by

Lulu Nugroho*: Dunia yang Layak Bagi Anak

Lulu Nugroho
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pada Puncak Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) di Hotel Four Points Sheraton Jl. Andi Djemma Kota Makassar Sulawesi Selatan, Selasa (23/07/19), Kota Cirebon pun sukses mempertahankan predikat Kota Layak Anak (KLA) kategori Madya tahun 2019. Penghargaan itu diberikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). (Tintahijau, 14/7/2019).
Kementerian PPPA sejak tahun 2006 telah mengembangkan Kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) dan tahun 2009 diterbitkan Peraturan Menteri PPPA Nomor 2/2009 tentang Kebijakan KLA, yang diujicobakan di 10 kabupaten/ kota. Tujuan akhir yang hendak dicapai adalah bahwa pada tahun 2030 Indonesia telah mencapai kondisi Indonesia Layak Anak (IDOLA).
HAN juga dijadikan sebagai pengingat bagi rakyat Indonesia untuk menggencarkan gerakan Internasional World Fit for Children atau dunia yang layak bagi anak. Sebuah komitmen Indonesia di tingkat internasional, dengan merealisasikan Kota Layak Anak (KLA) di sejumlah kota di Indonesia.
Hanya saja, sekalipun telah ditetapkan sejak lama, anak-anak di Indonesia masih mengalami beragam persoalan. Kemiskinan yang menimpa umat, membuat anak-anak terkena dampaknya. Mereka sulit memperoleh akses terhadap pendidikan dan kesehatan. Tidak hanya itu, stunting balita, membuat Indonesia mendapat gelar negara dengan status gizi terburuk.
Kekerasan juga masih menimpa anak-anak Indonesia. Baik itu kekerasan fisik atau perundungan, hingga kekerasan seksual. Tahun 2018, KPAI mencatat ada 4.885 kasus kekerasan terhadap anak, bertambah 306 dibanding tahun 2017 yang 4.579 kasus. (TribunJabar, 18/1/2018).
Inilah fakta bahwa tidak ada satu tempatpun yang layak bagi anak di alam sekularisme. Ketika manusia mengesampingkan aturan Allah, maka seluruh persoalan umat tidak akan mendapatkan solusi yang hakiki. Sebab penerapan aturan hasil buah pikir manusia, selalu menyisakan persoalan baru. Anak-anak tidak layak tumbuh di tengah kerusakan.
Dalam Islam jelas disampaikan bahwa Allah Azza wa Jalla berfirman,
”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan RasulNya, dan juga janganlah kalian mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu padahal kamu mengetahui. Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan, dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” [Al Anfal:27, 28].
Anak adalah amanah Allah Subhaanahu wa ta’ala. Membesarkan mereka tidak hanya memberi makan, minum, dan tempat tinggal. Akan tetapi memastikan mereka tetap terjaga keimanannya. Tidak goyah oleh tawaran kebebasan yang diusung Barat. Serta hiruk pikuk hedonisme yang merusak.
Oleh sebab itu jika menjaga generasi hanya diserahkan pada orang tua, maka tidak akan membuahkan hasil yang gemilang. Diperlukan peran negara, memberikan “Dunia yang Layak bagi Anak”. Dan itu hanya bisa didapat dari sebuah negeri yang diterapkan aturan Allah di dalamnya. Wallahu ‘alam.
*Lulu Nugroho, Muslimah Penulis dari Cirebon.

Comment

Rekomendasi Berita