by

Fitriani S.Pd*: Kasus Narkoba Seperti Fenomena Gunung Es

Fitriani, S. Pd

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Terkuaknya pengguna barang haram kian bertambah. Setelah sebelumnya dunia tanah air dihebohkan dengan kasus yang melanda artis sekaligus vokalis band Zivilia, kini komedian senior Nunung dan suaminya ikut menambah deretan artis yang terjerat narkoba.

Seperti yang dilansir dari Detiknews.com, 19/07/2019, Komedian Tri Retno Prayudati alias Nunung ditangkap Polda Metro Jaya terkait narkoba. Nunung ditangkap bersama suaminya, July Jan Sambiran, dan satu lagi, seorang pria bernama Hadi Moheriyanto. Nunung ditangkap di kediamannya di Jalan Tebet Timur, Jakarta Selatan, Jumat (19/7) siang, pukul 13.15 WIB.

Dari penangkapan itu, polisi menyita satu klip sabu 0,36 gram. Nunung bersama suami dan Hadi disebut positif menggunakan narkotika. Pengakuannya, dia menggunakan itu dalam hal pekerjaan, (meningkatkan) stamina yang bersangkutan.

Bahkan, komedian senior ini mengaku telah mengonsumsi narkoba selama 20 tahun. ( Detiknews.com, 21/07/2019).

Parahnya, narapidana narkotika ternyata telah merajai lapas di Indonesia. Tren jumlah napi terus meningkat, seiring banyaknya orang yang terjerat kasus narkoba. Seperti yang dikutip dari Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS), Sri Puguh Budi Utami menyebut jumlah penghuni lembaga pemasyarakatan (LP), dan Rutan di Indonesia mencapai 255 ribu. Jumlah itu didominasi napi kasus narkotika yakni sebanyak 115 ribu orang. ( Okezone.com, 01/02/2019 )

Sekularisme: Akar Masalah

Tentu tren barang haram di negeri mayoritas kaum muslim di dunia ini patut dipertanyakan. Mengapa bisa kasus narkoba tidak pernah mampu diberantas, bahkan makin lama semakin menjadi. Bagaikan fenomena gunung es.

Dimana fenomena ini merujuk pada kondisi penampakan puncak gunung es di atas permukaan air, yang sebenarnya merupakan bagian kecil dari bongkahan gunung es di bawah permukaan air, yang tidak tampak dan jauh lebih besar. Sama halnya dengan kasus narkoba yang terjadi di negeri ini.

Fenomena ini akrab karena mewakili kenyataannya, yakni baru segelintir orang yang terdeteksi sebagai pengguna, sementara diluar sana banyak yang masih bebas mengedarkan, mengonsumsi dan belum tertangkap. Terutama di kalangan artis yang notabenenya lebih suka mencari cara instan, jika tuntutan pekerjaan yang membuat mereka terkadang stres dan tertekan.

Hal ini sebenarnya wajar terjadi. Sebab negeri ini mengambil falsafah sekularisme ( pemisahan agama dari kehidupan) sebagai landasannya, bukan Islam. Kehidupan dunia tidak diatur dengan syariat sang pencipta alam, hingga menyebabkan banyak yang lalai akan tujuan hidup. Maka lahirlah pandangan yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup (hedonisme) dan serba-boleh (permisif). Masyarakat diubah menjadi pemburu kesenangan dan kepuasan.

Prinsipnya bukan halal-haram atau pahala-dosa, tetapi keuntungan atau kesenangan semata. Akhirnya, miras, narkoba, perzinaan, seks bebas, pelacuran, dan setumpuk pelanggaran lainnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.

Ditambah lagi dengan sistem hukum yang saat ini yang tidak datang dari Allah. Vonis mati yang diharapkan bisa menimbulkan efek jera pun justru dibatalkan oleh MA dan grasi presiden. Bandar dan pengedar narkoba yang sudah dihukum juga berpeluang mendapatkan pengurangan masa tahanan.

Parahnya lagi, mereka tetap bisa mengontrol penyebaran narkoba dari dalam penjara. Atau kembali menjadi pengedar atau pengguna ketika keluar dari tahanan. Seperti yang dialami oleh Suheri, baru 3 bulan keluar dari penjara karena kasus narkoba, ia kembali meringkuk di tahanan Mapolsek Teluknaga, Kabupaten Tangerang, Banten. Dia disangkakan kasus peredaran narkotika dengan barang bukti sebanyak 24 gram sabu. ( Merdeka.com, 25/09/2019 )

Lantas, kemana lagi kita akan menumpukan harapan agar negeri ini terbebas dari barang haram yang bernama narkoba ini. Sebab kita ketahui bersama bahwa, para ulama sepakat bahwasanya narkoba haram, baik itu ganja, opium, morfin, mariyuana, kokain, ecstasy, dan sebagainya.

Bahkan, sebagian ulama mengharamkan narkoba karena diqiyaskan dengan haramnya khamr, karena ada kesamaan illat (alasan hukum) yaitu sama-sama memabukkan (muskir).

Sebagian menyatakan haramnya narkoba bukan karena diqiyaskan dengan khamr, melainkan karena ada nash yang mengharamkan narkoba dan karena narkoba menimbulkan bahaya (dharar) bagi manusia. (Syaikh Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, juz IV, hlm. 177)

Dari Ummu Salamah r.a , ia berkata: “Rasulullah saw melarang dari segala yang memabukkan dan mufattir (yang membuat lemah)” (HR. Abu Daud no. 3686 dan Ahmad 6: 309).

Yang dimaksud mufattir, adalah zat yang menimbulkan rasa tenang/rileks (istirkha`) dan malas (tatsaqul) pada tubuh manusia. (Rawwas Qal’ahjie, Mu’jam Lughah Al Fuqoha`, hlm. 342).

Solusi Menyeluruh: Tegaknya Hukum Syari’ah dalam Setiap Aspek Kehidupan

Ketika akar masalahnya adalah pengabaian hukum Allah, baik secara keseluruhan, ataupun sebagiannya, maka solusi mendasar dan menyeluruh untuk masalah narkoba adalah dengan menerapkan hukum Allah dalam setiap aspek kehidupan. Kalau ini tidak dilakukan, sudah terbukti persoalan bukan semakin baik, namun semakin memperpanjang masalah.

Rasulullah bersabda, “Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan mereka memilih-milih apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan bencana di antara mereka.”(HR. Ibnu Majah dg sanad hasan).

Ketika syariat Islam diterapkan secara kaffah, maka peluang penyalahgunaan akan tertutup. Landasan akidah Islam mewajibkan negara membina ketakwaan warganya. Ketakwaan yang terwujud itu akan mencegah seseorang terjerumus dalam kejahatan narkoba.

Di samping itu, alasan ekonomi karena susahnya memperoleh pekerjaan atau harus menjadi tulang punggung keluarga hingga stres serta tertekan, kemudian menggunakan narkoba juga tidak akan muncul.

Sebab pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu rakyat (papan, pangan dan sandang) dan kebutuhan dasar masyarakat (pendidikan, layanan kesehatan dan keamanan) akan dijamin oleh negara. Setiap orang juga memiliki kemungkinan untuk memenuhi kebutuhan sekundernya sesuai kemampuan masing-masing.

Sebagai zat haram, siapa saja yang menggunakan, mengedarkan dan memproduksinya berarti telah melakukan jarîmah (tindakan kriminal) yang termasuk sanksi ta’zir. Pelakunya layak dijatuhi sanksi dimana bentuk, jenis dan kadar sanksi itu diserahkan kepada ijtihad Khalifah atau Qadhi, bisa sanksi diekspos, penjara, denda, jilid bahkan sampai hukuman mati dengan melihat tingkat kejahatan dan bahayanya bagi masyarakat.

Terhadap pengguna narkoba yang baru sekali, selain harus diobati/direhabilitasi oleh negara secara gratis. Jika berulang-ulang (pecandu) sanksinya bisa lebih berat. Terhadap pengedar tentu tak layak dijatuhi sanksi hukum yang ringan atau diberi keringanan. Sebab selain melakukan kejahatan narkoba mereka juga membahayakan masyarakat.

Maka sudah saatnya kita berjuang bersama kelompok dakwah Islam yang serius menginginkan penerapan syariat Islam dalam segala aspek kehidupan. Mencampakkam sistem sekularisme dan kemudian menggantinya dengan sistem Islam. Agar  masyarakat benar-benar steril dari masalah seperti narkoba. Wallahu A’lam Bissawab.[]

Comment

Rekomendasi Berita