran pertemanan online anda membuat pernyataan
menghakimi yang seolah-olah tanpa dasar, atau teman anda ternyata mudah
terpengaruh berita hoax dan kemudian menyebarkan berita-berita hoax
tersebut.
Mengapa seseorang bisa bertingkah laku seperti itu?
Menurut
studi, sifat anonim internet adalah salah satu faktor yang mendorong
terjadinya perilaku negatif saat online. Sifat anonim internet ini
berarti kita tidak berhadapan secara langsung dengan orang yang sedang
berinteraksi dengan kita. Hal ini memungkinkan seseorang bertingkah laku
sebebas-bebasnya tanpa khawatir akan dihukum oleh pihak berwajib.
Beda
halnya dengan dunia nyata, bukan? Di mana jika kita menghina orang lain
di dunia nyata, maka bersiaplah menerima sanksi hukum.
Lalu
mengapa banyak terjadi pada perempuan? Disini ternyata karakteristik
perempuan yang menentukan mengapa perilaku negatif di dunia online
banyak dilakukan perempuan. Karakteristik apa sajakah itu?
1. Intensitas menggunakan media sosial
Menurut
hasil survei jumlah pengguna media sosial perempuan lebih banyak
daripada laki-laki. Ditambah, pengguna media sosial perempuan juga
menghabiskan waktu lebih banyak mengakses media sosial. Otomatis,
konsekuensi negatif dari menggunakan media sosial juga terjadi lebih
banyak pada perempuan.
Beberapa studi sudah menjelaskan bahwa
semakin sering mengakses media sosial, maka semakin tinggi potensi
seseorang mengalami depresi, ketergantungan (adiksi), hingga menjadi
penyendiri. Ketika kondisi emosi dan mood seseorang menjadi negatif,
maka kemungkinan seseorang menampilkan perilaku negatif di media sosial
pun menjadi lebih sering.
2. Perempuan  cenderung membanding-bandingkan diri dengan orang lain
Jika
anda berselancar di media sosial, maka Anda akan mudah menemukan
perempuan menulis status tentang ketidaksukaannya terhadap pilihan
perempuan lain.
Misalnya seorang Ibu rumah tangga tidak suka
dengan ibu bekerja. Ibu yang melahirkan secara normal, menghakimi Ibu
yang melahirkan dengan operasi. Menurut studi psikologi hal ini
disebabkan karena perempuan cenderung berkompetisi dan menilai orang
lain berdasarkan usia, penampilan, dan karakter perempuan lain.
Jika
seorang perempuan melihat orang lain yang memiliki penampilan atau
karakteristik yang lebih unggul dibandingkan dengan dirinya, maka
perempuan akan cenderung menghakimi orang lain.

Kedua
faktor tersebut hanya sebagian dari begitu banyak faktor yang
mempengaruhi perilaku online perempuan. Selanjutnya, bagaimana agar kita
sebagai perempuan mengatasi kedua faktor tersebut?
A. Membatasi penggunaan media sosial
Seperti
yang sudah dijelaskan, bahwa intensitas menggunakan media sosial yang
terlalu sering mengakibatkan perempuan rentan mengalami depresi dan
gangguan kesehatan mental. Oleh karena itu, biasakanlah membuka media
sosial dengan target dan tujuan yang jelas.
Misalnya menargetkan
paling lama setengah jam, atau membuat tujuan membuka media sosial untuk
mencari informasi yang positif, misalnya tentang cara memasak.
B. Menghakimi orang lain tidak membuat kamu menjadi lebih baik
Menurut
studi psikologi, seseorang yang cenderung menghakimi secara negatif
orang lain justru sebenarnya memiliki kepercayaan diri yang rendah dan
tidak puas dengan hidupnya. Menghakimi orang lain mungkin hanya
menimbulkan kepuasan sementara, namun selanjutnya perilaku tersebut
tidak membuat anda lebih percaya diri atau lebih bahagia.
C. Meningkatkan kewaspadaan dan kemampuan berpikir kritis dalam menggunakan media sosial.
Kamu
sudah tahu sebelumnya bahwa internet dengan sifat anonimnya menggiring
kita untuk berperilaku mengusik orang lain. Maka sebelum kamu membuat
status atau posting sesuatu, kamu dapat menanyakan ulang kepada diri
anda sendiri “Apa risiko dan konsekuensi yang saya dapatkan jika saya
posting ini?”.
Jika kamu tahu tulisan yang kamu bagi berpotensi
menyakiti perasaan orang lain, hentikan niat untuk membuat status
tersebut. Karena di kemudian hari, anda justru lebih rentan menjadi
target perilaku negatif dari orang lain yang berikutnya.
D. Meningkatkan literasi media sosial
Dengan
meningkatkan literasi media sosial, kita melatih diri untuk memahami
bagaimana sebuah konten berita diproduksi sampai dipajang di dinding
media sosial, hingga kita tidak mudah terjebak menyebarkan berita
bohong. Selain itu, meningkatkan literasi media sosial juga bermanfaat
untuk menjaga diri dari curhat berlebihan, karena sekali lagi curhat
berlebihan membuat kamu lebih rentan mengalami gunjingan orang lain.
Nah
terakhir, ingatlah bahwa kita bertanggung jawab berperan sebagai
netizen yang baik. Mari kita coba dari sekarang, menjadi pribadi asyik
di media sosial tanpa menyakiti orang lain.” [vem]

Penulis:
Nuri Sadida, M. Psi
Dosen dan peneliti di Fakultas Psikologi Universitas YARSI

Comment

Rekomendasi Berita