by

Berbicaralah dan Berjalanlah untuk Mencegah Ekstremisme Kekerasan

RADARINDONESIANEWS.COM, SEOUL – Masyarakat dunia saat ini menyaksikan pandangan radikal dan ekstremisme kekerasan yang meluas, yang menimbulkan kekuatiran mendalam pada stabilitas dan kemakmuran dunia. Pemerintah di setiap negara bertindak melawan ekstremisme tersebut melalui penguatan kebijakan negara dan kerja sama internasional mengenai keamanan, pendidikan, dan sebagainya. Seiring dengan upaya negara-negara tersebut, LSM-LSM internasional menggelar kampanye budaya damai untuk memperkuat kesadaran masyarakat tentang perlunya perdamaian dan toleransi bahkan untuk mencegah ekstremisme kekerasan.

Di 85 kota di 43 negara termasuk Beijing RRC, New York, Paris, Seoul, Sydney, dan Tokyo pada tanggal 25 Mei, sebuah LSM internasional di bawah Departemen Informasi Publik Perserikatan Bangsa-Bangsa (DIP PBB), Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light (HWPL), menjadi tuan rumah kampanye budaya damai yang bertajuk ‘Walk & Talk to Prevent Violent Extremism’ bersama dengan masyarakat lokal dan organisasi pemuda internasional.


Ketua HWPL, Man Hee Lee dalam pidato sambutannya, menyerukan kerjasama seluruh dunia untuk membangun perdamaian. “Siapa yang dapat mewujudkan perdamaian saat kita berdiam diri? Kita harus menciptakan perdamaian. Kita harus mengakhiri perang,” katanya. Selain itu, dia menekankan perlunya partisipasi masyarakat dalam penciptaannya. “Apakah kerjanya untuk negara dan bangsa? Kita kan harus menjadi satu dalam mewujudkan perdamaian. Marilah kita semua mengakhiri perang dan membangun dunia perdamaian sebagai warisan bagi generasi mendatang. Inilah tugas untuk setiap keluarga di seluruh dunia, ” tegasnya.

Dalam acara tersebut diberikan waktu untuk memahami bahwa bagaimana keyakinan mereka diinternalisasi berdasarkan pandangan mengenai nilai damai serta tindakan mereka yang berasaskan keyakinan tersebut dapat muncul melalui dialog tentang pandangan mengenai nilai dan keyakinan yang dimiliki oleh para peserta. Salah seorang peserta acara, mahasiswa pascasarjana yang bernama Sara Florian mengatakan, “Tanah air saya, Guatemala sudah mengalami penderitaan besar akibat terjadinya perang saudara selama sekitar 30 tahun. 20 tahun sudah berlalu sejak berakhirnya perang. Namun, menurut orang tua saya, kerugian dan penderitaan akibat perang tersebut, baik secara fisik maupun psikologis, masih tinggal di seluruh pelosok negeri. 20 tahun setelah berakhirnya konflik. Kita perlu mengubah pikiran melalui dialog dan komunikasi untuk dunia damai di masa depan tempat nilai koeksistensi terjunjung tinggi. Itulah cara untuk menyembuhkan luka akibat perang. Saya berharap bahwa acara hari ini untuk refleksi peristiwa masa silam dapat tetap berlanjut,” nyatanya.

Pada bagian akhir acara, para peserta berkumpul untuk melakukan gerak jalan damai. Direktur IPYG, Duhyen Kim, menekankan, “IPYG masih menjalankan proyek-proyek untuk kemajuan para pemuda dan pendidikan perdamaian bersama dengan berbagai lembaga internasional, LSM, dan asosiasi pemuda di seluruh dunia. Di zaman sekarang kaum muda semakin bangkit. Saya juga telah menghadapi kenyataan dalam dunia kita serta mengambil kemputusan agar jangan berdiam diri di dalam kenyataan tersebut. Kenyataan sekarang bukanlah yang tidak dapat diperbaiki. Dunia dalam kehidupan kita dapat menjadi tempat yang lebih baik lagi.” Kampanye tersebut dimulai sejak tahun 2013. Pada waktu itu Deklarasi Perdamaian Dunia diproklamasikan oleh HWPL di bawah semboyan ‘Mari Mewariskan Perdamaian untuk Generasi Mendatang. []

Comment

Rekomendasi Berita