by

Rina Tresna Sari, S.Pdi*: Menjadi Istri Sholehah

Rina Tresna Sari, S.Pdi
RADARINDONEIANEWS.COM, JAKARTA – Memiliki Istri shalihah adalah impian setiap suami. Begitupun seharusnya gelar ukhrawi ini idealnya menjadi obsesi setiap wanita. Untuk meraih figur mulia ini, salah satu kiat yang harus dilakukan seorang wanita adalah taat dan menghargai suaminya dalam rangka ketaatan pada Allah Ta’ala.
Namun tidaklah mudah menjadi wanita shalihah, butuh keimanan kuat dan perjuangan berat, sebagaimana yang tergambarkan dalam episode kehidupan shahabiyah yang kisah mereka, semoga memotivasi para wanita agar tampil menjadi perhiasan dunia terindah.
Diceritakan dalam hadits ‘Umar radhiyallahu ’anhu,  “Kami dari kalangan Quraisy biasa mengalahkan wanita-wanita kami ketika kami datang ke kota al-Madinah berjumpa dengan kaum al-Anshar. Tiba-tiba kami dapati mereka adalah kaum yang dikuasai oleh kaum wanita. Hampir-hampir saja wanita-wanita kami meniru kebiasaan wanita-wanita al-Anshar. Aku pernah membentak istriku, namun ia melawan. Aku menyalahkan perbuatannya yang melawan diriku. Istriku menjawab, “Mengapa engkau menyalahkan diriku yang melawan kepadamu? Demi Allah sesungguhnya istri-istri nabi pun melawan beliau sampai ada salah satu istri beliau yang meninggalkan sehari semalam.”
Pernyataan istriku itu sungguh membuat diriku terkejut. Akupun berkata, “Sungguh celaka wanita yang melakukan perbuatan seperti itu.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 5191)
Demikianlah dalam pergaulan suami istri dibutuhkan kesabaran ekstra. Mencari keridhaan pasangan agar romansa kehidupan pasutri harmonis lahir batin dunia akhirat tentunya sangat dibutuhkan kekuatan iman dan sabar. Perlu menahan emosi dan amarah ketika konflik melanda karena hal ini akan menjauhkan pengaruh dan bisikan setan. 
Bisa jadi problematika ketidaktaatan istri pada suaminya karena ia dipermainkan oleh setan sehingga nampak keburukan dan kelemahan suaminya. Istri shalihah harus menyandarkan harapan dan tujuan hidupnya kepada Allah Ta’ala. Bukankah surga memang terhijabi hal-hal yang tidak disukai? Bukankah ini rumah tangga di dunia? Wajar bila penuh perkara yang kadang membuat rona kehidupan rumah tangga bergejolak. Allah Ta’ala berfirman,
 “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, apabila ditimpa kemarahan dari setan, mereka segera ingat kepada Allah maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahan mereka).” (QS. Al-A’raf : 201)

Menguatkan sabar dan selalu  bersyukur

Berumah tangga tentulah penuh dengan onak dan duri. Salah satunya ketika muncul tanda-tanda berkurangnya tingkat kualitas dan kuantitas ketaatan seorang istri kepada suaminya, maka sang istri perlu mempererat kesabaran dan mengedepankan rasa syukur bahwa memiliki suami shalih yang taat pada syariat merupakan anugerah istimewa yang harus disyukuri. Apabila konflik melanda rumah tangga kita, maka yang harus kita lakukan adalah mengelola emosi dengan bijak serta menahan diri dari perkara-perkara yang dibenci suami. Inilah salah satu kunci sukses untuk menjadi istri yang taat. Inginkah Anda, wahai wanita shalihah melanjutkan perjalanan ini hingga meretas ke surga? Sabar dalam meniti tangga biduk cinta, menguatkan hati untuk mensyukuri kebaikan suami niscaya Anda akan menjadi pengantin akhirat.
Ibnul Jauzi mengatakan, “Tidaklah ada dalam beban syariat ini sesuatu yang lebih susah daripada bersabar menghadapi ketetapan, dan tidak ada sesuatu di dalamnya yang lebih utama daripada bersikap ridha terhadapnya.” (Shaidul Kathir hlm. 107)

Ketaatan Berbuah Manis

Semua khidmat istri kepada suami merupakan amalan pembuka kebahagiaan abadi. Selayaknya kaum wanita gembira menyambut janji Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktu, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, niscaya dia akan masuk surga dari pintu-pintu surga yang dia sukai.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya no. 1661, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no. 4151, dihasankan al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 1931)
Agar ketaatan kepada suami terasa ringan dan mudah sesuai  petunjuk Allah Ta’ala. Tentulah diperlukan banyak berdoa agar kita bisa mengemban amanah sebagai istri yang dicintai suami, diridhai Allah Ta’ala dan mampu menjadi pasutri yang selalu menaati-Nya sehingga hidup kita  barakah dan selalu dihiasi dengan kebahagiaan. Aamiin.[]
*Praktisi pendidikan, tinggal di Rancaekek, Bandung

Comment

Rekomendasi untuk Anda