by

Herawati HL*: Liberalisasi Film Gerogoti Generasi

Herawati HL

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Setelah film Dilan dan Kucumbu Indah Tubuhku, kini sebagian masyarakat kembali dibuat geram dengan peluncuran film Dua Garis Biru yang menuai banyak kontroversi di kancah perfilman remaja Indonesia. Terbukti dengan dibuatnya petisi yang salah satunya digagas oleh Gerakan Profesionalisme Mahasiswa Keguruan Indonesia di Change.org.

Seperti yang dilansir oleh Antaranews (13/7/2019), dari sisi BKKBN film ini dianggap menjadi media untuk menyebarkan kesadaran tentang perilaku beresiko remaja yang menjadikannya rentan mengalami pernikahan di usia dini, kehamilan yang tidak diinginkan dan terinfeksi penyakit menular seksual sehingga aborsi yang tidak aman.

Sementara itu, Gerakan Profesionalisme Mahasiswa Keguruan Indonesia menyoroti beberapa scene di trailer menunjukkan situasi pacaran remaja yang melampaui batas. Menurut mereka tontonan terebut dapat memengaruhi masyarakat, khususnya remaja untuk meniru apa yang dilakukan di film.

Meski begitu, namun ternyata respon sebagian masyarakat terutama kaula mudanya justru berbondong-bondong mendatangi bioskop untuk menyaksikan peluncuran pertama film tersebut.  Seperti yang dipost dalam akun instagram @duagarisbirufilm pada 18 Juli 2019 silam, akun ini mengumumkan bahwa film ini sudah ditonton 1.235.354 orang hanya dari seminggu penayangannya di bioskop tanah air.

Setelah mengetahui fakta, menyoroti isi film tersebut akhirnya semakin jelas untuk menyimpulkan bahwa Indonesia semakin liberal. Terlebih Iagi negara ini sudah akrab dengan kebebasan berekspresi yg dijamin oleh sistem pemerintahan demokrasi.

Negara tidak ketat mem-filter mana adegan yang patut untuk diperlihatkan, dan adegan mana yang seharusnya ditiadakan, lebih-lebih adegan itupun diperankan oleh para remaja bersama lawan mainnya. Jikalah pihak BKKBN itu mengatakan bahwa film tersebut bisa menjadi edukasi kesehatan reproduksi kepada remaja yang menontonnya, mengapa tidak dalam bentuk edukasi secara langsung? Penyuluhan misalnya, atau dengan pengajaran di instusi pendidikan.

Sorotan mengenai larisnya tiket diberbagai kota di Pulau Jawa saat penayangan perdana film tersebut, tentu menjadi keberhasilan bagi para pengusaha terkait, termasuk negara yang turut diuntungkan dari berbagai pajak yang didapatnya.
Apakah bisa dipastikan satu juta penonton di minggu pertama menjadi teredukasi untuk menjauhi pergaulan bebas, sedangkan yang dipertontonkannya adalah sesuatu yang memicu untuk melakukannya. Seperti yang dikatakan dalam teori peniruan bahwa, “Semua orang memiliki kecenderungan yang kuat untuk menandingi (menyamai atau bahkan melebihi) tindakan disekitarnya (Tarde, 1903). Alih-alih ingin menyelamatkan generasi muda, namun menjerumuskan nyatanya.

Padahal dalam pandangan Islam, film dijadikan sarana edukasi dan dakwah. Meski film hukum asalnya mubah, namun akan berubah hukumnya tergantung dari konten tontonannya. Untuk itu seharusnya pemerintah berperan penting untuk mengendalikan produksi film, yang tak hanya menjadikannya komoditas yang menguntungkan dan pada akhirnya generasi terjerumuskan.

Selain itu dalam sistem Islam, generasi muda benar-benar dipastikan teredukasi dari mulai pengasuhan orang tua di rumah, di sekolah yang berbasis aqidah Islam, dan hukum tata negara yang mampu memberikan solusi preventif yang bersifat mencegah dan kuratif yang bersifat mengatasi. Sehingga bukan HAM yang menjadi standarisasi,  namun semuanya bersandar pada wahyu Ilahi.  Oleh karena itu, hanya dengan sistem Islam lah generasi penerus bangsa akan benar-benar terselamatkan dari liberalisme yang terus menggerogoti.[]

*Aktivis Remaja Muslimah Pantura, Subang

Comment

Rekomendasi untuk Anda