by

Shita Ummu Bisyarah: Ramadhan Bulan Perjuangan, Bulan Perubahan

Shita Ummu Bisyarah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Ramadhan bulan yang dinanti akhirnya telah kita temui dengan senang hati. Terlihat sekali berubahnya kebiasaan diri dan masyarakat sekitar. Muda mudi pergi mengaji, masjid dan mushola tak henti dengan lantunan kalam ilahi, jamaah sholat datang silih berganti, hingga iklan minuman bertebaran di layar TV.
 Ramadhan memang spesial. Sespesial bagaimana Allah memberikan ribuan bahkan jutaan bonus untuk umat Muhammad. Lihatlah bagaimana Allah melipat gandakan pahala, bahkan untuk mendapatkan pahala tanpa harus ada kendala dan gangguan lagi, yakni dengan dibelenggunya syetan ( dalam bentuk jin) yang sering membisiki dan mengganggu manusia ketika hendak taat kpada Rabbi. Dan masih banyak lagi kebaikan Allah di bulan ini. Maka sangat merugi bila Ramadhan hendak pergi namun dosa kita belum diampuni.
Dengan berlimpahnya berkah Allah saat Ramadhan maka sebagai manusia lemah dan hina harusnya kita berfikir keras bagaimana kita maksimal di bulan Ramadhan kali ini, karena belum tentu kita kan bertemu dengan Ramadhan selanjutnya. Lihat saja bagaimana Rosulullah dan para sahabat memaksimalkan amal mereka saat Ramadhan bertamu. Bahkan tak tanggung – tanggung mereka berjihad fii sabilillah dengan kondisi puasa. Sejarah mencatat kemenangan peperangan kaum muslim terjadi ketika Ramadhan. Perang Badar Al-Kubro, Fathul Mekah, Ma’rakah Buwaib, Ma’rakah Qadisiyah, Penakhlukan Andalusia, Penakhlukan India dan Pakistan dan masih banyak lagi. Semua terjadi di bulan Ramadhan.
Padahal bila dilogika dengan akal, peperangan adalah hal yang sangat sulit dilakukan saat Ramadhan, karena mereka harus menahan lapar dan haus dari fajar hingga maghrib. Dengan aktivitas fisik yang ekstrim di tengah terik yang menyengat ( di gurun lho) mereka tidak makan dan minum selama belasan jam. Bahkan hanya sahur dengan air putih dan kurma, masyaAllah. Jika bukan karena iman di dada mungkin sudah tak kuat mereka menahan rasa haus, lapar, panas yang menyiksa. Demi meraih pahala tertinggi yang didambakan setiap muslim yang bernyawa, yakni mati syahid atau hidup mulia.
Terlihat sekali bagaimana kwalitas taqwa generasi awal islam, tak diragukan sama sekali keimanan mereka. Pantas saja Allah menjamin sebagian dari mereka surga, dan memasukkan sebagian dari mereka ke dalam surga tanpa hisab. Allah juga memberikan kehidupan yang begitu mulia untuk mereka dan islam, yakni menjadi mercusuar peradaban selama 1400 tahun. Peradaban islam ( read : Khilafah) terbentang dari semenanjung Maroko hingga Merauke, membentang hingga 2/3 dunia melintasi benua dan samudra. Memberi rahmat dan cahaya kepada dunia hingga lahir jutaan ulama yang juga ilmuan pada masanya.
Jika kita melihat realita sekarang, kita dapati dengan sangat jelas fakta di hadapan mata bahwa umat muslim bagai buih di lautan. Memang jumlahnya banyak namun kwalitasnya rendahan. Penyakit wahn ( cinta dunia takut mati) menginveksi jiwa mereka hingga mereka sakit dan terpecah belah. Mereka tersekat – sekat oleh batas – batas nasionalisme, bahkan membenci sebagian yang lain karena adu domba penjajah. Islamo fobia telah berhasil meniupkan isu negative tentang islam terutama hukum – hukumnya. Berbagai propaganda yang diluncurkan oleh media arus utama berhasil mencitraburukkan islam kepada penganutnya bahkan kepada dunia. Berbagai label hingga siksaan terhadap umat muslim mulai bermuculan. Lihat saja bagaimana siksaan yang diterima oleh umat muslim di Xingjiang Cina, Rohingya, Palestina, Afganistan, Suriah, Patani, Gaza dll. Bahkan ironisnya dengan banyaknya jumlah kaum muslim tak cukup bahkan tak bisa membantu mereka. Memang benar adanya sabda rosulullah 1400 tahun lalu :  
“Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati,” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).
Beatapa miris keadaan ini. Wahai umat islam sudah saatnya kita berubah. Sudah saatnya kita sebagai umat yang mulia dipimpin oleh islam, berfikir dengan pemikiran islam dan berhukum dengan hukum islam. karena fakta membuktikan ketika kita meninggalkan islam, berkiblat kepada hukum para penjajah buatan akal manusia yang lemah dan terbatas, maka sangat layak bahwa kondisi kita bagai buih di lautan. Saatnya kita kembali kepada identitas kita sebagai seorang muslim.
Di bulan Ramadhan ini sungguhlah momentum yang pas sebagai bulan perjuangan kita untuk berubah, yakni kembali menjadi “Khoiru Ummah” ummat yang terbaik. Bagaimana caranya? Allah teah mengajarkannya dalam Al-Quran Surat Al-Imron 110
Allah Ta’ala berfirman,
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron: 110)
Lain tidak lain adalah aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar yakni dakwah. Dakwah menyerukan kepada penerapan islam secara menyeluruh. Dakwah  untuk menjadikan islam sebagai “rahmatan lil ‘alamin” rahmat bagi sluruh alam. Dengan cara yang diajarkan rosulullah SAW dengan tujuan melanjutkan kembali kehidupan islam dalam naungan khilafah ala min hajjinnubuwah yang telah dijanjikan Allah SWT. Wallahualambisowab.[]

Penulis adalah mahasiswiUGM Yogyakarta
Fakultas teknik,  prodi teknik fisika dan nuklir semester akhir

Comment

Rekomendasi untuk Anda