by

Ratna Harumiasari, S. Pd*: Peran Dakwah, Kerja dan Keluarga Bagi Seorang Muslimah

Ratna Harumiasari, S. Pd

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Mengemban amanah dalam melakukan dakwah islam adalah tugas mulia. Baik bagi setiap muslim dan muslimah, karena Allah swt telah mewajibkan tugas mulia ini.  Sebaagimana Allah swt berfirman :

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kamu adalah umat yag terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik lagi bagi mereka; diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (Q.S : Al-Imran : 110)

Dakwah adalah aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar (Menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar). Sepatutnya, seorang muslim menjalankan aktivitas ini. Dan untuk dapat mengamalkannya maka ada tuntutan untuk memahami ilmu agama. Maka Allah swt memerintahkan umat muslim untuk menuntut ilmu sebagaimana dalam firman- Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis, “maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S : Al-Mujadalah : 11)

Lalu bagaimana mensikronisasikan antara dakwah, kerja, dan keluarga bagi seorang muslimah? mengingat dakwah membutuhkan totalitas tenaga dan waktu dan memang harus menjadi poros kehidupan.

_Muslimah Bekerja di Luar Rumah_

Sebagaimana Islam ini berjalan maka dakwah muslimah juga harus ditata, dikelola dan diorganisir secara baik dan teratur dengan kepemimpinan yang kokoh dan manajemen yang baik. Islam merupakan agama yang Rahmatan Lil’Aalamiin, bahasa modern nya Universal. Islam mengatur sedemikian rupa secara detail, bahkan hingga manusia tak kan pernah mendapatkan satu bahasan pun yang tidak ada dalam aturannya sesederhana apapun permasalahannya. Islam memberikan hak dan kewajiban sesuai fitrah manusia, baik laki-laki (Muslim) ataupun perempuan (Muslimah) sama-sama memiliki hak dan kewajiban sesuai fitrahnya.

Di zaman sekarang ini, semakin banyak wanita keluar dari rumahnya untuk bekerja. Hidup dalam sistem kapitalis, tuntutan kebutuhan rumah tangga dan biaya pendidikan yang mencekik, seperti ini tentu bukan situasi yang mudah dihadapi. Ketika peran utama mendidik anak dan seketika itu pula saya harus membantu suami dalam bekerja. Pertama, jelas memerlukan kekuatan fisik yang prima. Kedua, membutuhkan manajemen waktu yang baik agar ketiganya dapat terlaksana dengan baik pula. Dengan keadaan tersebut sulit untuk menjadi Muslimah ideal.
Hukum wanita bekerja di luar rumah adalah mubah. Adapun jika wanita mesti keluar rumah untuk bekerja, maka hal-hal berikut mesti diperhatikan:

– Mendapatkan izin dari walinya/suami (jika sudah menikah)
– Berpakaian secara syar’i
– Aman dari fitnah

Ketika syarat-syarat tersebut telah terpenuhi, maka wanita pun boleh keluar rumah bahkan untuk bekerja. Namun hendaknya dipahami lagi, jenis-jenis pekerjaan seperti apa yang boleh dilakukan oleh wanita, sesuai dengan aturan Islam. Beberapa pekerjaan yang diperbolehkan bagi wanita, selama syarat-syarat di atas terpenuhi, diantaranya adalah, dokter, perawat, guru, menenun, menjahit, bertani, dan berdagang (www.muslimah.or.id)

Namum demikian, rumah tetaplah menjadi syurga seorang Muslimah. Wanita boleh saja bekerja di luar rumah untuk mencari nafkah asalkan ia tidak melalaikan tugasnya untuk mengurus rumah tangga atau keluarganya. Waktu yang dimiliki wanita sebaiknya tidak dihabiskan di luar rumah untuk bekerja melainkan ia tetap harus mengerjakan pekerjaan rumah dan mendidik anak-anaknya. Tugas tersebut sebenarnya tidak boleh dilimpahkan pada pembantu atau asisten rumah tangga karena pembantu bukanlah orang yang tepat untuk menjaga dan mendidik seorang anak. Biasanya wanita karir cenderung sudah merasa lelah jika ia pulang bekerja sehingga tidak memiliki banyak waktu untuk keluarganya. Sesibuk apapun aktivitas seorang istri baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Ketika mengabaikan tanggung jawabnya sebagai ibu maka ini adalah perkara dosa besar.  Karena tugas utama seorang isteri dan wajib hukumnya adalah mendidik anak-anaknya dengan pendidikan islam. Karena hal ini adalah tanggung jawab utamanya.

_Dakwah Seorang Muslimah_

Sebenarnya antara bekerja dengan berdakwah tidak perlu dibenturkan karena keduanya bisa dilakukan secara sinergi. Dakwah adalah mengajak orang lain kembali kepada Islam (Allah SWT). Melihat pengertiannya, sebenarnya lahan dakwah amat luas. Tidak hanya berupa ceramah atau pengajian saja, tapi juga semua kegiatan yang mengajak orang lain untuk kembali kepada Tuhannya. Termasuk dalam hal ini adalah ketika Anda mendekati teman sekantor dan mengajaknya untuk ber-Islam dengan benar. Bisa juga berupa bekerja dengan disiplin dan profesional, sehingga bisa menjadi teladan bagi pegawai lainnya. Jadikan lingkungan kerja sebagai lahan dakwah kita juga, bahkan bisa jadi lahan dakwah yang subur. Caranya dengan mengintensifkan dakwah di lingkungan kerja. Jangan malu dan sungkan berdakwah. Percaya diri dan berani untuk berdakwah di lingkungan kerja.

Jika pun ada tantangan dan ancaman dari aktivitas dakwah di kantor hal itu biasa terjadi dan merupakan sunnatullah (ketetapan Allah) atas para aktivis dakwah. Bahkan Rasulullah saw yang dakwahnya begitu sempurna masih menghadapi hambatan dalam berdakwah. Apalagi kita yang masih belajar berdakwah tentu akan menghadapi hambatan juga dalam berdakwah. Bekerja bukanlah menjadi alasan bagi seorang Muslimah untuk tidak berdakwah. Bagaimanapun dakwah tetaplah harus menjadi poros kehidupan.

_Peran Muslimah di Rumah_

Di satu sisi muslimah adalah seseorang yang juga dibutuhkan banyak ummat muslimah diluar sana, tetapi di sisi lain ia juga tetap seorang istri yang harus taat kepada suaminya sebagai kewajiban utamanya, sebagai seorang ibu yang menjadi madrosatul ula bagi anak-anaknya, sebagai seorang anak yang berkewajiban birrul walidain dan karena itulah keluarga juga menjadi bagian paling utama sebagai yang paling berhak mendapatkan sentuhan dakwahnya.

Meski demikian, seberat apapun muslimah hendaklah tetap harus melibatkan Allah di setiap urusan dan keputusannya. Tak ada yang tak mungkin bagi Allah, setiap permasalahan ada solusinya dan petunjuk Allah adalah solusi terbaik meski terkadang seorang hamba merasakan itu tidak baik baginya namun bisa jadi itulah yang terbaik baginya menurut Allah.

Ada komunikasi yang baik bersama semuanya yang mungkin bisa menjadi salah satu kesiapsiagaan semua pihak dalam mendukung jalan dakwah muslimah. Ada kesulitan yang bisa berbalik menjadi kemudahan dalam menjalankan amal-amal tersebut. Ada ilmu yang menjadi penguat dalam setiap langkah amal dakwah muslimah.

Ada pertolongan Allah disetiap langkah dan lantunan doanya. Muslimah berdakwah tak hanya dengan kata-kata dan amal perbuatan fakta. Namun muslimah juga akan selalu berdakwah membawa doa dan air mata pengharapan kepada Allaah sebagaimana seorang ibu berurai air mata mendoakan putra putrinya. Karena muslimah bukanlah penentu takdir hidayah dari dakwah ini maka doa itulah yang menjadikan kekuatan dakwah ini sebagaimana doa adalah senjata orang beriman.

Adalah nama besar semisal Khadijah binti Khuwailid ra, Fathimah Az-Zahra, Asma binti Abu Bakar, Sumayyah, Ummu Habibah binti Abu Sufyan,  Lubabah binti al-Harits al-Hilaliyah, Fathimah binti al-Khaththab, Ummu Syarik Radhiyallahu ‘anhuma jamian, dan lain-lain yang semenjak bersentuhan dengan Islam keseharian mereka hanya dipersembahkan demi kemuliaan Islam. Tak satupun di antara mereka meski sejenak tertinggal dari satu peristiwapun, apalagi berlepas diri dari tanggungjawab memperjuangkan dienul haq, seberapapun besarnya resiko yang harus mereka hadapi. Sebagian dari mereka ada yang harus kehilangan harta, terpisah dari orang-orang yang dicinta, bahkan rela ketikapun harus kehilangan nyawa. Karenanya tak berlebihan jika dikatakan bahwa merekalah pelopor dan peletak dasar pilar-pilar pergerakan muslimah yang hakiki, yang layak menjadi teladan pergerakan muslimah dari jaman ke jaman.

Dan inilah sekelumit frasa sejarah mengenai keberadaan gerakan muslimah generasi Islam awal. Kiprah nyata mereka ini justru telah menafikan ‘keyakinan’ dan sekaligus ‘kecurigaan’ sebagian kalangan yang berpendapat bahwa Islam sama sekali tak memberi ruang bagi kaum perempuan untuk berkiprah di tengah-tengah umat, turut serta membangun masyarakatnya menuju kebangkitan yang hakiki.

Maka, diatas pilar-pilar keteladanan mereka inilah generasi sesudah mereka membangun kekuatan. Sudah saatnya bagi Muslimah untuk ikut terlibat dalam aktivitas dakwah yang bertujuan untuk mengembalikan kehidupan Islam. Dalam kehidupan Islam para Muslimah akan mendapat tempat yang terhormat. Kalau kita tidak bisa merasakan hasilnya, mudah-mudahan anak cucu tidak mengalami hal yang sama. Semoga idealitas dapat seiring sejalan bersama realitas ini. Semoga muslimah senantiasa semangat berjuang di setiap perannya dengan segala ujiannya masing-masing. Karena sebuah proses adalah kunci segala amal dengan niat dan ‘azzam yang baik dan kuat. Semoga Allah SWT selalu melindungi kita dan memberikan jalan yang terbaik untuk menjalani kehidupan ini.. Aamiin Allahumma Aamiin. Wallaahu A’lam Bisshowaab.[]

*Member Revowriter

Comment

Rekomendasi untuk Anda