by

Mr.Kan*: Penyerangan Hakim Dapat Merusak Keluhuran Budi dan Kebudayaan Hakim di Peradilan

Mr.Kan
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Sebagai wujud pemikiran berdasarkan Filsafat Hukum dan Antropologi Hukum, perbuatan penyerangan dan penghinaan terhadap hakim merupakan perbuatan yang dapat merusak keluhuran budi dan kebudayaan hakim di peradilan Indonesia.
Sebagai pemikir hukum, jelas penulis juga sangat paham dan sadar, bahwa apa pun alasannya, jika terjadi penyerangan terhadap seseorang tetap melanggar hukum. Hanya saja sebagai wujud dari ilmu filsafat hukum dan antropologi hukum selalu ingin mencari sumber dan akar serta hakekat kebenaran secara holistik atau komprehensif di setiap permasalahan krusial yang timbul di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Oleh sebab itu semuanya, mulai timbul suatu pertanyaan atas kasus penyerangan hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, apa saja penyebabnya, sehingga di Indonesia dapat terjadi penyerangan terhadap hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat? Mengapa dan ada apa? Ini perlu dikaji secara komprehensif atau holistik, walaupun si penyerang tetap harus dihukum sesuai aturan hukum yang berlaku, demi dan untuk mencegah terulangnya peristiwa yang sama atau yang lebih besar.
Pertanyaan berikutnya, apakah para hakim di Indonesia selama ini telah menegakkan hukum sesuai dengan nilai-nilai keluhuran budi dan kebudayaan Hakim yang ideal serta yang sebagaimana mestinya? Wujud nilai-nilai keluhuran budi dan kebudayaan hakim dapat dinilai dari berbagai putusan perkara di Indonesia yang selalu mengandung rasa keadilan dan kepastian hukum yang dialami dan dirasakan oleh masyarakat Indonesia yang khususnya pernah berperkara di peradilan.
Apakah di setiap putusan perkara yang diselenggarakan oleh para hakim di berbagai peradilan di Indonesia sepanjang kehidupan bermasyarakat dan berbangsa serta bernegara sudah menciptakan dan mewujudkan nilai-nilai rasa keadilan dan kepastian hukum yang ideal dan yang sebagaimana mestinya, yang dialami dan dirasakan oleh mereka yang pernah masuk dalam berperkara di berbagai peradilan di Indonesia?
Kesimpulannya, keluhuran budi dan kebudayaan hakim dapat diwujudkan dan diciptakan yang ideal serta yang sebagaimana mestinya hanya dengan satu cara, yaitu “Supremasi Hukum” harus selalu ditegakkan berdasarkan prinsip semua orang sama di hadapan hukum, tanpa ada kecualinya, termasuk posisi Hakim juga harus sama di hadapan hukum (EQUALITY BEFORE THE LAW), jadi tidak ada orang yang mempunyai hak absolute, karena hak absolute hanya dimiliki oleh Tuhan Yang Maha Esa, apabila ada oknum hakim yang terduga bersalah juga harus diproses hukum.
Sesuai rasa hati nurani, saya mengusulkan, agar setiap perkara yang diputuskan oleh para hakim di setiap peradilan harus dengan keyakinan yang benar-benar dapat dirasakan kaadilan dan kepastian hukum oleh masyarakat, demi dan untuk menciptakan dan mewujudkan serta menjaga nilai-nilai keluhuran budi dan kebudayaan Hakim yang ideal serta yang sebagaimana mestinya di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di NKRI.[]

*Pengamat Hukum

Comment

Rekomendasi Berita