by

Sania Nabila Afifah*: Industri Bagian Dari Kekuatan Sebuah Negara

Sania Nabila Afifah

RADARINDONESW. COM, Kekuatan suatu negara bisa dilihat dengan adanya industri. Dengan industri tersebut negara dapat menunjukkan kewibawaan dan kekuatannya pada negara lain. Jika Industrinya lemah maka sebuah negara mudah dikalahkan serta dilihat tak berdaya maka musuh akan sangat mudah menjajahnya dan kalahkan negara tersebut.

Allah SWT berfirman: “ Dan siapkan lah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan kuda-kuda yang ditambat-kan untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah, musuh kalian, dan orang-orang selain mereka yang kalian tidak ketahui sedangkan Allah mengetahuinya. (TQS.al-Anfal 60)

Dari ayat ini, maka dapat dipahami bahwa menggentarkan musuh itu tentu tidak akan terealisasi kecuali dengan adanya persiapan, sementara persiapan itu mengharuskan adanya Industri. Jadi ayat tersebut telah menunjukkan wajibnya mendirikan industri militer. Didasarkan pada kaidah ‘suatu kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengan adanya sesuatu maka sesuatu itu menjadi wajib hukumnya’.

Industri yang diwajibkan Allah agar didirikan bukan hanya terbatas pada industri militer. Terdapat industri-industri lain yang wajib didirikan oleh negara. Perindustrian hal itu negara wajib mendirikan dua macam industri sebagai konsekuensi kewajiban memelihara kemaslahatan masyarakat.

pertama: industri yang berhubungan dengan harta kekayaan yang termasuk dalam kepemilikan umum, seperti industri eksploitasi barang tambang berikut pemurniannya, peleburan, dan industri pengeboran minyak bumi beserta kilang-kilang penyulingan. Industri-industri jenis ini dikuasai sebagai milik umum sesuai dengan ngan komoditasnya yang diusahakannya dan yang berhubungan dengan industri itu. Karena harta milik umum dikuasai sebagai milik umum bagi seluruh kaum Muslim, maka industri yang mengusahakannya juga dikuasai sebagai milik umum bagi kaum Muslim. Dalam hal ini negara membangun dan mengelola industri tersebut mewakili kaum Muslim.

Kedua: industri yang berhubungan dengan industri berat dan industri persenjataan. Industri jenis ini boleh dimiliki oleh individu karena komoditasnya termasuk kedalam kepemilikan individual. Akan tetapi, industri-industri ini membutuhkan modal yang sangat besar, hal itu sering sulit terpenuhi pada diri orang-perorang. Disamping itu, saat ini senjata tidak dikategorikan sebagai senjata perorangan yang dimiliki oleh individu, seperti halnya pada masa Rasulullah. Dan khalifah sesudah Beliau, tetapi milik negara.

Namun sayang di negeri kita saat ini perindustrian malah dikuasai oleh asing, dan industri baja pun dalam keadaan terancam bangkrut. Sehingga hal tersebut melemahkan kondisi negara, hingga penjajah mudah sekali menguasai aset milik rakyat. Juga merajalelanya barang impor yang masuk ke negeri ini. Salah satunya adalah baja.

Dilansir dari Kompas.com – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Fadli Zon menilai merajalelanya impor baja di Indonesia akibat pemerintah yang tidak memberikan perhatian kepada industri baja nasional.

Ia mengaku iri dengan kebijakan Donald Trump yang melindungi produk-produk lokal AS melalui perintah eksekutif (Executive Order).

Dalam aturan tersebut, dijelaskan oleh Fadli, Pemerintah AS memerintahkan agensi-agensi pemerintahan federal untuk membeli produk-produk dengan komponen lokal lebih tinggi.

Jadi, kata Fadli, jika sebelumnya standar produk komponen lokal di AS hanya 50 persen untuk produk non-baja dan non-besi, dengan adanya perintah itu kini dinaikkan menjadi 75 persen.

Sementara itu, untuk produk baja dan besi, syarat kandungan lokal bahkan dinaikkan menjadi 95 persen. Inilah yang semakin memperkuat standar preferensi barang lokal AS.

Hal itu, lanjut Fadli, sangat berbanding terbalik dengan di Indonesia. Contohnya bisa dilihat dari keadaan industri baja nasional, khususnya PT Krakatau Steel.

Perlu diketahui, selama enam tahun terakhir PT Krakatau Steel terus menerus mengalami kerugian yang disebabkan oleh masalah internal perusahaan. Belum lagi peraturan pemerintah yang memungkinkan terjadinya impor baja besar-besaran.

“Pemerintah kita belum juga merilis kebijakan untuk melindungi PT. Krakatau Steel dan industri logam nasional dari serbuan produk-produk impor,” katanya.

Tak berhenti sampai di situ, Fadli pun mempertanyakan bagaimana produk baja nasional bisa kompetitif jika pemerintah justru membebaskan bea masuk baja impor.

Menurutnya, serbuan baja impor yang terjadi beberapa tahun terakhir merupakan implikasi dari terbitnya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 22 Tahun 2018 tentang Ketentuan Impor Besi atau Baja, Baja Paduan dan Produk pungkas dia.

Begitulah keadaannya, keadaan saat ini sudah terbalik. Jika pada masa Islam berjaya semua industri hanya dikelola oleh kaum muslim dan digunakan untuk kemaslahatan umat Islam serta sebagai sarana dakwah untuk memperluas wilayah kekuasaan Islam dengan membuka negeri-negeri dan wilayah baru diajak agar memeluk Islam. Yaitu dengan jihad. Jihad tersebut membutuhkan adanya Industri tersebut. Untuk membuat senjata semisal manjanik, dababah, pedang, busur, dan lainnya.

Cengkraman sistem kapitalis tak mampu membuat penguasa peka bahkan hilang kesadaran politiknya dalam mempertahan kan kekuatan negara dan kewibawaannya. Kebebasan kepemilikan menjadikan semua aset rakyat raib di tangan para penjajah. Yang berpayungkan hukum atas dasar itulah industri yang seharusnya bisa dikelola sendiri oleh negara dan hasilnya dapat dinikmati bersama. Pada akhirnya hanya para kapital saja dan orang disekitarnya saja yang dapat menikmati hasil dari industri tersebut.

Sudah saat nya kita beralih pada sistem Islam. Yaitu Khilafah yang akan menerapkan aturan Islam dan juga melahirkan penguasa yang bijaksana, adil, dan bertaqwa serta hanya memimpin umat manusia ke jalan yang lurus. Karena kelak seorang pemimpin akan ditanya atas kepemimpinan-nya. Wallahu a’lam bis shawab.[]

*Komunitas Muslimah Rindu Jannah

Comment

Rekomendasi Berita