by

Nisa Azzahra, S.Pd: Maraknya Kasus Traficking Perempuan, Salah Siapa?

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Di zaman milenial sekarang, segala aspek didalam kehidupan kita telah berkembang dengan pesatnya, baik dalam bidang teknologi, ilmu pengetahuan, dan lainnya termasuk juga dalam bidang sosial. Mengapa? Hal tersebut dikarenakan terjadinya pergeseran peran yang terjadi di masyarakat, khususnya peran antara perempuan dan laki-laki.

Peran perempuan ingin disejajarkan dengan peran laki-laki. Pernyataan tersebut dilontarkan oleh para kaum feminisme yang menganggap bahwa “peran perempuan sebagai ibu” adalah menghinakan dan memenjarakan kebebasan perempuan untuk mengekspresikan dan mengembangkan potensinya. Selain ingin disejajarkan, bahkan peran diantara keduanya telah berbanding terbalik, maksudnya saat ini perempuan yang sudah menjadi istri lebih banyak ke luar rumah untuk melakukan tugas mencari nafkah, sedangkan laki-laki yang sudah menjadi suami hanya diam di rumah atau bisa dikatakan pengangguran sambil mengurus anak.

Dengan fakta yang terus ada di tengah-tengah masyarakat akan hal tersebut, bisa dimungkinkan terjadinya pergeseran peran perempuan di masa sekarang adalah sebagai pendongkrak pertumbuhan ekonomi di masyarakat. Semua kejadian diatas, diakibatkan kapitalis liberal yang diterapkan saat ini sehingga peran perempuan sebagai ibu dipandang sebelah mata.

Terlebih lagi, masalah yang terjadi pada perempuan saat ini, yaitu menurut Menteri Luar Negeri Retno Marsudi membenarkan sekitar 15 perempuan warga negara Indonesia (WNI) yang diduga menjadi korban perdagangan manusia di China (Kompas.com 19/07/2019). Namun, ada hal yang menjadi perdebatan karena dalam pandangan hukum di Cina, para perempuan WNI dikirim ke China memang untuk menikah dengan lelaki Cina dengan imbalan sejumlah uang. Berbeda halnya dengan hukum di Indonesia, berpandangan bahwa peristiwa tersebut dikategorikan sebagai bentuk perdagangan manusia.

Maka, dapat dikatakan bahwa adanya perbedaan persepsi di antara kedua negara dalam memandang sebuah masalah, yaitu pemerintah Indonesia berpandangan masalah tersebut sebagai masalah perdagangan manusia, sementara pemerintah China berpandangan bahwa masalah tersebut merupakan masalah keluarga.

Untuk mencegah hal semacam ini terjadi kembali, pemerintah Indonesia melakukan pertemuan dengan dubes Tiongkok untuk menyamakan persepsi akan masalah tadi. Bahkan, Kemenlu akan memberikan pemahaman berupa sosialisasi kepada masyarakat Indonesia, terutama wanita untuk waspada apabila menemukan tawaran untuk menikah di luar negeri.

Dengan melihat masalah di atas, dapat memunculkan sebuah pertanyaan baru, yaitu apakah solusi yang dilakukan memang dapat menghentikan terjadinya perdangangan manusia? Mengapa bisa kedua negara mempunyai pandangan yang berbeda dalam menghadapi sebuah masalah tadi?

Inilah fakta yang terjadi, apabila segala sesuatu disandarkan pada persepsi manusia saja. Sistem sekuler yang diterapkan saat ini berdampak pada segala aspek kehidupan tidak boleh ada campur tangan agama, semua harus diselesaikan menurut persepsi manusia yang sangat terbatas. Oleh karena itu, wajar saja apabila kasus perdagangan manusia ini memiliki pandangan yang berbeda-beda.

Apabila kita lihat fakta peran perempuan yang terjadi sebelumnya, sejarah mencatat bahwa yang pertama pada masa peradaban Hindu menunjukkan wanita diibaratkan sebagai budak dikarenakan adanya sistem kasta yang mereka terapkan. Kedua, pada masa peradaban Yunani wanita diperlakukan seperti barang belian yang dimiliki oleh suaminya. Ketiga, pada masa peradaban Romawi menganggap bahwa wanita sebagai objek seksual pria. Bahkan, pada masa sebelum islam turun ke muka bumi ini, yaitu zaman jahiliyah telah memperlakukan wanita dengan tidak pantas, seperti jika ada seorang ibu yang melahirkan anak perempuan, maka diperintahkan untuk dikubur dan membunuhnya dengan anggapan bahwa melahirkan perempuan adalah aib bagi keluarga. Itulah peradaban-peradaban yang terkenal di dunia yang telah membuat peran perempuan menjadi hina, bahkan tidak bernilai sama sekali di dalam peradaban masyarakat mereka.

Akan tetapi, berbeda dengan peradaban islam yang telah berdiri dan menguasai dunia ini selama 13 Abad ini sangatlah memuliakan perempuan. Hal tersebut dikarenakan pemberian tugas utama perempuan sebagai ibu dan pengurus rumah tangga, maksudnya dari rahim seorang ibu akan lahir generasi pelanjut yang mana dengan sentuhan dan belaian kasih sayang ibu akan memengaruhi tumbuh kembang anak menjadi anak sholeh dan sholehah.

Maka, peran perempuan adalah  sebagai tonggak peradaban yang akan melahirkan dan mencetak generasi cemerlang sehingga membawa perubahan masyarakat lebih baik lagi.

Selain itu, islam pun tidak mengekang potensi yang ada pada perempuan, seperti sejarah yang membuktikan bahwa Universitas pertama di dunia ini berada di Maroko itu didirikan oleh seorang muslimah yaitu Fatimah Al-Fihri. Lalu, sosok Aisyah yang pintar dari segi ilmu fiqih, kedokteran, dan syair ternyata adalah seorang perawi hadits terbanyak ke-empat dan pertama di kalangan wanita dengan haditsnya sebanyak 2.210 hadits.

Dari semua hal tersebut di atas, ada hal yang paling terpenting mengingat permasalahan yang terjadi di masyarakat saat ini bersifat kompleks dan sistemik, maka perempuan pun memiliki andil di dalamnya.

Perlu diingat,  bahwa dalam islam seorang muslim dan muslimah memiliki kewajiban amar ma’ruf nahi munkar dengan cara berdakwah dan mengajak masyarakat kembali kepada islam sebagai solusi satu-satunya dalam memecahkan permasalahan yang ada di masyarakat.

Dengan begitu, peran perempuan sebagai aktivis dakwah pun dapat memengaruhi perubahan masyarakat untuk kembali kepada islam.  Untuk itu, saatnya kita sebagai kaum muslimah kembali kepada islam, karena hanya dengan sistem Islamlah, perempuan akan menjadi mulia. Wallahualam.[]

Comment

Rekomendasi untuk Anda