by

JIMI: Melawan Ahok Bakal Kena Libas

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Jaringan Intelektual Muda Islam (JIMI) menilai setiap aktor yang
mendukung Aksi Bela Islam (ABI) bakal dijadikan tersangka atau minimal
akan tercoreng namanya dengan kasus akal-akalan atau rekayasa. Teranyar
kita saksikan muncul nama Amien Rais yang dikaitkan dengan kasus dana
Alkes.
“Sebelumnya kita juga sudah saksikan beberapa pimpinan aksi ABI
dipanggil pihak kepolisian dengan tidak jelas pasal pelanggaran hukum.
Investigasi JIMI ketika mengunjungi tersangka Makar, Ratna Sarumpaet pun
menemukan kesimpulan yang sama,” kata Kepala Bidang Sosial Politik
JIMI, Muammar melalui rilisnya, Sabtu (2/6).
Muammar mengungkapkan, Ratna Sarumpaet yang dijadikan tersangka kasus makar hingga kini tidak terbukti.
“JIMI menemukan fakta bahwa Ratna Sarumpaet akan menjadi orator dalam
ABI 212. Hal itu yang dijadikan dalil pihak kepolisian,” ungkap
Muammar.
Ia mengatakan, dalil yang lemah itu menurut dugaan pihaknya,
merupakan langkah rezim untuk mencoreng nama aktor-aktor yang mensupport
ABI. JIMI menilai rezim saat ini semakin panik, semakin tidak elegan
dan tidak realistis sehingga asal saja dalam penetapan seseorang sebagai
tersangka.
“JIMI dapat menyimpulkan, siapapun yang melawan atau menganggu Ahok akan berhadapan dengan hukum, akan dilibas,” tukasnya.
Muammar juga mengatakan, sederetan nama tokoh nasional telah
merasakan hal itu, bahkan ulama dijadikan tersangka untuk kasus yang
diduga direkayasa Ahokers melalui website anonim.
“Tokoh nasional Sri Bintang Pamungkas, Rizal Ramli, Ahmad Dhani,
bahkan cawagub terpilih Sandiaga Uno merupakan deretan tokoh yang telah
merasakan bagaimana rezim saat ini sangat berpihak pada Ahok. Sri
Bintang Pamungkas bahkan sempat mendekam dipenjara selama 75 hari hingga
akhirnya dilepas karena tidak terbukti akan melakukan makar,” urai
Muammar.
Selanjutnya, JIMI menyayangkan cara-cara yang dilakukan pihak
kepolisian yang menangkap tanpa bukti kemudian tidak meminta maaf maupun
diproses secara hukum, padahal tindakan itu telah mencoreng nama baik
orang lain. Untuk itu, JIMI berharap aparat penegak hukum dapat bersama
rakyat bukan menjadi musuh bagi rakyatnya sendiri.
“Saat ini demokrasi kita seperti rezim otoriter, rezim yang tidak
menghormati hukum dan malah menggunakan hukum untuk menghabisi
lawan-lawan politiknya. JIMI sangat menghimbau kepada tokoh-tokoh
politik dan ulama yang cinta tanah air bersatu untuk mengambil alih
kekuasaan,” tutur Muammar. 
Pada akhirnya, JIMI memandang tak perlu menunggu 2019 untuk memperbaiki kondisi negara.
“Semoga para patriot bangsa masih ada, ulama jangan hanya dakwah
fiqih namun sudah saatnya bersama umat bergerak lebih maju guna
menyelamatkan bangsa dan negara ini,” pungkasnya. (ls)

Comment

Rekomendasi Berita