by

*Husna Haryanti,S.Ei: Khadijah Binti Khuwailid Pengusaha Yang Dirindu Syurga

Husna Haryanti,S.Ei
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Siapa yang tidak kenal dengan sosoknya? Iya ,beliau adalah wanita suci dan terhormat , junjungan kaum Quraisy dan wanita diseluruh dunia pada masa itu : Khadijah binti Khuwailid ibn Asad ibn Abdil Uzza ibn Qushay ibn Kilab ibn Murrah ibn Ka’b Lu’ay ibn Ghilab. Ibunya bernama Fathimah binti Za’idah ibn Asham ibn Asham ibn Rawahah. Khadijah lahir dari keluarga yang terhormat dan terpandang, sekitar lima belas tahun sebelum tahun gajah (68 SM). Beliau tumbuh di keluarga yang terhormat hingga menjelma menjadi sosok yang cerdas dan agung. Tidak heran, jika Khadijah menjadi perhatian pembesar Quraisy. Dengan kecerdasannya itu khadijah berhasil mengurus perniagaan hingga menjelma menjadi sosok pengusaha wanita yang kaya raya.
Kisah Khadijah bersama syurga berawal dari keislaman beliau ditangan suaminya, Rasululloh Muhammad SAW. Sehingga beliau mendapatkan keberuntungan yang sangat besar yakni sebagai wanita pertama yang beriman atas kerasulan Muhammad. Namun dibalik itu semua terdapat peran yang luar biasa yang telah ditorehkan kadijah dalam sejarah awal perjuangan Islam. Tidak hanya waktu dan fikiran beliau yang telah dicurahkan untuk mendudkung dakwah rasululloh tetapi Wanita yang dikenal sebagai sosok yang hartawan sekaligus dermawan ini juga telah membelanjakan hartanya untuk melindungi dakwah Rasululloh.
Disaat ujian datang bertubi-tubi menimpa orang-orang yang lemah , apa yang diperbuat khadijah ? bagimana khadijah menyelesaikan permasalahan mereka yang tertindas, lari membawa agama mereka dari kekerasan orang kafir dan kedzaliman mereka? Maka beliaupun mengulurkan tangannya kepada orang-orang lemah itu dengan memberikan hartanya setelah orang kafir itu mengusir dan menghalangi pekerjaan mereka. Belaupun memerdekakan para budak yang mengalami penyiksaan sadis, karena membuang berhala-berhala mereka dan mengatakan Rabb mereka adalah Allah. Ia juga menolong orang-orang yang dizalimi dan memberi makan orang yang lapar. Sedangkan rumahnya telah menjadi tempat berlindung orang yang ketakutan dan mendapat kesusahan, didalamnya tersedia makanan bagi orang yang lapar dan menjadi tempat tinggal bagi orang yang terusir. 
Pengorbanan khadijah tidaklah main-main. pernah suatu ketika dia meneteskan air mata kemudian Rasululloh berkata, adakah engkau menyesal bersuamikan aku Muhammad? “ wahai suamiku. Wahai nabi Allah. Bukan itu yang kutangiskan.” Jawab khadijah. “ dahulu aku memiliki kemuliaan, kemuliaan itu telah aku serahkan pada Allah dan Rasulnya. Dahulu aku bangsawan, kebangsawanan itu telah aku serahkan pada Allah dan Rasulnya. Dahulu aku memiliki kekayaan dan kekayaan itu telah aku serahkan pada Allah dan rasulnya. “wahai Rasululloh. Sekarang aku tidak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasululloh. Sekiranya nanti aku mati seangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekirannya engkau hendak menyeberang sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyebrang sungai namun engkau tidak memperoleh rakit pun atau jembatan. “ maka galilah lubang kuburku, ambilah tulang belulangku. Jadikanlah jembatan untuk engkau menyebrangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu.
Khadijah wafat pada hari ke-11 bulan Ramadhan tahun ke-10 kenabian, 3 tahun sebelum Rasululloh hijrah ke Madinah saat usia beliau 65 tahun dan rasululloh 50 tahun. Diriwayatkan, ketika khadijah sakit menjelang ajal, khadijah berkata kepada Rasululloh SAW, “daku mohon maaf kepadamu, Ya Rasululloh, kalau aku sebagai istrimu belum berbakti padamu”. “ jauh dari itu ya Khadijah. Engkau telah mendukung dakwah Islam sepenuhnya”. Jawab Rasululloh.”. kemudian khadijah memanggil Fatimah Az Zahra dan berbisik, “wahai putriku, aku yakin ajalku segera tiba, yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, aku malu dan takut memintanya sendiri, agar beliau memberikan serbannya yang biasa untuk menerima wahyu agar dijadikan kain kafanku”. Mendengar itu rasululloh berkata, “wahai khadijah, Allah mengirimkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di syurga”. bahkan diakhir hayatnya khadijah hanya mengenakan pakaian dengan 83 tambalan, yang sebagiannya ditambal dengan kulit kayu, khadijah pun menghembuskan nafas terakhir dipangkuan Rasululloh. Saat itu malaikat jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa 5 kain kafan. Rasululloh menjawab salam jibril dan bertanya, untuk siapa kain kafan itu, ya jibril ? kafan ini untuk khadijah, untuk engkau, untuk Fatimah, Ali dan Hasan jawab jibril… (sebagaimana dikisahkan dalam kitab Al Busyro, yang ditulis sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliky al Hasani).
Alangkah mulianya perbuatan beliau, yang telah dibukakan hatinya utuk menolong perjuangan Islam dimasa awal penyebarannya semasa beliau hidup hingga wafatnya. Wajar jika Rabb semesta alam menyampaikan kabar gembira ketika malaikat jibril mendatangi Rsululloh : “ sampaikanlah kabar gembira kepada Khadijah bahwa dia akan mendapatkan rumah terbuat dari mutiara yang dilubangi di syurga yang didalamnya tidak ada kegaduhan dan kepenatan”. (HR. Ahmad: 4/355, dan Al Bukhori di dalam kitab : Al-Fadhail, bab Tazwiju Khadijah). Masya’allah inilah balasan bagi orang yang bersungguh-sungguh dengan jiwa dan hartanya.
Sungguh beliau adalah teladan yang harus dijadikan panutan khususnya untuk para muslimah zaman now, yang sering kali memunculkan ironi. Mereka mencurahkan banyak waktunya diranah publik dengan alasan pemberdayaan ekonomi yang sejatinya hanyalah sebuah kedok untuk aktualisasi diri dan eksistensi. Yang justru menjadikan mereka jauh dari jalan yang diridhai Illahi. Wallahu ‘alam.[]
*Penulis adalah ibu rumah tangga dan pemerhati perempuan

Comment

Rekomendasi Berita