by

Muthmainnah Bantasyam*: Bukan Kalimat Tauhid Tapi Dua Garis Biru

Muthmainnah Bantasyam

RADARINDONESIANEW. COM, JAKARTA – Menag merespon cepat pengibaran bendera bertuliskan kalimat Tauhid yang diduga dikibarkan oleh siswa MAN 1 Sukabumi. Via twitter Menag, Lukman Hakim, menerangkan bahwa sudah menurunkan tim investigasi ke lokasi. Dari penelurusan Kemenag menyimpulkan bahwa pengibaran bendera tersebut tidak terkait dengan Hizbut Tahrir Indonesia.

Tindakan Kemenag pada dasarnya cukup disayangkan, seolah-olah pengibaran bendera tauhid adalah tindakan kriminal. Patut Menag pahami bahwa, pertama, kalimat Tauhid adalah pokok keimanan umat Islam. Kedua, Kalimat Tauhid yang dituliskan pada bendera dengan warna dasar putih (Al-Liwa) dan warna hitam (Ar-Raya) adalah simbol persatuan kaum muslimin. Artinya kalimat Tauhid dan bendera bertuliskan Tauhid bukanlah milik kelompok tertentu dan mengibarkannya legal secara agama dan konstitusi.

Justru harusnya berterimakasih bila ada kelompok yang konsisten memperkenalkan simbol tauhid kepada ummat, memperkenalkan sistem kehidupan Islam dan simbol persatuan Islam serta mengajak ummat untuk mentaati Islam dengan cara edukasi tanpa kekerasan. Bila kemudian ummat menyambut, hal itu tersebab kerinduan mereka pada Islam yang merupakan fitrah bagi orang yang mengaku beriman kepada Allah. Tentu sungguh menggelikan bila mengaku beriman tapi justru alergi terhadap ajaran Islam dan simbolnya.

Jadi Menag tidak perlu phobia. Wajar bila kemudian tindakan Menag tersebut menimbulkan kesan bagi kaum muslimin bahwa pemerintah alergi terhadap simbol Islam. Selain itu, justru terhadap penguatan cara pandang kehidupan sekuler tidak direspon oleh pihak yang paling bertanggung jawab terhadap nilai-nilai Islam di negeri ini.

Salah satunya film yang saat ini marak beredar bebas dan legal, yaitu Dua Garis Biru. Film yang berisi adegan yang tidak pantas dilakukan oleh remaja ini adalah sumber penyakit sosial. Meski berkilah di balik kata edukasi, film tersebut justru mengajari remaja untuk melakukan tindakan yang bertentangan dengan norma dan agama. Sarat dengan kehidupan sekuler-liberal, film yang mestinya tidak layak tayang justru menjadi santapan penuh racun bagi generasi muda.

Anehnya tidak ada investigasi dan tindakan kekhawatiran lainnya dari Menag. Padahal Perlu dicatat tindakan salah tontonan sudah mengantarkan 98,3% pelajar SMP dan SMA pernah nonton film porno, 62,7% siswi SMP sudah tidak perawan dan aborsi akibat salah gaul mencapai 2,3 juta janin.

Jadi bukan pegibaran kalimat tauhid oleh siswa yang harus ditakuti, tapi tayangan yang sarat ajaran sekuler-liberal yang harus dikriminalisasi.[]

*Muthmainnah Bantasyam
Anggota Muslimah Intelektual Aceh dan Anggota komunitas revowriter

Comment

Rekomendasi untuk Anda