by

Kartiara Rizkina Murni*: Pimpinan Dan Guru Pesantren Cabuli 15 Santrinya

Kartiara Rizkina Murni 

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA  – Bagaimana ekspresi pembaca saat membaca judul di atas? Apakah pembaca merasa sedih, terkejut, atau merasa tidak percaya atau justru marah. Mungkin kita beranggapan bahwa pesantren adalah tempat mempelajari ilmu agama islam, di dalamnya terdapat orang-orang yang senantiasa taat kepada Allah Subhanahuwata’ala. Tetapi pada faktanya pesantren belum tentu seperti yang selama ini kita gambarkan.

Seperti kasus pelecahan seksual yang di lakukan oleh pimpinan pesantren yang berinisial (An) di kota Lhokseumawe, Aceh dan seorang guru mengaji (keduanya pria) kini di tahan di sel Mapolres Lhokseumawe karena dugaan melakukan pelecahan seksual terhadap santri pria (sesama jenis) yang berumur anatar 13-14 tahun. Dari 15 santri yang terindikasi menjadi korban, sampai saat ini baru 5 orang yang sudah memberikan keterangan.

Kelima korban mengaku sudah tiga,lima, bahkan sampai tujuh kali di lecehkan oleh pimpinan pesantren tersebut. Sedangkan si oknum guru ngaji hanya dua kali melakukan pelecehan seksual.

Kedua tersangka kini di kenakan pasal 47 Qanun Aceh No.6 tahun 2014 tentang hukum jinayat.

“keduanya di ancam dengan hukuman cambuk paling banyak 90 kali atau denda paling banyak 900 gram emas murni atau penjara paling lama 90 bulan” sebut AKP Indra T Herlambang. (Sumber serambinews.com 12/7/2019)

Seorang pimpinan pesantren dan guru yang seharusnya menjadi panutan bagi muridnya justru malah berperilaku yang tidak layak kepada santrinya. Orang-orang yang paham tentang hal yang di larang oleh islam yang malah melanggar larangan tersebut.

Inilah buah dari penerapan sistem sekularisme. Sebab perlu diketahui bahwa lelecehan seksual timbul akibat masalah pergaulan sosial. Untuk itu ajaran agama islam mengatur pergaulan tidak hanya dalam pergaulan antara laki-laki dan perempuan tetapi juga antara laki-laki dengan  laki-laki, dan antara perempuan dengan perempuan.

Namun karena Ketiadaannya penerapan aturan islam tentang pergaulan dan terus berkembangnya pengaruh budaya barat , di tambah dengan maraknya pornografi, tentu memaksa pelaku untuk mendapatkan pemenuhan.

Kemudian fasilitas yang tidak cukup juga menjadi faktor terjadinya pelecehan seksual di dalam pesantren.

Fasilitas yang terbatas seperti tempat tidur dan kamar mandi membuat para santri harus tidur dalam ruangan yang sama dan berdesak-desakan. Selain itu, tidak heran jika para santri mandi bersama-sama karena keterbatasan jumlah kamar mandi. Maka inilah yang memicu terjadinya pelecehan seksual.

Hal ini juga harus di pahami oleh pihak pesantren dan orang tua tentang aturan pergaulan dalam islam. Seperti dalam hadis Rasulullah,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم، “مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سنين واضربوهم عليها وهم أبناء عشر سنين وفرقوا بينهم في المضاجع

Rasulullah saw. bersabda, “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk salat ketika mereka umur tujuh tahun dan pukullah jika mereka telah berumur sepuluh tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud)

Lebih lanjut Abu Abdullah al-Kharasi menuliskan dalam kitabnya,

قد علمت أن حكم التفرقة الاستحباب، فإذا لم تحصل التفرقة وتلاصقا بعورتيهما من غير حائل بينهما فإنه مكروه،.. وأما ملاصقة البالغين لعورتيهما من غير حائل بينهما فحرام. اهـ.

“Aku mengetahui bahwa hukum memisahkan tidur anak-anak adalah sunah.

Jika tidak dipisah dan aurat mereka bersentuhan tanpa ada penghalang di antara mereka maka hukumnya makruh dan adapun bersentuhannya aurat di antara anak balig maka hukumnya haram.’

Semua itu dilakukan dalam rangka menjaga anak-anak dari hal-hal negatif yang terjadi. Sebab ketertarikan atau syahwa bisa muncul karena adanya rangsangan dari luar.

Maka, bukankah aturan dalam islam itu sudah sempurna dan paripurna serta sanksi-sanksinya yang memberikan efek jera bagi pelaku yang melanggar. Lalu mengapa aturan tersebut tidak di terapkan?

Ya, karena negara kita mengemban mabda (ideologi) kapitalisme dengan sistem sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan), tidak terkecuali pesantren pada umumnya juga mengemban mabda kapitalisme ini.

Hanya dengan Khilafahlah aturan islam bisa diterapkan secara kaffah (menyeluruh). Sudah terbukti selama 13 abad berdirinya khilafah hanya tercatat 200 kasus pelanggaran. Maka solusi tuntas atas problematika saat ini adalah dengan memperjuangkan tegakknya khilafah.[]

*Tinggal di Aceh

Comment

Rekomendasi untuk Anda