by

Dian Maria Ulfa, S.Pdi*: Wujudkan Internet Layak Anak, Iklan Rokok Bukan Hal Pokok

Dian Maria ulfa, S. Pd

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) 2017 menyebut sebanyak 2-3 dari 10 anak Indonesia usia 15-19 tahun merupakan perokok aktif. Jumlah perokok usia anak (di bawah usia 18 tahun) juga meningkat dari 7,2% pada 2013 menjadi 8,8% pada 2016. Fakta yang juga mengkhawatirkan, yaitu 34,71% anak usia 5-17 tahun diketahui menghisap lebih dari 70 batang rokok perminggu (SUSENAS, 2016).
Selain itu, sekitar 33% siswa laki-laki dan 17% dari seluruh jumlah siswa di Indonesia, merokok untuk pertama kali pada usia di bawah 13 tahun, umumnya di bangku sekolah dasar (Kemenkes, 2016).

Atas dasar data tersebut, baru-baru ini Kemenkes RI melayangkan Surat pada Menkominfo terkait pemblokiran iklan rokok di internet. Menkes menilai, selama iklan rokok masih mudah di akses anak, media tersebut belum ramah anak. “Melindungi anak dari rokok merupakan salah satu upaya mewujudkan masa depan Indonesia dan dunia menjadi lebih baik.” tandas Menkes Yohana.

Sejalan dengan itu KPPAI juga menilai internet di Indonesia belum layak anak karena masih ada iklan rokok yang mudah diakses dan dilihat anak-anak. “Sebagai contoh, salah satu indikator Kabupaten/Kota Layak Anak adalah tidak ada iklan, promosi, dan sponsor rokok. Bila masih ada iklan rokok, berarti internet di Indonesia belum layak anak,” kata Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Lenny N. Rosalin saat dihubungi di Jakarta, Minggu, 23/6.

Beda Kepentingan

Berbeda dengan apa yang di ajukan oleh KPPAI dan Menkes, Ketua Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) DKI Jaya , Elwin Mok menuturkan selama ini pembatasan iklan rokok sudah diterapkan di televisi. Iklan rokok boleh ditayangkan di atas pukul 21.30 WIB. Untuk di media daring, beliau berpendapat, pembatasan penayangan iklan rokok bisa dilakukan secara lebih spesifik berdasarkan profil audiensnya.

Dilansir dari Antara, Anggota Komisi Keuangan DPR, Amir Uksara mengatakan bahwa iklan rokok diperbolehkan tayang di media apapun, termasuk internet asalkan mengikuti peraturan perundang-undangan.

“Rokok bukanlah produk yang dilarang undang-undang. Iklan dan promosi rokok adalah salah satu strategi pemasaran yang pada akhirnya memberikan penghidupan yang layak bagi kelangsungan industri rokok dan jutaan orang yang terlibat di dalamnya,” tandasnya.

Amir mengatakan, iklan rokok di internet merupakan bentuk penyampaian informasi kepada publik tentang produk tersebut. “Karena rokok adalah produk legal dari industri yang dilindungi oleh undang-undang, maka wacana pelarangan total iklan rokok di internet sangat tidak rasional dan inkonstitusional,” ujar politisi dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan itu.

Rokok Bukan Masalah Pokok

Terlepas dari semuanya pro-kontra iklan rokok, mewujudkan internet layak anak nyatanya bukan hanya membersihkan internet dari iklan rokok. Karena, pada faktanya ada banyak hal berbahaya lain yang juga sangat mudah di akses anak lewat internet.

Konten-Konten berbau porno misalnya, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise , mengatakan ada 25 ribu remaja Indonesia yang mengakses situs pornografi setiap hari. Jumlah itu, menurut beliau, diketahui dari tamu asal Thailand yang membidangi cyber crime.
Situs antipornografi Fight The New Drug bahkan menyatakan Industry Pornografi di tahun 2019 ini meningkat seiring dengan peningkatan penggunaan internet.

Psikolog Elly Risman mengatakan , ancaman pornografi saat ini merupakan bencana besar bagi masa depan bangsa, khususnya karena mayoritas menyasar anak-anak dan remaja yang menyebabkan kerusakan permanen pada otak mereka.
Elly menjelaskan, ketika seseorang melihat konten pornografi, bahkan ketika itu tidak sengaja, maka pada otak bagian belakang, akan mengeluarkan cairan dopamin yang menyebabkan kecanduan. “Lalu kenapa kalau ada orang gegar otak kita heboh banget, tapi kenapa kita tidak heboh jika anak-anak kita kecanduan pornografi?” gugat Elly.

Sebegitu menyeramkan ancaman Pornografi untuk Generasi, belum lagi Konten-Konten kekerasan dan bahkan kesyirikan yang sangat mudah juga di akses oleh anak-anak dengan internet.

Sulit diwujudkan

Internet layak anak akan sulit diwujudkan sepanjang negara mempertahankan paradigma sekuler, dimana nilai kehidupan tidak mengenal halal haram karena menjauhkan peran agama dari kehidupan.

Dengan pradigma kapitalis sekular, semua asas bergerak hanya di standarisasi oleh tolok ukur manusia yang selalu berbeda sesuai kepentingan. Tak heran dalam masalah apapun selalu berakhir dengan ketidak tuntasan karena persepsi yang berjalan masing-masing.

Ada yang bersemangat berjuang menyelamatkan generasi, ada pula yang sebaliknya.

Ada yang sangat anti terhadap konten rokok, kekerasan, pornografi dan syirik, ada juga yang sebaliknya, tak perduli semua itu merusak atau tidak, akan di lakukan selama memberikan keuntungan materi. Inilah prinsip dasar kapitalisme-sekular. Dengan Menjamin 4 (empat)pilar kebebasan, pada akhirnya tidak akan pernah memberikan solusi tuntas terhadap konsep internet ramah anak.

Hanya Islam Sebagai Solusi

Sistem islam satu-satunya sistem terbaik yang berasal dari Alkhaliq Al Mudabbir, Yang menciptakan sekaligus mengatur, Allah SWT.
Islam yang memiliki mekanisme komprehensif dalam penjagaan generasi, dan akan sangat berbeda dengan solusi manusia yang sangat terbatas.

Islam akan menjaga generasi, karena di tangan merekalah Peradaban akan di titipkan. Generasi harus ditempa agar sehat aqidah, akal, jiwa, kehormatan dan Fisiknya. Karena hanya dengan generasi dengan aqidah yang kokoh, jiwa yang bersih, Akal yang tajam dan fisik yang sehat peradaban cemerlang akan di dapat.

Dalam Islam semua elemen memiliki peran yang sangat penting dalam hal ini.
Pertama, Islam telah memberikan tanggung jawab kepada Orangtua dalam membimbing dan mendidik putra putrinya, terutama di masa-masa Usia Dini. Agar Aqidah tertanam Kuat di benak generasi. Dengan beban ini, pengawasan orang tua terhadap anak akan benar-benar membantu mewujudkan generasi Berakidah kokoh dan Tak akan terpengaruh akan isu-isu berbau syirik.

Dengan kekokohan aqidah tersebut, generasi tidak akan terkecoh dengan standar penilaian lain selain keridhaan Allah. Kekokohan Aqidah akan mampu melahirkan generasi taat syariat, sehingga mampu mengatur batasan perilaku yang boleh di lakukan dengan standar halal haram.

Kedua, berbeda dengan pola bermasyarakat Sekular yang Individualis, Islam juga memiliki mekanisme ‘Amar ma’ruf Nahyi Munkar’ ditengah masyarakat. Konsep saling mengingatkan dan mengajak pada kebajikan ini akan membentuk kontrol di tengah masyarakat. Sehingga generasi akan aman di manapun mereka berada. Karena mereka akan ‘dijaga oleh Islam’ baik di dalam maupun di luar rumah.

Ketiga, Negara Sebagai Perisai Utama. Negara, memiliki peran sangat luar biasa dalam penjagaan Generasi. Negara akan menutup semua pintu yang menyebarkan konten merusak generasi. Selain jelas mendukung tersedianya media-media belajar yang akan lebih menarik di banding game dan internet dengan segala bahayanya.

Ini tidak berarti masyarakat muslim menjadi Terbelakang dan Gaptek. Internet sangat mungkin untuk tetap ada, namun di dampingi seperangkat aturan tegas.
Dengan aturan ini, negara akan memberikan sanksi pada siapapun yang melanggar aturan syara tersebut. Scrawling di lakukan untuk setiap delik konten yang melanggar hukum syara.

Selain memberlakukan take down konten, pemberian SP sampai pada Sanski ke pemilik akun dan platform juga akan diberikan. Hukuman yang sudah tentu akan memberikan efek jera.

Semua Elemen tersebut merupakan pillar agar tak ada lagi konten-konten buruk perusak generasi.

Sudah saatnya Indonesia, negeri mayoritas muslim ini menyadari bahwa Islam adalah sistem hidup terbaik penjaga generasi. Bukan dengan demokrasi yang sangat memperumit kondisi. Wallahu’alam bish shawwab.[]

*Members Akademi Menulis Kreatif

Comment

Rekomendasi untuk Anda