by

Al Habib Ali Zainal Abidin bin Abu Bakar  Al-Hamid: Merajut Ukhuwah Dalam Perbedaan

Ilustrasi ukhuwah.[Hidayatullah]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Orang yang Beriman ialah yang Memakmurkan Rumah Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa.  Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallaahu ‘Anhu, Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : 
إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَعْتَادُ الْمَسَاجِدَ فَاشْهَدُوا لَهُ بِالإِيمَانِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى (إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ) الآيَةَ
“Apabila kalian Melihat Seseorang biasa ke Masjid, maka Saksikanlah bahwa ia Beriman. Allaah Ta’aalaa berfirman, Orang yang Memakmurkan Masjid-Masjid Allaah adalah Orang yang Beriman kepada Allaah dan Hari Akhir.” 
(HR. Ibnu Majah No. 802 dan Tirmidzi No. 3093)
Dengan Dalil dan Bukti bahwasanya Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman : 
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِين
“Hanya yang Memakmurkan Masjid-Masjid Allaah ialah Orang-Orang yang Beriman kepada Allaah dan Hari Kemudian, serta tetap Mendirikan Shalat, Menunaikan Zakat dan tidak Takut (kepada siapapun) selain kepada Allaah, maka merekalah Orang-Orang yang Diharapkan termasuk Golongan Orang-Orang yang Mendapat Petunjuk.” (Q.S. At-Taubah : 18)
Maka di sini Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa Mengakui Keimanan Seseorang dengan Bukti Memakmurkan Rumah Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. Mudah-mudahan Majelis kita pada Malam Hari ini Memakmurkan Rumah Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, dicatat oleh Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa sebagai Golongan Orang-Orang yang Beriman. 
Dikatakan Arti Iman ini oleh Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa sampai Hari kita Berjumpa dengan Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. Aamiin Allaahumma Aamiin. 
Hadirin wal Hadirat yang dirahmati oleh Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa Menciptakan Manusia demi Tujuan untuk Mengabdi dan Beribadah kepada Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, dan itu adalah Ikatan Janji dan Sumpah yang telah kita semua ambil daripada Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, hanya ingin Menyembah kepada Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dan tidak Menyekutukan Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. 
Ketika Tuhanmu Muhammad mengerluarkan daripada Sulbi Nabi Adam ‘Alaihis Sallam dan Dzurriyat Anak Adam. Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa mengambil Janji dan Sumpah. Bukankah Aku Tuhamu? Semua Dzurriyah Adam dan kita termasuk ke dalam Golongan mereka mengataka iya kami Bersumpah. 
Tapi ramai daripada kamu nanti akan mengatakan kami Lalai. Berdasarkan Janji tersebut untuk Mengabdi kepada Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dan tidak Menyekutukan siapapun itulah Amalan yang bermula dari Mukallaf. 
Tidak diutus Nabi dan Rasul oleh Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa melainkan untuk mengembalikan Janji mereka kepada Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. Manusia dulunya adalah satu Ummat, satu Visi. Bumi dulunya dihuni oleh Orang Beriman kemudian berlalu menjadi muncul Kekufuran setalah 10 Kurun Zaman. 
Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa Mengutus Para Nabi untuk Menyampaikan Berita Gembira dan Peringatan. Nabi memiliki Agenda Utama untuk membuat Manusia Menyembah Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. Baginda Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam Memperjuangkan Agama ini mendapatkan banyak Tawaran untuk Berhenti. Yang Pertama kali ikut Perjuangan Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah Anak Muda. 
Berjalannya Dakwah selama 23 Tahun oleh Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah Kuncinya Anak-Anak Muda bersama Imam mereka. Di dalam Berdakwah Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam ditawarkan berhenti, ada yang Menawarkan Harta, ada yang Menawarkan Tahta. Namun Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam hanya menginginkan kalian mengucapkan Kalimat : 
أَ شْـــهَــدُ اَنْ لاَ إِ لـــــهَ إِ لاَّ الـلّــــــــــــهُ وَ أَ شْــهَــدُ أَنَّ مُحَـــمَّـــدً ا رَّ سُــوْ لُ الـلّـــــــــهُ
Ini bukan sekedar Kalimat, tapi Penyerahan Diri kepada Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. Dalam Pola Pikir kita semuanya diserahkan kepada Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. Tidak ada yang Sah disembah selain Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. Kaum Musyrikin yang mengetahui Arti Kalimat ini tidak mau Menyembah Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa karena mengikuti Hawa Nafsu mereka. Tidak ada Kompetisi untuk Menyaingi Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, tetapi karena Ambisi Hawa Nafsu untuk diikuti, padahal yang Berhak diikuti hanyalah Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. 
Hawa Nafsu banyak yang diikuti hingga menjadi Tuhan. Tentang Kedudukan Hawa Nafsu dalam Q.S. An-Naziat yang berbunyi barang siapa yang menginginkan Surga, Patuh kepada Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. Apa Buktinya? Mencegah Dirinya dari Keinginan Hawa Nafsunya. Lihatlah bagaimana Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa Memposisikan Hawa Nafsu dalam Ayat ini. Kalau Hawa Nafsu tidak dirawat akan Menyaingi Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. 
Hati-hatilah kamu terhadap Hawa Nafsu kamu, sesungguhnya Hawa Nafsu lebih Dahsyat daripada 70 Godaan Setan. Maka Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa menempatkan Hawa Nafsu sesuai Tempatnya. Walaupun punya Ilmu akan Tersesat bila Mengikuti Hawa Nafsu, Halal Haram tidak dipedulikan. Kesempurnaan Iman kita dilihat dari Hawa Nafsu kita mau Patuh 
apa tidak terhadap Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. 
Tidaklah Sempurna Iman bila tidak bisa Mengendalikan Hawa Nafsu. Tinggalkan Hawa Nafsu, maka anda Orang-Orang Beriman. Demikian Para Sahabat Dididik oleh Baginda Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, itulah Bukti Penyerahan Diri kepada Baginda Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam. Semuanya diserahkan kepada Baginda Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam. Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam lebih diutamakan daripada Orang Beriman melebihi Diri mereka sendiri. 
Kalau tidak sesuai dengan Akal Pikiran mereka diserahkan kepada Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam. Benar Agama ini Menghormati Akal. Akal bagian untuk Tafakur. Perjalanan Manusia dalam Ibadah adalah Ibadah Tafakur. Ibadah Tafakur memang menggunakan Akal tapi Akal tidak bisa dibiarkan semaunya. 
ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻣَﺎ ﺧَﻠَﻘْﺖَ ﻫَﺬﺍ ﺑَﺎﻃِﻼً ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﻓَﻘِﻨَﺎ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ
“Wahai Tuhan kami, tidaklah Kau Ciptakan ini sia-sia, Maha Suci Engkau, jauhkanlah kami dari Adzab Neraka.” (Q.S. Ali-Imran : 191)
Ayat ini dibiasakan dibaca oleh Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam sehabis Bangun Tidur. Suatu Hari Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam Menangis saat menuju ke Masjid, lalu ditanya oleh Bilal bin Rabah kenapa engkau Menangis? Bagaimana aku tidak Menangis sebab Semalam Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa turunkan Ayat yang kalau dibaca tidak Tafakur akan Celaka. 
Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa Menceritakan Golongan Orang di Akhir Zaman yang Membaca namun tidak Mendalami. Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam ketika ditanya oleh Bilal bin Rabah, Beliau berkata Orang yang Membaca tidak Tafakur. Ayatnya yang tadi saya baca. Bukan hanya Berdzikir, tapi juga Tafakur akan Penciptaan Makhluk Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. Bertafakur kepada Dzat akan Mustahil. 
Akal Pikiran Manusia itu Terbatas. Orang boleh Berpikir Pergi ke Angkasa. Setiap Khayalan yang kita Pikirkan tidak keluar dari Koridor Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa yang tidak Terbatas. Bagaimanakah Bertafakur dengan Alat yang Terbatas? Hardisk itu kalau Ukurannya ada 20 GB dan Isinya lebih dari itu gak akan Muat. 
Sayyidina Ali Berkata : 
“Ketika Manusia tidak mampu Memahami Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, Hakekatnya hanya Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa yang mampu Memahami.”
Akal walaupun menjadi Wasilah untuk Tafakur memiliki Batasan yang tidak boleh keluar dari Syari’at. Syari’at didahulukan. Artinya kita Memerdekakan Akal. Para Scientist mengajarkan Apa yang bisa diterima oleh Akal diterima, namun Agama kita tidak Mengajarkan demikian. Kalau kita memiliki Akal lain pada Iman.
Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam pada Tahun ke-10 Kenabian pergi Isra’ dan Mi’raj. Ketika itu ada Abu Jahal yang suka timbulkan Isu yang membuat Orang Sibuk dengan Isu tersebut. Kita Ummat Islam tidak boleh dipermainkan oleh Isu. Tapi ada saja Orang Kerjaannya seperti Abu Jahal yang sering membuat Isu. 
Apa kata Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam? Semalam saya Pergi ke Baitul Maqdis. Semalam kau balik dan Pergi? Iya. Kata Abu Jahal Ini Peluang untuk membuat Sensasi. Kata Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, apa yang harus disembunyikan atas Kebenaran yang ada. Ketika Abu Jahal Menceritakan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq bahwa Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam pergi ke Baitul Maqdis dalam Semalam. Lalu kata Abu Jahal mari kita Ukur dengan Akal. Kata Abu Bakar Ash-Shiddiq apa yang datang dari Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dan Rasul-Nya pasti Benar meski tidak masuk diakal. Kita mungkin Pergi ke Baitul Maqdis naik Mobil beberapa Hari. Yang buat Teknologi kan Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa juga. 
Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman : 
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ 
“Sesungguhnya Urusan-Nya apabila Dia Menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, Jadilah! Maka jadilah ia.”
(Q.S. Yaasiiin : 82)
Suatu ketika Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam Safar bersama Para Sahabat dan dihidangkan Kaki Kambing. Beliau sangat suka Kaki Kambing, dan Beliau mengatakan Berikan kepadaku. Bagi lagi. Lalu habis sampai minta yang ketiga kalinya. Dua-duanya sudah dimakan oleh Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam. Lalu kata Pelayannya kan sudah engkau makan keduanya. Kata Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam ambillah nanti akan ada. Begitu diambil ternyata ada lagi. Maa Syaa Allaah mungkin tidak bisa diterima oleh Akal kita, tapi di sini Iman yang Berbicara. 
Oleh sebab demikian pentingnya Menyandingkan Akal dan Iman. Di saat Akal tidak mampu Mempercayai apa yang datang dari Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dan Rasul-Nya, maka Tugas Iman Mempercayainya. 
Hadirin Hadirat yang dirahmati Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, dalam Ayat yang saya bacakan tadi Ummat ini mempunyai Kekuatan Persaudaraan dan Persahabatan. Tidaklah Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa Mengutus suatu Rasul melainkan untuk Menyatukan kembali. Perpecahan, Perselisihan, Permusuhan adalah Petaka yang paling Besar yang dialami oleh suatu Masyarakat. 
Misi Terbesar Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam ketika sampai di Kota Madinah adalah Menyatukan Ummat Islam antara Kaum Muhajirin dan Kaum Ashar. 
Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman : 
وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Dan Berpeganglah kamu semuanya kepada Tali (Agama) Allaah, dan janganlah kamu Bercerai Berai, dan ingatlah akan Nikmat Allaah kepadamu ketika kamu dahulu (Masa Jahiliyah) Bermusuh-Musuhan, maka Allaah Mempersatukan Hatimu, lalu menjadilah kamu karena Nikmat Allaah, Orang-Orang yang Bersaudara; dan kamu telah berada di Tepi Jurang Neraka, lalu Allaah Menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allaah Menerangkan Ayat-Ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat Petunjuk.”
(Q.S. Ali-Imran : 103)
Berpeganglah kamu kepada Tali Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. Dikatakan Tali Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa itu Islam. Iya. Dikatakan Tali Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa itu Al-Qur’an. Iya. Dikatakan Tali Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa itu Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam. Iya. Ingatlah Nikmat Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa kepadamu. Apa Nikmat Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa kepadamu? Dahulunya kamu Bermusuhan lalu Bersaudara. Nikmat Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa Islam iya, Al-Qur’an iya, Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam iya. Oleh karena Nikmat yang paling Besar adalah Persatuan lawannya adalah Perselisihan.
Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa Melarang kita untuk Berselisih. Akan dicabut Pertolongan Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa kepada yang Berselisih. 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً)
“Wahai Orang-Orang yang Beriman! Taatlah kepada Allaah dan Taatlah kepada Rasul, serta Ulil Amri di antara kalian. Jika kalian Berselisih dalam suatu Hal, maka kembalikanlah kepada Allaah dan Rasul-Nya. Jika kalian benar-benar Beriman kepada Allaah dan Hari Akhir. Yang demikian itu lebih Utama (bagimu) dan lebih Baik Akibatnya.” (Q.S. An-Nisa : 59)
Di dalam kita Hidup Bersatu dan Bersaudara, di saat kita dilarang untuk Berselisih bukan berarti kita tidak boleh beda Pendapat. Karena adalah Hal yang Mustahil menyatukan Ide semua Orang menjadi satu. Otomatis Cara Memahami adalah berbeda. Cukuplah menjadi Contoh Para Sahabat Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam mereka di saat bersamaan Bersaudara namun berbeda Pendapat. Tidak ada yang bisa Menggagalkan Hubungan Persaudaraan mereka. 
Ada satu Buku yang ditulis oleh Imam Suyuti tentang Kritikan Aisyah kepada Para Sahabat akan suatu Permasalahan, namun tetap Bersaudara. Perselisihan ini masih menjadi yang dibolehkan. Perselisihan yang diperbolehkan tidak Memutus Tali Silaturrahim. 
Suatu ketika Sahabat Meriwayatkan Hadits bahwa tidak Sah Shalat di depan Anjing, Keledai, Perempuan yang Berbaring. Kata Aisyah yang saat itu sedang Berbaring dan Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam Shalat dikiranya, lalu atas Hujjah Sahabat tadi Aisyah berkata, dikira saya Keledai? Berapa banyak Perbedaan Pendapat di antara mereka tidak Memutuskan Tali Silaturrahim. 
Berbeda Orang yang Berbeda Pendapat tapi tidak Memusuhi dengan yang Memusuhi. Musibah paling Besar adalah saat Orang merasa paling Benar. 
Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : 
“Kalau kamu Melihat Orang Bakhil menjadi ikutan, Orang yang menjadikan Hawa Nafsunya sebagai Panutan, Dunia yang diutamakan, dan Pendapat yang paling Benar.”
Kalau 4 ini Berlaku kepadamu, maka Selamatkan Dirimu karena akan terjadi Fitnah yang Besar. Merasa Diri paling Benar sudah terjadi dulu dimulai oleh Fir’aun. Fir’aun Mengajak Musyawarah mengatakan yang satu Dibunuh, yang satu tidak, lalu dikatakan Pendapatnya paling Benar. Ia merasa paling Benar. Sulit untuk Memahami, tapi kalau merasa paling Benar adalah Musibah. 
Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata : 
“Seandainya Bodoh adalah Makhluk akan saya Sembelih dia. Sayangnya ini Sifat.”
Bila ‘Ulama Meninggal, maka Ilmu akan Pergi bersamanya. Kita punya Handphone yang bisa Menyimpan banyak File. Kalau Ilmu hanya dalam Kitab, maka ‘Ulama Meninggal gak Masalah, tapi Masalahnya Ilmu ada pada ‘Ulama. Sekarang banyak yang mengambil Rujukan kepada Syekh Google. Saya tidak Melarang mengambil Rujukan dari sana, tapi tidak boleh 100%. Jangan apa saja diambil dari Internet. Kalau saya misalkan Dokter Gigi mau buka Praktek tapi mengambil Ilmunya dari Syekh Google akan Ngaco. Kita tidak boleh sembarang mengambil Sumber Ilmu. 
Dengan demikian Falsafah yang digunakan oleh Fir’aun adalah merasa paling Benar. Pendapat saya, saya Rasa Benar, tapi mungkin Salah bagi Orang lain. Pendapat saya mungkin Salah, tapi Benar bagi Orang lain. Kalau Fir’aun merasa paling Benar. Kita tidak boleh Menyatakan Diri Pendapat yang paling Benar dan Menyalahkan Orang lain. 
Baginda Rasulullaah Shallallaahu 
‘Alaihi Wa Sallam sering Bermusyawarah bahkan terkadang mengambil Pendapat yang lain dibanding Pendapatnya sendiri. Ketika Perang Badar dikatakan oleh Sahabat apakah ini suatu Strategi apa bukan? Ini suatu Strategi. Konsep Musyawarah ini Subur di Zaman Nabi Muhammad Shallallaahu 
‘Alaihi Wa Sallam, dan klta diperintahkan untuk Bermusyawarah. Bermusyawarah dengan siapa Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam? Dengan Sahabatnya. 
Pernah suatu ketika saat menuju Bani Quraizhah Nabi Muhammad Shallallaahu 
‘Alaihi Wa Sallam bilang jangan Shalat 
sebelum sampai ke sana. Namun ada yang Shalat dan ada yang tidak sebelum sampai ke sana. Keduanya tidak disalahkan, keduanya berusaha mengerti maksud Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam. Ini yang kita perlukan di Masyarakat selama itu Wajar dan tidak Memutus Tali Silaturrahim. Silahkan berbeda tapi jangan Memutus Tali 
Silaturrahim. 
Dahulu di Mesir terjadi Perdebatan tentang Jumlah Raka’at Shalat Tarawih. Ada yang mengatakan 11 dan 23. Lalu dipanggillah Hakim. Ditanya apa Hukum Shalat Tarawih? Sunnah. Apa Hukum Bersaudara? Wajib. Kamu itu Meninggalkan yang Wajib untuk yang Sunnah sehingga jadi Haram. Kita Fokus kepada Akarnya. Keharmonian Wujud dari Persaudaraan. Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa yang Mempersaudarakan. 
Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman : 
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Orang-Orang Beriman itu sesungguhnya Bersaudara. Sebab itu Damaikanlah (Perbaikilah Hubungan) antara kedua Saudaramu itu dan Takutlah terhadap Allaah, supaya kamu mendapat Rahmat.” 
(Q.S. Al-Hujurat : 10)
Syekh Muta’ali Asy-Sya’rawi berkata : 
“Ketika Mendamaikan dua Orang yang Berselisih, semua Orang Beriman Wajib Mendamaikan.”
Apalagi kalau 3 Orang, 1 Negeri. Itu Tanggung Jawab kita bersama. Menjadi Umpan atau menjadi satu Peluang yang empuk untuk Menghancurkan Ummat Islam adalah melalui Ikatan Persaudaraan. 
Suatu Hari Baginda Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam Bermusafir dengan Sahabat. Sampai di suatu Tempat Beristirahat dekat Sungai. Sampai Hamba Sahaya Umar bin Khaththab mengambil Ember, yang satu ngambil ke sana, yang satu ke situ. Gara-gara rebutan Ember yang satu mengatakan Berkumpullah Kaum Muhajirin, yang satu mengatakan Berkumpullah Kaum Anshar. Mereka datang dengan Emosi. Perbedaan Pendapat ini hampir Melupakan Ikatan Persaudaraan yang diikat oleh Baginda Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam. Hampir putus Hubungan Persaudaraan cuma gara-gara Ember. 
Bahaya Perselisihan bisa Memutus Ikatan Persaudaraan. Saya masih Hidup di tengah-tengah kamu, tapi kamu sudah Bangkitkan Propaganda yang merupakan Slogan Jahiliyah, maka tinggalkan itu semua. Saat itu pada Emosi sehingga tidak bisa dikuasai. Setiap Emosi mengundang Reaksi. Apa sebabnya? Disebabkan kalau Berpikir Tenang akan Benar, kalau berdasarkan Emosi Tindakannya tidak akan Benar. 
Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : 
« لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ »
“Bukanlah Orang Kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu Mengalahkan Lawannya dalam) Pergulatan (Perkelahian), tetapi tidak lain Orang Kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu Mengendalikan Dirinya ketika Marah.”
(HR. Bukhari No. 5763 dan Muslim No. 2609)
Di saat dia Marah namun bisa Mengontrol Emosinya di situlah dia Orang yang Kuat meski dia Kurus atau Gemuk. Tidak diukur dari Ukuran. Di antara Teladan Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah Sifat Santunnya mendahului Sifat Marahnya. Tidak ditantang Sifat Santunnya supaya Marah melainkan bertambah Kesantunannya. Kalau dipancing untuk Marah, Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam tambah Santun. Itu semua karena tidak Emosi. 
Maka Menyikapi Orang yang Berbeda Pendapat tidak sampai Memutus Tali Silaturrahim. Suatu ketika Orang Arab Baduy datang kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam di Masjid. Dia Kencing di sana. Sahabat Marah dan ingin Mengusir. Kata Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam biarkan. Kita ini kalau mau Jujur Mengkaji Perjalanan Dakwah Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam selama 23 Tahun akan mendapatkan Solusi dari Permasalahan kita. 
Orang Arab Baduy tadi ketika Buang Air Kecil kata Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam biarkan dan ambil satu Ember dan Siramkan. Sahabat Marah karena ia Kencing di Masjid Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam. Kata Orang Arab Baduy ini kenapa engkau Memandang aku dengan Pandangan itu? Mereka begitu karena gak tahu. Gak bisa dihukumi sama Orang yang gak tahu dengan yang tahu. Kata Rasulullaah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam ini Rumah Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa gak boleh melakukan Hal seperti tadi. Kemudian Orang Arab Baduy tadi menerima. Kemudian Orang Arab Baduy Berdo’a Ya Allaah Ampuni Dosa saya dan Muhammad yang lain jangan diampuni. Kata Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam kamu Menyempitkan sesuatu yang Luas, Do’alah untuk semuanya. 
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (Diri) Rasulullaah itu Suri Teladan yang Baik bagimu (yaitu) bagi Orang yang Mengharap (Rahmat) Allaah dan (Kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak Menyebut Allaah.” (Q.S. Al-Ahzab : 21)
Hadirin yang dirahmati Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, demikian Manhaj yang telah datang dari Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam. Terakhir Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam Mengingatkan tentang Penyakit yang Berbahaya. Penyakit ini diberitahu Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam beserta Obatnya. Tidak ada Obatnya di Apotek, hanya ada di Apotek Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam. Kata Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam kalian akan tertimpa Penyakit yang menimpa Ummat sebelumnya. Penyakit apa itu Ya Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam? Penyakit Hasad, Dengki, dan Benci. Ini Penyakit Ibaratkan Pencukur. Tapi bukan Tukang Cukur Rambut. Ini adalah Pencukur Agama. Maksudnya semua Nilai Agama akan Hilang karena Penyakit ini. Lalu Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam memberikan Obatnya. Demi Jiwaku yang ada dalam Genggamannya kamu tidak akan masuk Surga sebelum Beriman, dan tidak akan Beriman sebelum Berkasih Sayang. 
Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘Anhu, Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ
“Kalian tidak akan masuk Surga sampai kalian Beriman, dan tidak akan Sempurna Iman kalian hingga kalian saling Mencintai. Maukah aku tunjukkan kalian pada sesuatu yang jika kalian lakukan kalian akan saling Mencintai? Sebarkanlah Salam di antara kalian.” 
(HR. Muslim No. 54)
Sebarkan Salam di antara kamu dengan Assalaamu’alaikum dan tidak Merendahkan Orang lain dengan Lisan, dan Orang lain Selamat dari Jari kita saat hendak Komentar di Facebook, atau di WhatsApp, atau di Twitter, atau apapun juga. Orang lain juga Selamat daripada kita punya Tangan. Orang lain juga Selamat daripada kita punya Mata untuk dilihat ini begini Fulan, begitu Fulan, sambil Memandang dengan tidak Baik terhadap Orang-Orang yang memiliki Ikatan Persaudaraan dengan kita. Orang lain Selamat melalui Pandangan kita, Telinga kita, Lisan kita, Tangan kita, Kaki kita, dan apapun yang ada pada Tubuh kita. Bahkan Selamat dari Pikiran kita sendiri, sehingga tidak Memikirkan kepada Orang lain Hal-Hal yang Negatif. Sebarkan Salam di antara kamu, inilah sebab Keselamatan yang diberikan dan diberkahi oleh Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. 
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya Penduduk Negeri-Negeri tersebut Beriman dan Bertaqwa, pastilah Kami akan Melimpahkan kepada mereka Berkah dari Langit dan Bumi, tetapi mereka Mendustakan (Ayat-Ayat Kami) itu, maka Kami Siksa mereka disebabkan Perbuatannya.” (Q.S. Al-A’raf : 96)
Kita Berdo’a kepada Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa mudah-mudahan Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa Kuatkan Ikatan Tali Persaudaraan di antara kita, diberikan Wawasan yang Luas oleh Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa untuk saling Menghargai satu sama lain, Merekatkan Hubungan Sesama Ummat Islam yang diikat dengan Payung Laa Ilaaha Illallaah yang merupakan Misi Utama Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, dapat Mengharmonikan Hubungan Sesama In Syaa Allaah. Mudah-mudahan Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa Tambahkan dan Tingkatkan Tahapan Ilmu Pengetahuan kita agar kita supaya dapat Menghargai Ilmu Orang lain. Mudah-mudahan Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa Lindungi kita daripada Bahaya Orang-Orang Jahil yang kalau ditanya dia jawab dengan Jawaban yang Sesat dan Menyesatkan Orang lain sebagaimana Sabda Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bahwa Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa tidak akan Mencabut Ilmu, akan tetapi Ilmu akan Pergi dengan Para ‘Ulama. Kalau ‘Ulama sudah Meninggal yang tersisa Orang Bodoh yang kalau ditanya dia jawab tanpa Ilmu sehingga Sesat dan Menyesatkan Orang lain. Mudah-mudahan Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa Bimbing dan Lindungi kita dari Orang-Orang Semacam itu. Mudah-mudahan Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa Dekatkan kita kepada Para ‘Ulama yang Dekat dengan Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, diberikan Keikhlasan dalam Pengabdian kita kepada Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, Amanah yang kita ambil daripada Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa untuk Mengabdikan Diri mudah-mudahan dikekalkan oleh Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa sampai Hari kita Berjumpa dengan Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dan Mengucapkan : 
لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱلله مُحَمَّدٌ رَسُولُ ٱلله ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ
Ya Allaah Pandanglah kami dengan Pandangan Kasih Sayang. Ya Allaah Lindungilah kami dari segala Bahaya Manusia dan Jin Ya Arhamar Rahimin. Ya Arhamar Rahimin Berkahi semua yang Hadir di sini. Apa saja yang punya Hajat dan Do’a Kabulkan Ya Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. Berkahir Pengurus Masjid, semua yang Bertugas, ada bersama kita Al Habib Geys Assegaf, dan juga semua yang Hadir Para Assatidz, Assatidzah, Petugas-Petugas yang Hari ini Bertugas di Tempat ini mudah-mudahan Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa angkat Derajat mereka di Sisi Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, diterangi Hatinya dengan Cahaya Iman In Syaa Allaah, dipenuhi dengan Keikhlasan dan Mujahadah Ya Allaah, diberikan Istiqamah oleh Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, dibukakan segala Pintu Kemudahan oleh Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, digolongkan oleh Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa sebagai Golongan Orang-Orang yang Berkhidmat di Rumah Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa untuk dibalas Khidmatnya oleh Allaah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin. []

Tulisan ini adalah ceramah Al Habib Ali Zainal Abidin bin Abu Bakar Al-Hamid, Pimpinan Majelis Daarul Murtadza,  Malaysia dalam acara Tabligh Akbar di Masjid Raya Bintaro Jaya,  Jalan Maleo Raya, Bintaro Jaya Sektor 9, Tangerang Selatan.

Comment

Rekomendasi Berita