by

Pannindya Surya Rahma SP*: Banten Darurat Narkoba Ancaman Bagi Genarasi Muda

Pannindya Surya Rahma SP
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Provinsi Banten berada di peringkat keenam dalam penyalahgunaan narkotika di Indonesia. Penyalahgunaan narkotika di daerah paling barat di Pulau Jawa tersebut, didominasi generasi muda dengan angka 170.000 pencandu narkoba.
Hal itu dikatakan Menteri Sosial (Mensos) Agus Gumiwang saat mendatangi Pondok Pesantren Al-Falahiyah, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, Senin (8/4/2019).
Dalam kegiatan itu, Mensos bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang melakukan sosialisasi terkait Penguatan Peran Keluarga dalam Perlindungan Anak.
“Provinsi Banten masuk dalam deretan sepuluh besar pada peringkat penyalahgunaan narkotika. Dari data yang kami terima, Provinsi Banten itu berada diperingkat keenam penyalahgunaan narkotika di Indonesia, yang didominasi oleh generasi muda dengan angka 170 ribu pencandu narkoba,” katanya. 
Belum reda dengan kasus narkoba bulan april yang lalu,kini Provinsi Banten kembali digemparkan dengan kasus serupa. 
Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Banten Brigjenpol Tantan Sulistyana menyebutkan ada 20 desa di 9 kecamatan yang kerap terjadi kasus penyalahgunaan narkoba di Kabupaten Serang. Oleh karena itu semua pihak harus bergerak untuk mencegah penyebaran narkoba tersebut.
. “Narkoba sudah menjadi masalah global dan dunia. Narkoba merupakan salah satu jenis dari 18 jenis trans nasional crime. Oleh karena itu jaringannya pun tingkat internasional,” ujar Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Banten Brigjenpol Tantan Sulistyana dalam sambutan peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2019 tingkat Kabupaten Serang di lapangan Kecamatan Petir, Rabu (26/6/2019).Tantan mengatakan, Indonesia termasuk Kabupaten Serang merupakan daerah darurat narkoba. Namun demikian dikatakannya tidak ada daerah yang bebas narkoba.Ketua Badan Narkotika Kabupaten Serang Pandji Tirtayasa mengatakan, penyalahgunaan narkoba banyak terjadi di Kabupaten Serang, diantaranya di Baros, Pabuaran, Ciomas, Padarincang, Cinangka, Kramatwatu dan Mancak. “Peta rawan kasus narkoba di Kabupaten Serang antara lain ganja, sabu dan ekstasi,” ujarnya.
Teriris sekali hati ini ketika orang orang berlomba untuk mendapatkan prestasi dalam hal kebaikan justru Provinsi  Banten menduduki peringkat keenam pengkonsukmsi narkoba se-Indonesia. Mulut kami jelas menganga hati kami bertanya tanya seolah tak percaya dengan fakta yang ada. Rasanya julukan kota santri tak pantas lagi disematkan kepada Provinsi Banten. Generasi muda yang seharusnya dicetak menjadi ulama nyatanya menjadi pecandu narkoba. Naudzubillah…..  Mari kita analisa bersama. 
Keluarga merupakan bagian yang paling mendasari dalam pembentukan karakter seorang anak. Dan Orangtua memiliki peran yang besar untuk mendidik anak bukan hanya yang mahir dalam pelajaran saja tetapi mampu berakhlaq baik sesuai dengan ajaran agama. Namun peran keluarga seketika hilang, tak sedikit para orang tua yang lepas kendali dalam mendidik anak. Dengan sumber masalah ekonomi, satu persatu para orang tua turun ke lapangan pekerjaan, bukan hanya kewajiban seorang ayah untuk mencari nafkah, kaum ibu pun tak mau kalah melamar pekerjaan ke sana kemari untuk ikut andil dalam memperbaiki ekonomi keluarga. Ibu yang seharusnya berada di rumah dengan tugasnya mendidik anak, namun nyatanya mereka lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah dengan alasan untuk bekerja. Keadaan seolah memaksa mereka membuat jarak yang jauh dengan sang anak, sehingga mulailah secara perlahan hubungan orang tua dengan sang anak tak dapat terjalin kembali. 
Belum lagi jika ayah dan ibu sang anak bekerja dari pagi buta hingga larut malam, pergi ketika sang anak masih tertidur dan pulang ketika sang anak telah tertidur kembali. Saat ini peran orangtua hanya difokuskan untuk urusan biaya makan, sekolah dan jajan sang anak saja, tetapi untuk mendidik anak tak sedikit orangtua yang lepas tanggung jawab begitu saja, dari si anak berusia balita mereka sudah diserahkan kepada pengasuh anak, yang orangtua tahu anak mereka bisa makan, sekolah dan hidup nyaman tanpa perlu merasa ketiadaan memiliki uang. Orangtua tidak memikirkan bahaya besar jika sang anak kurang mendapatkan perhatian dan pengontrolan dari orang tua mereka. Maraknya pergaulan bebas menjadi virus yang cepat menyebar ditengah hingar bingarnya masa muda, sehingga bukan salah anak sepenuhnya jika banyak dari anak anak muda yang sudah mengkonsumsi narkoba. 
Selain hilangnya peran keluarga dalam mendidik anak, masyarakat yang menjadi hubungan terdekat kedua dengan sang anak pun seolah merasa tak memiliki tanggung jawab dalam membentuk kepribadian baik kepada diri sang anak. Masyarakat saat ini terkesan acuh, diam membisu dan bersifat individualis, kurangnya kepakaan masyarakat terhadap kondisi sekitar pun menjadi alasan utama banyaknya anak anak muda yang sudah merasa candu dengan narkoba. Seharusnya masyarakat mampu menjadi tameng untuk anak anak muda, karena lingkungan masyarakat memiliki andil dalam pembentukan karakter anak anak, jika lingkungan masyarakat nya keras maka sang anak pun akan ditempa menjadi anak yang keras begitupun sebaliknya jika lingkungan masyarakatnya baik maka sang anak pun akan ditempa menjadi anak yang baik baik. 
Bukan hanya keluarga dan masyarakat saja yang memiliki peran dalam pembentukan karakter anak, justru negara lah yang memiliki andil terbesar dalam hal ini. Hanya negara lah yang mampu menetapkan peraturan dan hanya negara juga lah yang mampu mencabut paksa peraturan yang telah ditetapkan. Jika peraturan yang ada bersifat sekulerisme maka rakyat nya pun akan  terbentuk menjadi sekulerisme salah satu contohnya adalah dengan maraknya penggunaan narkoba dimana mana, namun berbeda halnya jika peraturan yang ditetapkan pemerintah sesuai dengan peraturan Islam. Seharusnya negara berada di garis terdepan dalam melindungi rakyat, bukan justru lepas tangan hanya dengan memberikan solusi yang tak pasti. 
Penyebab utama maraknya narkoba adalah penerapan falsafah sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan) dalam masyarakat saat ini. Ketika kehidupan dunia sudah tidak diatur dengan syari’ah Allah lagi, maka hal ini mengakibatkan banyak yang lalai akan tujuan hidup, lupa akan hari akhir dan kedahsyatannya, lupa bahwa kehidupan ini adalah sawah dan ladang beramal untuk akhirat. Akibatnya suburlah pandangan yg menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sbg tujuan utama dalam hidup (hedonisme) dan serba-boleh (permisif). 
Masyarakat diubah menjadi pemburu kesenangan dan kepuasan. Prinsipnya bukan halal-haram atau pahala-dosa, tetapi “uang saya sendiri dan badan saya sendiri, terserah saya, kan tidak mengganggu anda”. Akhirnya, miras, narkoba, perzinaan, seks bebas, pelacuran, dsb, menjadi bagian dari kehidupan sebagian masyarakat.
Ditambah lagi dengan sistem hukum yang saat ini, pecandu narkoba tidak lagi dipandang sebagai pelaku tindak kriminal, tetapi hanya korban atau seperti orang sakit. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Gories Mere mengatakan (Kompas.com, 4/10): “Pencandu narkoba seperti orang yang terkena penyakit lainnya. Mereka harus diobati, tetapi menggunakan cara yang khusus.”
Disisi lain, sanksi hukum yang dijatuhkan terlalu lunak. Vonis mati yang diharapkan bisa menimbulkan efek jera pun justru dibatalkan oleh MA dan grasi presiden. Bandar dan pengedar narkoba yang sudah dihukum juga berpeluang mendapatkan pengurangan masa tahanan. Parahnya lagi, mereka tetap bisa mengontrol penyebaran narkoba dari dalam penjara.
Masalahnya makin gawat, ketika tak sedikit aparat penegak hukumnya justru terjerat narkoba. Menurut data di Mabes Polri, dari Januari hingga 14 Maret 2012 (tiga bulan) saja sebanyak 45 anggota polisi di Indonesia terlibat kasus narkoba. Jumlah sebenarnya bisa jadi jauh lebih banyak.
Status Hukum Narkoba
Tak ada perbedaan di kalangan ulama mengenai haramnya narkoba dalam berbagai jenisnya[1], baik itu ganja, opium, morfin, mariyuana, kokain, ecstasy, dan sebagainya. Sebagian ulama mengharamkan narkoba karena diqiyaskan dengan haramnya khamr, karena ada kesamaan illat (alasan hukum) yaitu sama-sama memabukkan (muskir). Sebagian menyatakan haramnya narkoba bukan karena diqiyaskan dengan khamr, melainkan karena dua alasan; Pertama, ada nash yang mengharamkan narkoba, Kedua, karena menimbulkan bahaya (dharar) bagi manusia. (Syaikh Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, juz IV, hlm. 177)
Dari Ummu Salamah r.a , ia berkata:
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ كُلِّ مُسْكِرٍ وَمُفَتِّرٍ
“Rasulullah saw melarang dari segala yang memabukkan dan mufattir (yang membuat lemah)” (HR. Abu Daud no. 3686 dan Ahmad 6: 309)
Yang dimaksud mufattir, adalah zat yang menimbulkan rasa tenang/rileks (istirkha`) dan malas (tatsaqul) pada tubuh manusia. (Rawwas Qal’ahjie, Mu’jam Lughah Al Fuqoha`, hlm. 342).
Dari Ibnu ‘Abbas r.a, Rasulullah saw bersabda: “tidak boleh berbuat madlarat dan hal yang menimbulkan madlarat.” (HR. Ibnu Majah no. 2340, Ad Daruquthni 3: 77, Al Baihaqi 6: 69, Al Hakim 2: 66).
Solusi Menyeluruh: Tegaknya Hukum Syari’ah dalam Setiap Aspek Kehidupan
Ketika akar masalahnya adalah pengabaian hukum Allah, baik secara keseluruhan, ataupun sebagiannya, maka solusi mendasar dan menyeluruh untuk masalah narkoba adalah dengan menerapkan hukum Allah dalam setiap aspek kehidupan. Kalau ini tidak dilakukan, sudah terbukti persoalan bukan semakin baik, namun semakin memperpanjang masalah. Rasulullah bersabda:
… وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ
…Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan mereka memilih-milih apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan bencana di antara mereka. (HR. Ibnu Majah dg sanad hasan).
Ketika syariat Islam diterapkan, maka peluang penyalahgunaan akan tertutup. Landasan akidah Islam mewajibkan negara membina ketakwaan warganya. Ketakwaan yang terwujud itu akan mencegah seseorang terjerumus dalam kejahatan narkoba. Disamping itu, alasan ekonomi untuk terlibat kejahatan narkoba juga tidak akan muncul. Sebab pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu rakyat (papan, pangan dan sandang) dan kebutuhan dasar masyarakat (pendidikan, layanan kesehatan dan keamanan) akan dijamin oleh negara. Setiap orang juga memiliki kemungkinan untuk memenuhi kebutuhan sekundernya sesuai kemampuan masing-masing.
Sebagai zat haram, siapa saja yang mengkonsumsi, mengedarkan dan memproduksinya berarti telah melakukan jarîmah (tindakan kriminal) yang termasuk sanksi ta’zir. Pelakunya layak dijatuhi sanksi dimana bentuk, jenis dan kadar sanksi itu diserahkan kepada ijtihad Khalifah atau Qadhi, bisa sanksi diekspos, penjara, denda, jilid bahkan sampai hukuman mati dengan melihat tingkat kejahatan dan bahayanya bagi masyarakat.
Terhadap pengguna narkoba yang baru sekali, selain harus diobati/direhabilitasi oleh negara secara gratis, mungkin cukup dijatuhi sanksi ringan. Jika berulang-ulang (pecandu) sanksinya bisa lebih berat. Terhadap pengedar tentu tak layak dijatuhi sanksi hukum yang ringan atau diberi keringanan. Sebab selain melakukan kejahatan narkoba mereka juga membahayakan masyarakat.
Beberapa Hal Praktis Membentengi Diri dan Keluarga dari Narkoba
– Mengajarkan aqidah yang benar, karena dengan ini bisa memberikan alasan yang tepat bagi seseorang untuk melakukan sesuatu atau untuk meninggalkan sesuatu. Ketika alasannya ‘aqidah maka tidak akan tergoyahkan oleh kemanfa’atan ataupun kemudhorotan yang sifatnya materi yang akan menimpanya.
– Memperbaiki keluarga, sehingga keluarga menjadi tempat yang nyaman bagi anggotanya, sehingga anak tidak mencari kenyamanan lain di luar rumah yang berpengaruh negatif. Anas bin Malik r.a menuturkan:
مَا رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَرْحَمَ بِالْعِيَالِ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Aku tidak pernah melihat orang yang lebih sayang kepada anak-anak selain Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam” (HR. Muslim 2316)
– Menanamkan kebiasaan untuk memanfaatkan waktu, jangan biarkan keluarga terlena dengan kekosongan dan kesia-siaan.
احرص على ما ينفعك ، و استعن بالله عز و جل ، و لا تعجِز
“Bersemangatlah pada apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah (untuk melakukannya), dan janganlah malas” (HR. Muslim 2664)
– Memilihkan lingkungan, diantara faktor pemicu ketertarikan terhadap narkoba sebagian besar berasal dari lingkaran pertemanan. Ingin meniru teman, ingin dianggap keren, mencoba apa yang dicoba temannya, ingin menunjukkan jati diri dihadapan teman, ingin dianggap sahabat terbaik, dll. Oleh sebab itu bahaya sekali jika teman-teman dari anak kita adalah orang-orang yang bobrok, rusak dan jauh dari agama. Rasulullah saw bersabda:
“Permisalan teman bergaul yang baik dan teman bergaul yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau tertarik membeli minyak wangi darinya. Minimal, engkau akan tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi akan membuat bajumu terbakar, atau minimal engkau akan mendapatkan bau yang tidak enak” (HR. Bukhari dan Muslim)
– Menjaga ketaatan kepada Allah, karena dengan ketaatan kita, maka penjagaan Allah akan diberikan kepada kita dan keluarga. Rasulullah berkata: … jagalah Allah, maka pasti Allah menjagamu, jagalah Allah pasti kau akan menjumpai-Nya dihadapanmu. Apabila engkau meminta maka mintalah kepada Allah dan jika engkau meminta pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah….(HR. At Tirmidzi, dan dia berkata hadits hasan shohih).
*Mahasiswi UIN SMH Banten Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Comment

Rekomendasi untuk Anda