by

Din Syamsuddin: Aliansi Rusia-Dunia Islam Bisa Jadi Model Kemitraan Positif

Prof. DR. Din Syamsuddin.[dok/radarindonesianews.com]
RADARINDONESIANEWS.COM, GROZNY CITY  – Mantan Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan, Aliansi Strategis Rusia-Dunia Islam dapat menjadi model kemitraan dan kerjasama yang positif untuk membangun peradaban dunia baru. Sebuah peradaban yang berkemajuan, berkeadilan dan berkeadaban.

Demikian salah satu pokok pidato Din Syamsuddin pada Sidang Kelompok Visi Strategis Russia-Dunia Islam (Group for Strategic Vision “Russia-Islamic World”) di Grozny City, Federasi Russia, Rabu (17/5/2017), seperti yang disampaikan Din pada Menara62.com di Jakarta, Kamis (18/5/2017) malam.

Din Syamsuddin pada Sidang Kelompok Visi Strategis Rusia-Dunia Islam (Group for Strategic Vision “Russia-Islamic World”) di Grozny City, Federasi Rusia, Rabu (17/5/2017)

Din Syamsuddin yang menjadi anggota Kelompok ini sejak 2007 ini menjelaskan, dunia pasca Perang Dingin memang membawa ketakpastian. Kedua tesis The End of History Fukuyama dan tesis The Clash of Civilization Huntington memang terjadi, namun mendorong konvergensi. Sayangnya, konvergensi itu tidak berwajah positif terhadap Dunia Islam sebagai pilar penting peradaban dunia.

“Yang terjadi justeru “permusuhan” terhadap Islam baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti adanya Proxy War antara sesama negara Islam,” ujarnya.

Globalisasi, menurut Din, yang semula dimaksudkan untuk adanya keadaan monolitik dalam bidang politik dan ekonomi yang bersifat liberalistik, justru membangkitkan negara-negara lain, yang ditandai oleh kebangkitan Asia Timur. Sebagai akibatnya, negara-negara barat merasa terkalahkan sehingga membangkitkan ultra-nasionalisme seperti yang terjadi di Amerika Serikat dan beberapa negara barat.

Sayangnya, menurut Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta ini, Dunia Barat masih melihat Islam sebagai ancaman daripada mitra strategis untuk kemajuan bersama. Maka, lanjut Din, aliansi strategis Rusia-Dunia Islam merupakan alternatif positif.

“Walaupun tidak ada makan siang gratis, namun Rusia dapat mengedepankan pendekatan “kemitraan ramah Islam” (Islam friendly partnership), yang tentu saling menguntungkan,” ujar Din.

Rusia, menurut Din, memerlukan Dunia Islam terutama untuk dukungan politik dan kerjasama ekonomi, Dunia Islam pun dapat memanfaatkan kekuatan Rusia yang masih menyisakan keunggulan iptek dan juga ekonomi. Maka, jika aliansi strategis Rusia-Dunia Islam dapat mengubah visi strategis ke dalam aksi-aksi strategis, tidak mustahil akan ikut mendukung terwujudnya tatanan dunia baru yang damai, adil dan sejahtera.

Pertemuan Kelompok tersebut, dihadiri oleh Presiden Republik Tatarstan Rustam Minikhanov sebagai Ketua Kelompok, Presiden Checnya Ramadan Kadirov sebagai Tuan Rumah, sejumlah tokoh Federasi Rusia, dan tokoh dari berbagai negara Muslim.[menara62]

Comment

Rekomendasi Berita