by

Anton Tabah: Tewasnya Bripka Rahmat Harus Diriset Mendalam Oleh Lembaga Independen

Jenderal (our)  Anton Tabah Digdoyo

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Kasus tewasnya Bripka Rahmat Efendi dibrondong tembakan oleh yuniornya Brigadir Rangga di Polsek Cimanggis Bogor, Kamis (25/7/2019) malam lalu masih diperbincangkan di masyarakat. Kenapa itu terjadi?

Dalam peristiwa ini, Redaksi meminta tanggapan  Anton Tabah, intelektual Polri yang telah menulis lebih 40 buku tentang polisi dan hukum. melalui hubungan selular, Sabtu (27/7/2019).

Menurut Anton,  kasus ini luar biasa menjadi PR Polri untuk dikaji diriset secara cermat dan sungguh -sungguh melibatkan berbagai lembaga dan universitas ternama untuk menemukan jawaban riil obyektif dan optimal.

“Klo hanya oleh polri hasilnya akan tidak optimal.” Ujar mantan jenderal ini.

Dari referensi universal tambah Anton,  Polisi itu manusia pilihan. Polisi bekerja bukan hanya utk lembaganya tapi sebuah birokrasi terdepan bangsa dan negara yang bersentuhan langsung dengan masyarakat luas, bangsa sendiri dan bangsa lain.

Karena itu PBB ikut memberi rambu-rambu bagaimana syarat menjadi polisi yang baik minimal dengan 8well+1.

– Well recruitment, sistem pencarian dan penyaringan calon polisi yang baik meliputi moral,  intelektual fisik psikis emosional stabilited yang prima.

– Well education sisdik, instruktur, silabus kurikulum yang menjawab perkembangan sosial teknologi yang dinamis.

– Well trained,  sistem pelatihannya

– Well equipment, sistem peralatan baik alat peraga di lemdik dan peralatan operasional polisi

– Well emotion,  anggota polisi wajib memiliki kemampuan kuasai emosi / stabilitas emosi yang baik

– Well brain / smart cerdas merespon tiap masalah cepat dan tepat

– Well fisikly and moral tidak amoral tidak cacat fisik mental maupun sosial

– Well pay terjamin kesejahteraan hdpnya (gaji dll)

– Well religion (ini tambahan saya) jadi anggota polri juga harus baik pemahaman dan pengamalan agamanya karena agama penting dan ada rumus dari Tuhan bahwa seseorang akan baik jika ia fahami dan laksanakan ajaran agamanya dengan baik pula.

Dari persyaratan- persyaratan PBB tersebut, bagaimana dengan Polri kita? Oknum yang main tembak tersebut jelas terindikasi tidak penuhi persyaratan polisi yang baik.

“Oknum tersebut tak layak jadi polisi juga harus dihukum berat. Tp itu tak cukup. Harus ada evaluasi total menyeluruh ke Polri demean melibatkan universitas  dan lembaga yang relevan.” Ujar mantan petinggi Polri ini.

Anton juga bertanya -tanya,  mengapa akhir-akhir ini Polri banyak masalah termasuk pelanggaran HAM berat kasus 225 di Jakarta, kasus Novel Baswedan dan masih banyak lagi kasus yang disorot dunia internasional. []

Comment

Rekomendasi Berita