by

Buddy ACe: Dokumentasi Milik Soeharto Bukan Arsip Biasa Tapi Aset Bangsa

Siti Hardijanti Rukmana

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Selama 32 tahun menjadi Presiden Republik Indonesia, Haji Mohammad Soeharto atau yang akrab disapa Pak Harto, tentu saja meninggalkan banyak catatan sejarah sepanjang karirnya sebagai presiden kedua Indonesia, dalam beragam bentuk dokumentasi, yang akhirnya oleh ahli waris, diserahkan kepada negara melalui ARNI – Arsip Nasional Republik Indonesia.

“Hari ini, saya mewakili keluarga, bersama adik saya Bambang, sebagai ahli waris, menyerahkan sejumlah dokumen penting semasa kepemimpinan Pak Harto, utamanya pidato dalam bentuk micro film dan dokumen asli lainnya,” ungkap Siti Hardijanti Rukmana, dalam sambutan pada acara penyerahan di gedung Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Cilandak Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (18/07/2019).

Banyaknya dokumentasi milik keluarga Soeharto yang diserahkan ke negara tersebut bukan sekadar arsip semata, tapi ini sekaligus asset bangsa yang tidak ternilai harganya. Saat ditanya oleh wartawan, mengenai banyak surat-surat dari anak-anak Indonesia dimasa kepemimpinan Soeharto, Tutut menuturkan bahwa, secara bertahap segala dokumentasi yang berkaitan dengan perjalanan karir politik ayahnya, akan diserahkan kepada negara sebagai sebuah asset nasional, demi menjaga kesinambungan sejarah bangsa dari satu generasi muda, ke generasi muda penerus bangsa lainnya.

“Surat-surat dari anak-anak Indonesia masa lalu, sudah pernah dibukukan sebelumnya. Jika memungkinkan akan direproduksi lagi agar bisa dibaca oleh seluruh anak-anak Indonesia masa kini,” jelas Tutut, sapaan akrab Siti Hardijanti.

Dokumentasi perjalanan karir politik Pak Harto, bukanlah arsip ini. Ini adalah asset nasional, asset bangsa Indonesia, dari masa kepemimpinannya, hingga akhirnya Pak Harto menyatakan diri mundur dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia kedua.

“Bapak bukan mundur tapi berhenti. Ini artinya, bahwa Pak Harto tidak pernah meninggalkan tugasnya, tapi setelah merasa tugasnya sudah cukup, maka beliau berhenti demi keberlangsungan pemerintahan dan menghindari konflik horizontal, sesuai dengan kehendak rakyat waktu itu,” terang Tutut yang berharap sejarah tentang ayahnya, harus jernih dan menjadi sejarah yang obyektif bagi seluruh Rakyat Indonesia.

Sebuah negara bisa besar dan maju, kata Siti Hardijanti, karena menghargai jasa pahlawannya. “Bangsa-bangsa yang pandai mengelola jejak langkah peninggalan peradabannya cenderung menjadi bangsa besar, serta unggul dibanding  bangsa lain,” ubgkap mantan Menteri Sosial Republik Indonesia Kabinet Pembangunan VII ini.

Melalui Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), pada kesempatan tersebut sejumlah dokumen diserahkan kepada Negara. Dokumen tersebut meliputi; mesin microfilm Indus 4601-11, buku Kumpulan Pidato Ibu Tien Soeharto seri 5-27, mencakup tahun 1968-1998, serta Micro film Pidato Presiden Soeharto tahun 1966-1998.

Dokumen lainnya berupa; buku ‘Pidato Presiden Soeharto’ (1966-1998), mikrofilm dan buku ‘Pidato Ibu Tien Soeharto.’ Termasuk penyerahan mikrofilm ‘Risalah Sidang Kabinet dan Deklarasi Integrasi Balibo’, yakni mendeskriptifkan tekad rakyat Timor Timur untuk bersatu dengan Indonesia. Dokumen yang diserahkan juga menyangkut sejumlah DVD dan album foto-foto jejak rekam Pak Harto.[]

Comment

Rekomendasi untuk Anda