by

Iga Latif,S.Pd: Mereka Yang Terjebak Ironi Tuntutan Dan Pilihan.

Iga Latif, S.Pd.[dok/pribadi]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Sebuah kontradiksi menggelikan antara tuntutan yang digembor-gemborkan dengan pilihan kehidupan yang dijalani. Kaum feminis begitu gigih menggugat kesetaraan gender di momen Women’s March yang baru saja berlalu.

Pawai mengusung ide utama kesetaraan gender yang diselenggarakan di berbagai negara dengan tujuan memperoleh banyak dukungan dari berbagai kalangan ini juga diselenggarakan di Indonesia.

Slogan dan jargon yang memuat ide utama mereka pun menyeruak serentak memenuhi headline media pasca-acara tersebut. Tolak Eksploitasi Perempuan! Tolak upah minimum bagi pekerja perempuan! Stop kejahatan seksual pada perempuan!. Dan masih banyak slogan-slogan lain yang berseliweran pada pawai itu.

Sepintas terlihat sangat menggiurkan. Begitu menjamin kesejahteraan dan kebebasan kaum perempuan. Sungguh perempuan akan berada di tingkat kenikmatan tertinggi jika semua itu benar-benar terwujud. Lebih tepatnya sangat menggiurkan bagi kaum perempuan yang dalam benaknya telah terdoktrin pemikiran berlandaskan kebebasan mutlak. Kebebasan tanpa aturan.

Namun keberadaan ide yang diusung tersebut, alih-alih menyelamatkan perempuan dari kubangan eksploitasi dan kesetaraan justru membenamkan perempuan ke lubang yang sama bahkan lebih dalam.

Label wanita karir yang sepintas terlihat menjamin kesejahteraan dan terpenuhinya standar kehidupan, justru menjebak kaum perempuan dalam jam kerja yang jauh dari kata wajar. Hal paling ironis adalah aturan agama pun mulai diotak-atik sesuai keinginan para pegiat ide kesetaraan ini dengan slogan “Auratku Otoritasku”. 

Mereka tidak sadar, apa yang mereka suarakan justru menenggelamkan mereka dalam jurang pelecehan dan kekerasan pada perempuan. Ironis bukan? Menanam keburukan namun berharap menuai kebaikan. Suatu hal yang sangat mustahil terjadi dan ini tentu bak jauh panggang dari api.

Jauh sebelum semua ini terjadi, selama 13 abad lamanya Islam berhasil mengangkat martabat perempuan dengan begitu agungnya. Perempuan tidaklah layak dijadikan korban dalam suatu peradaban. Sebaliknya perempuan merupakan penyangga peradaban yang bahkan memilik andil begitu besar dalam keberlangsungan sebuah peradaban.

Stigma negatif yang diserukan kaum pegiat kesetaraan perempuan tentang Islam yang mengekang kebebasan perempuan dalam berekspresi sungguh tak beralasan. Justru Islam memuliakan perempuan dengan aturan-aturannya. Islam tidak akan membiarkan perempuan dilecehkan karena dengan sengaja mengumbar auratnya di depan lawan jenis. Islam juga menindak tegas para pelaku kekerasan pada perempuan.

Islam mengatur perempuan berdasarkan fitrahnya. Mengarahkan perempuan untuk berkontribusi dalam kemajuan peradaban sesuai dengan fitrahnya. Islam tidak akan membiarkan begitu saja perempuan terbius kesibukan dunia kerja sementara tugas utamanya menyiapkan generasi penerus terbengkalai.

Maka hukum mana yang engkau kehendaki selain hukum Allah? Bukankah telah nyata Allah menunjukkan tanda-tanda kebesaranNya?. Wallahu a’lam bi shawab.

Comment

Rekomendasi Berita