by

Maharati*: Sistem Rusak Generasipun Ikut Rusak

Maharati
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Dalam sejarah peradaban bangsa, generasi pemuda adalah aset yang mahal dan tak ternilai harganya. Kemajuan maupun keburukan juga sangat bergantung oleh pemuda yang menjadi tokoh utama dalam peranannya dalam melakukan suatu perubahan. Kaum muda memiliki potensi yang bisa diharapkan. Mereka memiliki semangat yang sulit dipadamkan. Terlebih jika semangat bercampur dengan pengetahuan dan diimplementasikan melalui tindakan. Maka akan terciptalah suatu perubahan.
Namun, kalau para pemuda ternyata bermoral dan bergaya hidup liberal, apakah akan mampu mewujudkan perubahan? Pada faktanya, dari masa ke masa pemuda yang menjadi generasi pemimpin bangsa ini terus dihantam berbagai pemikiran dan budaya Barat. Saat ini pacaran, freesex, aborsi, narkoba, bahkan LGBT menjadi warna bagi kehidupan generasi masa kini. Hal ini membawa generasi pada keterpurukan dan kehancurannya.
Kalangan pelajar di Kota Ternate dihebohkan dengan viralnya video mesum berdurasi 2 menit 15 detik. Pemeran video yang diduga sepasang siswa-siswi asal salah satu sekolah kejuruan di Ternate itu kabarnya kini mengalami bullying dari teman-teman mereka. Pihak sekolah pun diminta bertindak cepat melakukan pendampingan terhadap keduanya.
Ketua Dewan Pendidikan Kota Ternate, Asghar Saleh menegaskan, pihak sekolah harus segera mencari tahu kebenaran kabar yang berkembang terkait para pelaku. Sebelum para terduga pelaku dapat dikonfirmasi, ia meminta semua pihak untuk bersikap bijak dengan tidak berburuk sangka. “Sekolah harus segera meminta konfirmasi dari siswa yang diduga ada dalam video yang beredar itu. Pihak orang tua juga dipanggil untuk sama-sama membicarakan pendampingan terhadap keduanya,” tuturnya saat dikonfirmasi Malut Post, Kamis (3/1/2019).(news.malutpost.co.id).
Tidak hanya vedeo mesum bahkan baru-baru ini ramai diperbincangkan sebuah grup penyuka sesama jenis di Facebook yang anggotanya diduga pelajar SMP/SMA asal Kabupaten Garut. Berdasarkan penelusuran detikcom, anggota di grup Facebook itu sekitar 2.500 orang. Hingga kini grup itu masih aktif. Sejumlah anggota bahkan terlihat ada yang mengundang anggota yang lainnya untuk saling terhubung di aplikasi perpesanan lainnya seperti WhatsApp dan BlackBerryMesangger.
Kalau berdasarkan yang ramai diperbincangkan, anggota tidak hanya dari Garut, ada juga dari kota tetangga, seperti Jakarta, Bandung dan Bogor. Dari luar Jawa Barat juga ada,” ungkap Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna kepada wartawan di kantornya, Jalan Sudirman, Senin (08/10/2018).( detikcom).
Bahkan berdasarkan survei yang dilakukan oleh Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Kementrian Kesehatan pada Oktober 2013, sekitar 62,7% remaja Indonesia melakukan hubungan seks di luar nikah. Ini jauh dari data tahun 1980 yang hanya 5%, atau tahun 2000 yang 20%. Departemen Kesehatan RI mncatat bahwa setian tahunnya terjadi 700 ribu kasus aborsi pada remaja. Data dari Penelitian BNN dan Puslitkes UI memperkirakan sekitar 2,8% atau 5,1 juta orang Indonesia menjadi pecandu narkoba pada tahun 2015, ada kenaikan hampir dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir (tahun 2004 sebesar 1,75%). Dari jumlah tersebut, 22% di antaranya adalah pelajar.
Peristiwa demi peristiwa yang terjad ipada generasi kita yang membuat kita risau dengan keadaan yang begitu menyayat hati. Upaya perbaikan terus dilakukan, perubahan alias gonta-ganti kurikulum menjadi langkah praktis untuk memperbaiki moral dan karakter generasi. Saat ini, kurikulum pendidikan Indonesia sudah berganti 11 kali sejak tahun 1947 (www.brilio.net). Kurikulum terakhir yang diterapkan adalah kurikulum 2013, yang bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, afektif, serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia. Apakah langkah ini membawa perbaikan?
Langkah pemerintah untuk memutus rantai problematika generasi memang patut diapresiasi. Namun, kita pun perlu melihat pula hasil dari usaha tersebut. Jika dilihat dari fakta di atas, permasalahan generasi semakin lama bukannya berkurang tapi justru meningkat. Sehingga, upaya untuk mengatasi hal tesebut rupanya belum membuahkan hasil signifikan. Inilah yang perlu kita renungkan.
Akar masalah
Ibarat dokter yang sedang mendiagnosis pasiennya agar obat yang nantinya diberikan tepat, maka kita pun perlu ‘mendiagnosis sakit’ yang diderita para generasi. Permasalahan yang membelenggu generasi kita tak luput dari tiga faktor, yakni orang tua, masyarakat, dan negara.
Orang tua berperan sebagai rujukan pertama dan utama bagi anak anaknya. Orang tualah yang dituntut untuk menanamkan pendidikan keimanan, membangun ketaatan pada agama (hukum Allah), serta memberikan teladan kebaikan pada anak anaknya. Kondisi hari ini, para orang tua kurang menjalankan perannya sebagai pendidik pertama dan utama bagi anaknya. Fenomena penitipan anak kepada neneknya, tetangganya, baby sitter, Tempat Penitipan Anak (TPA) menjadi pemandangan umum di sekitar kita. Akhirnya anak-anak tersebut menjadi sosok yang kurang perhatian, kasih sayang, ilmu, dan pendidikan.
Adapun negara adalah pihak yang berperan besar melindungi generasi, berwenang menerapkan berbagai kebijakan mulai dari politik, ekonomi, sosial, pendikan, dan sebagainya. Saat ini negara kita tengah menerapkan sistem pendidikan sekular-materialistik. Secara kelembagaan, sekularisasi pendidikan menghasilkan dikotomi pendidikan yang sudah berjalan puluhan tahun, yakni antara pendidikan ‘agama’ di satu sisi dengan pendidikan umum di sisi lain. Pendidikan agama melalui madrasah, institut agama dan pesantren dikelola oleh Departemen Agama, sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah dan kejuruan serta perguruan tinggi umum dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional.
Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek) dilakukan oleh Depdiknas dan dipandang sebagai tidak berhubungan dengan agama. Sementara, pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan di sini justru kurang tergarap secara serius. Agama ditempatkan sekedar sebagai salah satu aspek yang perannya sangat minimal, bukan menjadi landasan dari seluruh aspek.
Walhasil banyaknya generasi yang menempuh pendidikan di jenjang umum menjadi lulusan yang tidak menjdikan agama sebagai pedoman hidupnya. Tak heran jika mereka mudah melakukan hal-hal yang tak seharusnya.
Inilah akar persoalan yang selama ini membelit generasi. Bukan hanya soal kurikulum semata, bukan pula karena biaya saja, tapi kehidupan serba bebas buah dari demokrasi yang berasaskan sekuler. Kebebasan yang tanpa memandang agama tersebut menciptakan gaya hidup pemuda yang bablas. Besarnya potensi generasi yang mampu mengguncang dunia kini telah ‘mati’ karena demokrasi yang menjauhkan generasi dari Ilahi.
Jika ingin menyelamatkan generasi, maka butuh solusi fundamental untuk menuntaskan problematika hingga akarnya, yakni mengganti sistem sekuler-demokrasi yang menjauhkan manusia dari agama dengan sistem yang membuat manusia senantiasa tunduk pada agama. Sistem itu adalah sistem Islam, yang menerapkan islam secara kaffah/menyeuruh. Wallahu’alam bi ash-shawab.[]
“Mahasiswi Universitan Khairun, Ternate

Comment

Rekomendasi Berita