by

Rafida Aulya Rahmi*: Edukasi Dalam Sistem Demokrasi, Ilusi atau Solusi?

Rafida Auliya Rahmi
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Belum lama ini viral sebuah tayangan film Indonesia yang berjudul “Dua Garis Biru”. Film ini menceritakan kisah sepasang kaun muda dalam menjalin asmaranya. Film ini cukup menarik, apalagi dengan berGenre drama yang cukup sukses memikat public khususnya kaum muda, dengan total viewers 1 juta dalam seminggu saja. Disisi lain, ternyata

banyak pihak yang menentang tanyangan film tersebut lantaran banyak adegan yang tidak pantas untuk diperlihatkan dihadapan public apalagi dihadapkan kaum remaja yang masih labil. 

“Beberapa scene di trailer menunjukkan proses pacaran sepasang remaja yang melampaui batas, terlebih ketika menunjukkan adegan berduaan di dalam kamar yang menjadi rutinitas mereka. Scene tersebut tentu tidak layak dipertontonkan pada generasi muda, penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa tontonan dapat mempengaruhi manusia untuk meniru dari apa yang telah ditonton,” isi di dalam petisi, dilihat detikHOT, Rabu (1/5/2019).

Film dengan berdurasi 113 menit ini menuai pro dan kontra antar belah pihak, pasalnya ada beberapa tokoh public yang mendukung adanya tayangan film berGenre drama ini. Yang itu semua menjadi argumentasi seseorang serta kebebasan nya dalam bertindak. 

Dalam hal ini maka, Sistem liberal yang mengagungkan kebebasan, pembuatan film yang dilakukan agar bernilai bisnis yang menguntungkan, selama ada yg berminat dan menjanjikan keuntungan film akan dibuat dengan judul dan trailer yang sifatnya “menjual”.

Rezim saat ini nyatanya tidak mampu mengendalikan arus liberalisasi yang sedikit demi sedikit mulai menghancurkan generasi muda melalui tayangan film. Film yang dijajakan pun tidak mendidik, malah tidak menjamin bisa terkendali, adanya adegan tidak senonoh yang itu dilihat oleh ribuan orang khususnya kaum muda. Dalam Sistem Islam, semua diatur terutama untuk tontonan dan juga penayangan semua dilakukan adalah untuk edukasi, menanamkan sifat ketakwaan nya kepada Allah serta tidak ecek-ecek seperti hal nya drama film saat ini. 

Kebanyakan film saat ini hanyalah kisah kasih sepasang muda dan mudi yang itu semua tidak layak untuk dilihat, apalagi dilihat oleh remaja yang masih labil. Maka selama aturan Islam belum sampai ke kita, tidak menutup kemungkinan dan tidak akan menjamin akan lahirnya sosok muda yang memiliki kepribadian Islam. Melihat banyak nya tontonan yang tidak mendidik adalah faktor gagalnya terbentuk insan yang shalih. Remaja saat ini hanya di sibukkan oleh hal-hal yang sia-sia dan mudah baper. Wallahu A’lam.[]

*Mahasiswi UIN Banten, Fakultas Ushuluddin dan Adab

Comment

Rekomendasi Berita