by

Cuci Setiawati*: Keadilan Dalam Sistem Demokrasi Hanya Delusi

Cuci Setiawati

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Beberapa hari yang lalu di berbagai media dikejutkan oleh keputusan MA yang mempenjarakan Baiq Nuril terkait kasus pelecehan yang dialaminya.

Baiq dilaporkan dan terkena UU ITE karena telah merekam percakapan bosnya yang melecehkannya secara seksual.

Seharusnya pelaku tindak pelecehan seksual terjerat hukum UU NO. 23 tahun 2002 yang mengatur tindak pelecehan seksual yang menghukum pelaku selama 3-15 tahun. Namun, pada kenyataanya  hukum di negeri ini tidak memihak.

Hukum dalam sistem demokrasi hanyalah isapan jempol belaka. Demokrasi yang hanya mengabdi kepada pemilik modal, tidak memiliki standar yang jelas, serta tumpul ke atas dan tajam ke bawah, menekan yang lemah.

Demokrasi lahir dari sistem kapitalisme, sistem inilah yang digunakan penguasa untuk membungkam kebenaran. Maka, sudah jelas bahwa dalam sistem demokrasi mustahil mewujudkan keadilan hukum.

 *Kepastian Hukum Hanya Dalam Syariat Islam*

Islam adalah agama yang sempurna, bukan saja spiritual, namun juga seperangkat aturan untuk mengatur kehidupan manusia. Maka, dalam hal ini Al-Qur’an merupakan buku panduan yang terlengkap bagi umat manusia.

Karena pembuat hukum bukan manusia, Syariat Islam memiliki standar yang jelas.

Pada zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah terjadi pelecehan terhadap seorang wanita muslimah oleh seorang Yahudi dari Bani Qainuqa. Mendengar hal ini, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam marah, lantas beliau menghukum mereka dengan mengepungnya hingga mengejarnya.

Supaya hukum ditegakkan atas mereka, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak berhenti mengejar dan mengepung mereka hingga pengepungan berlangsung selama lima belas hari. Ash-Shalabi mengatakan, “Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengepung mereka hingga lima belas malam.” (As-Shalabi, Ghazwatur Rasul, hlm. 89).

Kemudian, mereka (kaum Yahudi) diasingkan dari Madinah. Dalam hal ini sudah jelas, bahwa Syariat Islam memiliki kepastian hukum dan standar yang jelas. Islam memuliakan wanita. Hanya untuk menjaga kehormatan satu wanita muslimah, Rasulullah sebagai kepala negara Daulah Islam pada saat itu langsung mengirimpakan pasukan untuk menghukum pelaku tindak pelecehan tersebut.

Tidak ada kepastian hukum dan keadilan selama masih dalam kungkungan sistem demokrasi, sistem buatan manusia yang berpihak pada pemilik kekuasaan dan alat melanggengkan kekuasaan.

Hanya dengan sistem Islam yang mampu memberikan keadilan serta kepastian hukum, yakni kembali menerapkan segenap Syariat-Nya dalam bingkai Khilafah. Wallahu a’lam bish-shawwab.[]

*Mahasiswi, Aktivis Forum Remaja Ngaji {4G}, Indonesia Tanpa Pacaran {ITP} Bekasi)

Comment

Rekomendasi Berita