by

Rosmita*: Kerusakan Moral Remaja, Tanggung Jawab Siapa?

Rosmita 

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Remaja adalah masa di mana seseorang mengalami masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Di masa ini seseorang sedang mencari jati dirinya. Kurangnya perhatian dari orang tua dan minimnya pengetahuan agama membuat remaja menjadi labil dan mudah terbawa arus. Apabila lingkungan dan teman-temannya buruk maka remaja akan mudah terpengaruh.

Maraknya kasus bullying, seks bebas, narkoba, dan  tawuran di kalangan remaja, membuktikan kerusakan moral remaja yang kian hari kian parah. Bahkan banyak kasus yang sampai menelan korban jiwa.

Menurut KPAI, jumlah kasus pendidikan per 30 Mei 2018, anak korban kekerasan dan bullying sebanyak 36 kasus atau 22,4 persen, sedangkan anak pelaku kekerasan dan bullying sebanyak 41 kasus atau 25,5 persen. Belum termasuk kasus-kasus kenakalan remaja lainnya.

Komnas Perlindungan Anak (KPAI) berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan melakukan survei di berbagai kota besar di Indonesia menyatakan sebuah data, “62,7% remaja di Indonesia melakukan hubungan seks di luar nikah.”

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai kasus narkoba semakin mengancam anak-anak. Jumlah pengguna narkoba di usia remaja naik menjadi 14 ribu jiwa dengan rentang usia 12-21 tahun.

Jumlah tersebut terbilang fantastis karena data terakhir dari Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Puslitkes Universitas Indonesia menyebutkan total pengguna narkoba segala usia mencapai 5 juta orang di Indonesia. Angka tersebut 2,8 persen dari total seluruh penduduk Indonesia pada 2015.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia mencatat sekitar 202 anak berhadapan dengan hukum akibat terlibat tawuran dalam rentang dua tahun terakhir.

Komisioner KPAI, Putu Elvina mencatat sekitar 74 kasus anak dengan kepemilikan senjata tajam. Kondisi  tentu saja ini sangat memprihatinkan.

Data-data di atas menjadi bukti kerusakan moral remaja yang sangat parah telah terjadi di negeri ini.

Remaja yang seharusnya menjadi generasi penerus bangsa justru rusak moralnya, lalu apa yang bisa diharapkan dari mereka? Bagaimana mereka akan membangun negeri ini jika mereka tak lagi memiliki budi pekerti yang baik. Jangankan berprestasi, mereka malah sibuk membuat kerusakan di muka bumi. Lalu siapakah yang bertanggung jawab atas kondisi ini? Si anak, orang tua, atau negara?

Kerusakan remaja sudah sangat memprihatikan dan harus ada upaya pencegahan agar generasi penerus bangsa dapat terselamatkan. Sejatinya kerusakan moral remaja ini menjadi tanggung jawab semua pihak. Dibutuhkan peran orang tua, masyarakat, sekolah, bahkan negara, demi menghasilkan generasi yang cemerlang dan berakhlak mulia.

Peran orang tua dalam mendidik anak adalah hal utama dalam membentuk karakter pribadi anak. Oleh karena itu orang tua harus berperan aktif dalam mendidik anak dengan menanamkan aqidah yang kuat dan memberi contoh yang baik kepada anak karena anak adalah cerminan orang tua. Begitu besar peran orang tua dalam mendidik anak, terutama seorang ibu yang menjadi madrasatul ula (sekolah pertama) untuk anak-anaknya.

Peran masyarakat dan lingkungan juga turut mempengaruhi kepribadian seorang anak. Dengan siapa dia berteman akan menentukan bagaimana akhlaknya.

Peran guru dan sekolah sangat penting dalam mencetak generasi yang  cemerlang dan berakhlak mulia dengan menerapkan kurikulum pendidikan berbasis aqidah Islam.

Peran negara tak kalah pentingnya dalam menjaga aqidah umat terutama remaja sebagai generasi penerus bangsa. Negara wajib menerapkan syariat Islam sebagai sistem yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Negara juga harus menegakkan hukum-hukum Islam.

Pencuri dipotong tangan, berzina dicambuk dan dirajam, pembunuh dihukum mati dsb. Negara juga harus mengontrol media baik media elektronik dan cetak maupun media daring, seperti media sosial dll agar tsaqofah asing dan virus pornografi dapat dihindari.

Namun dalam sistem yang ada saat ini, yaitu sistem liberalisme sekulaer yang menjunjung tinggi kebebasan telah memisahkan agama dari kehidupan. Hal ini menyebabkan para remaja jauh dari nilai-nilai Islam. Bahkan semua elemen seolah abai dengan kerusakan moral remaja yang terjadi.

Orang tua disibukkan mencari materi Dan banyak ibu yang lebih memilih bekerja di luar rumah daripada mendidik anak-anaknya. Alasannya untuk membantu suami mencari nafkah. Banyak pula yang bekerja hanya sekedar gengsi dan harga diri. Anak-anak pun terlantar dan mereka kurang kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tua  ditambah minimnya pemahaman agama dan tsaqofah Islam. Akhirnya anak-anak terjerumus kepada seks bebas dan narkoba.

Begitu pula dengan masyarakat, jauh dari pemahaman agama yang lurus menjadikan mereka pribadi-pribadi individualis dan tidak peka terhadap masalah sosial yang menimpa remaja. Hilangnya amar ma’ruf nahi munkar kian memperparah kerusakan moral remaja.

Guru dan sekolah gagal mencetak generasi khoiru ummah

Apalagi negara sebagai benteng aqidah umat seolah lalai menjalankan peran menjaga dan melindungi remaja. Padahal negara dengan segala institusinya bisa mencegah kerusakan moral remaja.

Berbeda dengan sistem Islam yang sempurna dalam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Telah terbukti lebih dari 13 abad lamanya Islam berjaya memimpin dunia, dan berhasil melahirkan generasi yang cemerlang. Generasi khoiru ummah yang berakhlak mulia dengan segudang prestasi. Mulai dari ilmuwan, ulama, pemimpin, hingga mujahid-mujahid tangguh lahir disana.

Oleh karena itu untuk menyelamatkan remaja dari kerusakan moral tidak lain dan tidak bukan hanyalah dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah.  Sistem Islam hanya bisa tegak dengan tiga pilarnya yaitu ketakwaan individu, kontrol masyarakat, dan negara yang menerapkan aturan Islam. Wallahu a’lam bishawab.[]

*Aktivis dakwah

Comment

Rekomendasi untuk Anda