by

Mega Turuy*: Di Manakah Kaum Muslim Saat Palestina Berduka?

Mega Turuy

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Sejak tanggal 16 mei 2019, pihak Israel masih saja gencar melakukan serangan terhadap wilayah jalur Gaza walaupun ada isu bahwa akan ada gencatan senjata. Akan tetapi warga gaza sendiri tidak yakin bahwa pihak israel akan mematuhi perjanjian tersebut.

Update terkini korban jiwa warga gaza mencapai 25 orang. 2 diantaranya balita, 3 diantaranya wanita serta 1 ibu hamil. Sedangkan korban cedera yaitu lebih dari 206 orang yang sudah dievakuasi kebeberapa rumah sakit, termasuk rumah sakit milik indonesia di gaza bagian utara dan juga rumah sakit asifah di gaza city.

Selagi aksi saling gempur bereskalasi, militer Israel menyebut telah membunuh seorang komandan Hamas bernama Hamed Hamdan al-Khodari. Sejumlah bangunan yang dihancurkan Israel, menurut militer Israel, adalah gedung bertingkat di Kota Gaza yang diklaim merupakan kantor intelijen Hamas.

Pemerintah Turki mengatakan kantor berita Anadolu juga berkantor di gedung itu. Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, menyebut serangan Israel terhadap warga sipil adalah “kejahatan terhadap kemanusiaan”. Pemimpin Hamas, Ismail Haniya, merilis pernyataan yang menegaskan “kembali ke kondisi tenang adalah mungkin” jika Israel berkomitmen “melakukan gencatan senjata secara komplet”. Rangkaian aksi kekerasan bermula pada Jumat (3/5), tatkala aksi demonstrasi digelar untuk menentang blokade di wilayah Gaza.

Dalam aksi tersebut, seorang warga Palestina menembak dua serdadu Israel hingga cedera dekat pagar perbatasan. Pihak Israel membalas dengan melancarkan gempuran udara yang menewaskan dua milisi. Rentetan roket kemudian dilesatkan dari Gaza sejak Sabtu (4/5) pagi. Sistem pertahanan rudal Israel berjuluk ‘Kubah Besi’ menembak jatuh puluhan roket, tapi sejumlah rumah di berbagai desa dan kota Israel kena gempur. (bbc.com 08/06/19).

Beberapa tahun terakhir, pihak israel melakukan serangan pada bulan Ramadhan di saat kaum muslimin palestina melaksanakan ibadah. Hal ini juga dirasakan oleh salah satu warga Indonesia yakni bang Onim yang berada disana.  Dalam menjalankan ibadahnya, para ulama kemudian mengeluarkan fatwa agar warga Palestina tidak melaksanakan sholat taraweh berjamaah. Fatwa tersebut dikeluarkan guna mencegah terjadinya serangan. Namun fatwa itu bukan menjadi momok yang menakutkan bagi mereka untuk tidak melakukan sholat.

Semua ini menunjukkan betapa buruknya kebejatan barat terhadap kaum muslim. Sistem busuk ini gagal menjaga kehormatan dan kemulian manusia, terutama kaum muslim yang menjadi tumbal peradaban sepanjang sejarah runtuhnya negara islam. Sebagaimana hadist Rasulullah saw: “Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim” ( HR. An Nasa’i ).

Kejadian Ini harus kemudian menjadi cermin agar merekatkan ukhuwah islamiyah. Sebab saat ini keretakan ukhuwah juga menjadi sumber penghalang tegaknya syariat islam secara kaffah.  Dimana umat islam hanya disibukkan dengan perbedaan dan amalan-amalan individu sehingga mengucilkan aspek kemanusiaan. Padahal Rasul pernah bersabda: “Orang mukmin dengan orang mukmin yang ain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain”. (HR. Muslim).

Islam sebagai solusi
Itulah fakta saat ini yang kita rasa, yang kita saksikan dengan kasat mata, mencabik-cabik hati kaum muslim sedunia, negeri-negeri muslim membuka suara hanya sekedar mengecam saja namun, tidak ada perlawanan bagi kedzoliman penguasa adidaya. Sistem sekuler yang melahirkan penguasa-penguasa miskin iman dan fakir moral. Dari rahimnyalah tumbuh orang-orang berjiwa bengis, sadis dan mati nurani, dengan bangganya darah kaum muslim menjadi bak minuman penghilang dahaga. Tak tahukah mereka akan sabda Baginda kita Rasulullah shallallahu’alaihi wa salam bersabda:

“Perkara yang pertama kali akan diputuskan (dihisab) diantara manusia pada Hari Kiamat adalah masalah darah (pembunuhan)” (Muttafaun’alaih)
Palestinaku jeritan pilumu, air mata yang tumpah membasahi bajumu, tubuh bermandikan darah, tubuh yang cedera dan bahkan syahid membersamaimu. Rasanya tak sanggup mata ini menyaksikan sakitmu.

Kembali lagi bahwa kita benar-benar membutuhkan sang Junah yaitu islam solusinya. Sebagai perisai kaum muslim untuk menerapkan hukum Allah dibumi-Nya. “Sesungguhnya seorang pemimpin itu merupakan perisai rakyat akan berperang di belakang serta berlindung dengannya” (HR. Muslim)
Sudah cukup kita terpecah belah terlalu lama, saatnya kita kaum muslim bangkit dan bersatu dalam irama menyambut kemenangan Islam yang dijanjikan Allah Ta’ala. sebagai bayaran atas kedzoliman penguasa. Wallahu’alam Bisyowab.[]

*Mahasiswi Pertanian/Kehutanan, Unkhair , Ternate

Comment

Rekomendasi untuk Anda