by

Rahmi Surainah, M.Pd*: Film Dua Garis Biru, Edukasi Atau Provokasi?

Rahmi Surainah, M.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Trailer film berjudul “Dua Garis Biru” mengisahkan tentang sepasang remaja berpacaran bernama Bima dan Dara yang masih duduk di bangku SMA. Hubungan percintaan mereka sudah melampaui batas sehingga ketika tespeck dua garis bagi pelajar tentu menjadi aib, menjadikan kehidupan sekolah berubah dengan pertanggung-jawaban nikah muda. Cinta anak remaja yang mulanya berbunga-bunga setelah menikah dini menuai berbagai masalah, di antaranya risiko kehamilan di usia muda.
Nikah muda, masalah?
Film Dua Garis Biru dinilai menggambarkan nilai-nilai yang ingin ditanamkan dalam progam remaja di Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN Dwi Listyawardani, mengatakan film dua garis biru dapat membantu BKKBN dalam menjangkau remaja Indonesia lebih luas dengan progam Generasi Berencana (GenRe). (Antaranews.com,11/7/2019)
Film tersebut memberi pesan bahwa remaja harus memiliki rencana kehidupannya sejak awal hingga kelak membangun rumah tangga. Garis dua biru menggambarkan pernikahan di usia muda bisa merusak masa depan dan memupuskan berbagai cita-cita.
Dwi juga mengatakan film tersebut bisa menjadi edukasi kesehatan reproduksi remaja bahwa salah satu penyebab kematian ibu adalah kehamilan di usia terlalu muda. Film itu menggambarkan realita bahwa anak remaja sedikit mengetahui dan belajar tentang kesehatan reproduksi namun tidak mengetahui risiko-risiko akibat perkawinan di usia muda.
Dwi pun mengatakan BKKBN akan membawa film Dua Garis Biru sebagai sosialisasi progam agar bisa ditonton oleh remaja di seluruh provinsi. “Penyajiannya memang harus seperti ini, dalam bentuk ceramah orang nggak akan dengar, tapi dengan film seperti ini bisa tersampaikan,” kata Dwi.
Demikianlah pesan yang ingin disampaikan film Dua Garis Biru sesuai dengan kampanye BKKBN, yakni jangan gaul bebas akibatnya nikah muda penuh dengan masalah. Padahal, menurut penulis dan dalam Islam nikah muda bukan kesalahan, kesalahannya adalah penyebab yang berawal dari gaul bebas atau pacaran, berzina akibatnya hamil duluan.

Provokasi pacaran asal jangan hamil dan nikah muda
Beda pandangan dengan BKKBN, film Dua Garis Biru bagi Gerakan Profesionalisme Mahasiswa Keguruan Indonesia (Garagaraguru) di Change.org. mereka menilai ada beberapa di scene trailer yang menunjukan situasi pacaran melampaui batas, tontonan tersebut bisa mempengaruhi remaja untuk menirunya terlebih ketika menunjukkan adegan berduaan di dalam kamar yang menjadi rutinitas mereka. 
“Segala tontonan yang menjerumuskan generasi kepada perilaku amoral sudah sepatutnya dilawan (bukan tentang film Dua Garis Biru, melainkan film secara umum), karena kunci pembangunan negara ada pada manusianya. Mustahil apabila kita ingin mewujudkan Indonesia emas 2045, namun generasi muda masih sering disuguhkan tontonan yang menjerumuskan kepada perilaku amoral,” tulis petisi mereka. (Detikhot.1/5/2019)
Banya scene yang kontra dalam film Dua Garis Biru seperti adegan yang tidak senonoh, pacaran sampai masuk kamar berduaan dan adegan romantis sampai gaul bebas. Selain itu, bagi penulis tidak cukup demikian, pergaulan bebas atau adegan tidak senonoh yang distimulus lewat film Dua Garis Biru justru akan membuat remaja coba-coba, belajar gaul bebas tapi bagaimana tidak hamil. Boleh pacaran asal jangan hamil duluan dan jangan nikah muda karena akan banyak masalah.

Islam menjaga remaja
Sudut pandang manusia dalam menilai boleh berbeda, jadi wajar prokontra terjadi. Apalagi zaman modern saat ini tatanan kehidupan telah berhasil mengubah sudut pandang dan perilaku masyarakat, khususnya dalam pergaulan remaja. Dulu, pacaran masih dianggap tabu, “kucing-kucingan” dan sekedar surat-suratan, malu diketahui banyak orang. Sekarang pacaran dianggap hal biasa bahkan khawatir kalau tidak pacaran, pamer dan bangga diketahui banyak orang. 
Sudut pandang kapitalis sekuler memang menganggap pergaulan khususnya pacaran boleh, bahkan seks boleh asal suka sama suka. Apalagi cuma sekedar film Dua Garis Biru, atas nama edukasi reproduksi remaja dan potret hitam nikah muda maka dalam pandangan kapitalis sekuler tidak masalah mengisahkan pacaran dan nikah muda yang buruk.
Islam hadir justru sebagai solusi gaul bebas remaja dan nikah muda bukan sesuatu yang terlarang karena ada dalam syariat. Dalam Islam pergaulan antara laki-laki dan wanita diatur (nizhom ijtima’iy). Pelaku maksiat yang melanggar aturan Islam dalam pergaulan akan dihukum tegas, seperti zina, sodomi, homoseksual, LGBT, dll. Media dan masyarakat akan diatur dan diedukasi agar ketakwaan dan amar ma’ruf nahi munkar terus berjalan dalam kehidupan. Tidak akan terjadi media atau lingkungan masyarakat/pergaulan yang menstimulus remaja untuk gaul bebas seperti pacaran.
Sejatinya manusia telah Allah berikan potensi pada dirinya yaitu berupa naluri berkasih sayang (gharizah nau’). Tanpa harus diberikan tontonan seks edukasi mereka mampu menjalankan tugasnya dengan naluri tersebut melalui jalur halal yakni pernikahan. Jadi tidak ada namanya seks edukasi yang ada pengaturan hubungan laki-laki dan perempuan. Islam melarang segala sesuatu yang mendekati zina, yakni aktivitas berduaan, berpegangan, berpelukan, memandang dengan syahwat, termasuk pacaran.
Allah telah mengingatkan manusia:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Artinya “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

Dalam Islam, film hanya untuk dakwah dan edukasi
Edukasi keislaman berupa tauhid keimanan kepada Allah serta ilmu bagaimana pergaulan dalam Islam kepada para generasi muda akan membuat mereka jauh dari maksiat, salah satunya pergaulan bebas. Media pun termasuk perfilman dalam Islam hanya akan berfungsi untuk dakwah dan edukasi.
Beda halnya dalam sistem kapitalis sekuler saat ini, film berorientasi pada materi dan sekedar hiburan. Bahkan film sengaja menayangkan adegan pergaulan bebas untuk merangsang dan merusak masyarakat sehingga timbul berbagai kemaksiatan atau kerusakan akibat slogan kebebasan arus liberalisasi dari Barat.
Beredarnya film yang merusak generasi tidak hanya film Dua Garis Biru membuktikan negara saat ini tidak berdaya menghadapi arus liberalisasi melalui perfilman. Asas bisnis dengan mengambil manfaat berupa keuntungan dibuatlah judul dan trailer film yang menjual tidak peduli tontonan yang disajikan akan menjadi tuntunan bagi masyarakat, khususnya anak-anak remaja.
Seharusnya tidak bisa dengan dalih edukasi seks remaja menghalalkan tontonan, karena niat baik saja tidak cukup jika jalannya salah atau bertentangan dengan agama. Istilah pendidikan seks tidak ada dalam khazanah Islam tetapi yang ada bagaimana manusia memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya baik jasmani dan rohani sesuai aturan Allah. 

Dalam memenuhi kebutuhan hidup tersebut tentu muamalah atau interaksi terjadi. Interaksi laki-laki dan perempuan pun diatur oleh Islam agar terwujud kemaslahatan bagi kehidupan tercegah dari kerusakan seperti saat ini.

Sebenarnya, istilah pendidikan seks merupakan tsaqofah asing yang muncul dari budaya Barat sebagai perwujudan kebebasan berperilaku dan hak reproduksi, yakni manusia berhak penuh atas dirinya asalkan tidak membawa bahaya bagi dirinya seperti PMS, hamil tidak diinginkan, hiv aids, dsb. Tsaqofah asing merupakan ilmu yang khas terkait dengan ideologi tertentu tidak boleh dipelajari dan diajarkan. Islam punya aturan sendiri seperti menutup aurat, menundukkan pandangan, dilarang berduaan dan campur baur termasuk larangan pacaran agar interaksinya membawa kemulian dan kehormatan dunia akhirat.
Oleh karena itu, dunia perfilman tidak bisa terlepas dari sudut pandang atau ideologi yang diembannya termasuk sistem negara yang menerapkan aturan, apakah hukum manusia atau hukum Sang Pencipta yang diterapkan.
Dengan demikian perlu adanya perhatian dan kesadaran para orang tua atau keluarga, kontrol masyarakat atau lingkungan kondusif dan peran negara untuk menerapkan aturan Allah agar konten perfilman tidak bertentangan dengan agama. 
Tidak cukup, menyelesaikan persoalan remaja khususnya gaul bebas dengan solusi edukasi seks lewat perfilman saja. Ini tentu salah bidik bahkan menimbulkan masalah yang lain. Bila dan hanya Islam sebagai sistem komprehensif yang diterapkan oleh negara, maka remaja akan terjaga dari pergaulan bebas. Wallahu’alam.[]
*Mahasiswi  Pascasarjana Unlam

Comment

Rekomendasi Berita