by

Nuraisah Hasibuan S.S.*: Aroma Busuk Impor Sampah

Nuraisah Hasibuan S.S
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA  – Awal bulan Juni lalu, enam puluh empat (64) kontainer sampah plastik tiba di Batam dan itu menjadi awal meluasnya berita impor sampah. Memang, tidak banyak masyarakat yang tahu bahwa Indonesia telah lama menjadi negara pengimpor sampah plastik dan sampah kertas, sehingga kabar ini cukup mencengangkan. Rakyat merasa kecolongan.
Bagaimana tidak, Indonesia yang mengurus sampah dalam negeri saja belum khatam, sampai- sampai tercatat sebagai penghasil polusi plastik di laut terbesar kedua di dunia, malah menambah sampah dari luar negeri. Jumlahnya pun tak main-main. Tahun lalu saja, Indonesia mengimpor sampah sebanyak 283 ribu ton. 
Lalu untuk apa sebenarnya sampah ini?
Bagi perusahaan kertas, sampah kertas diperlukan untuk didaur ulang. Terdapat delapan (8) perusahaan kertas di Jawa yang mengimpor bahan baku sampah kertas dari luar negeri. Yang jadi masalah adalah seringkali para pengekspor sampah berbuat curang dengan cara menyembunyikan sampah plastik di dalam tumpukan sampah kertas. Alih-alih mengembalikan sampah plastiknya, perusahaan kertas malah mengolah dan membuang serpihan-serpihan plastik ke sungai-sungai yang mengarah ke laut. 
Ini jelas sangat membahayakan manusia dan makhluk hidup lainnya. Lembaga nirlaba lingkungan Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation) melalui peneliti mereka menemukan pada sebelas (11) saluran-saluran pembuangan pabrik kertas dan plastik yang mengarah ke sungai di daerah Surabaya. 
Ternyata semua limbahnya mengandung mikroplastik. Selain itu juga dilakukan penelitian terhadap seratus enam puluh delapan (168) jenis ikan di sekitar tempat tersebut dan ditemukan mikroplastik di lambung semua ikan. Padahal plastik tidak akan hancur setelah dicerna. Sehingga ketika termakan, plastik yang mengikat limbah dan racun akan ikut termakan. Yang juga tidak kalah berbahaya, garam yang diolah di daerah tersebut juga mengandung mikroplastik.
Plastik sendiri dibutuhkan oleh industri-industri kimia sebagai bahan baku Polietilena (PE), Polipropilena (PP), Polistirena (PS), dan Polivil Klorida (PVC). Perusahaan-perusahaan kimia tersebut membutuhkan sekitar enam (6) juta bahan baku per tahun. Sementara dalam negeri hanya mampu menghasilkan sekitar dua (2) juta ton saja per tahun. Sehingg ekspor sampah menjadi pilihan.
Sampah plastik juga diminati perusahaan sebagai alternatif bahan bakar pabrik karena harganya lebih murah dari bahan bakar kayu. Namun efek pembakaran plastik jelas sangat buruk, asap pabrik jadi menghitam, mengeluarkan bau tak sedap, menyebabkan sakit mata dan sakit tenggorokan, serta menyebarkan racun. 
Selain karena permintaan yang tinggi, para pengekspor sampah memang tidak punya pilihan lain untuk membuang sampahnya. Setelah Cina (yang tadinya merupakan pengimpor sampah terbesar di dunia), Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Filipina menutup keran impor, sampah jadi dialihkan ke negera-negara lain di Asia, termasuk ke Indonesia.
Ini menjadi masalah ketika aturan ekspor impor sampah sepertinya tidak dipahami dengan baik oleh importir maupun eksportir sampah itu sendiri. Para pengekspor mencampur semua sampah hingga seringkali ditemukan adanya kandungan bahan berbahaya dan beracun (B3). Perusahaan pengimpor pun cukup mengembalikan kontainer yang tidak diinginkan. Padahal seharusnya mereka melaporkan pada yang berwajib supaya pengekspor nakal ini ditindak tegas, sebab yang mereka lakukan sudah masuk delik kriminalitas. Akibatnya, kejadian seperti ini terus berulang.
Yang lebih miris, ada saja pihak-pihak yang mencoba meraup keuntungan dari bisnis sampah ini. Artinya, mereka tidak keberatan dengan banyaknya sampah yang masuk atau dengan jenis sampah yang bercampur baur, sebab ada bayaran yang menggiurkan. 
Menurut Dwi Sawang, pengkampanye Urban dan Energi Walhi, satu ton sampah dihargai sekitar 40 dollar AS. Tak heran jika akhirnya ada permainan di angka-angka yang dilaporkan. Misalnya saja tentang jumlah impor sampah yang katanya hanya 107.423 ton, ternyata info dari pengekspor adalah 145.593 ton. Artinya, ada mafia-mafia sampah yang mau mengeruk keuntungan dari bisnis impor sampah ini.
Tidak ada jalan lain. Kasus impor sampah yang meresahkan ini harus diselesaikan secepatnya dan setegas-tegasnya sebelum negeri ini hilang tertimbun sampah. Jika tidak mampu menghentikan impor sampah secara total seperti halnya negara-negara lain, paling tidak ada regulasi yang lebih ketat tentang komposisi sampah. Jika yang diimpor adalah sampah plastik dan kertas, maka tidak boleh masuk sampah lain selain keduanya ini. Sehingga sampah impor yang seharusnya bisa beres dengan daur ulang tidak jadi menambah masalah karena ternyata malah menambah tumpukan sampah dalam negeri.
Kemudian harus ada pengawasan yang ketat terhadap perusahaan-perusahaan yang menggunakan plastik sebagai bahan bakar. Mereka harus ‘dipaksa’ menggunakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Jika tidak bersedia, maka pemerintah harus tega mencabut izin operasi perusahaan tersebut, bukan malah tergiur dengan uang damai yang terus masuk kantong. Sudah saatnya pemerintah lebih memikirkan kemaslahatan rakyat dan kelestarian bumi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
*Nuraisah Hasibuan S.S. (Pemerhati Sosial)
Domisili: Tangerang

Comment

Rekomendasi Berita