by

Siti Rahmah*: Islamophobia Sasar Negeri Mayoritas Muslim

Siti Rahmah

RADARINDONESIANEWS.COM,JAKARTA –  Tinggal di negeri yang penduduknya mayoritas muslim bukan lah jaminan tidak terkena virus menakutkan yang bernama islamophobia. Nyatanya virus ini kian menggejala dan menggila di nusantara, menyasar semua kalangan dan lapisan masyarakat. Tak heran jika di negeri mayoritas muslim ini pun banyak ditemui fakta yang tidak jauh berbeda dengan dengan negara-negara Eropa. Di Eropa penyakit ini sudah lama menjangkiti masyarakat seiring dengan perkembangan Islam disana yang semakin pesat, Islamofobia pun kian meningkat.

Peningkatan paling signifikan untuk periode 2007-2017 bisa dilihat di Eropa, di mana 20 negara membatasi pakaian yang berhubungan dengan agama termasuk burqa dan cadar yang dikenakan oleh beberapa wanita Muslim. Seperti di Austria telah memberlakukan larangan pemakaian cadar yang menutupi seluruh wajah di ruang publik. Jerman telah melarang cadar bagi siapa pun yang mengendarai kendaraan bermotor atau bekerja di dinas sipil sementara beberapa gubernur kota di Spanyol juga memberlakukan larangan burqa dan cadar.

Di Swiss, para warga yang memiliki hak suara untuk berpolitik secara nasional memilih untuk mendukung larangan pembangunan menara-menara baru. Pew juga melaporkan jika ribuan pengungsi di Jerman dipaksa untuk pindah agama menjadi Kristen, setelah diperingatkan mereka kemungkinan akan dideportasi. Viva.co id

Kondisi itu kini justru dirasakan di Nusantara geliat phobia dengan ajaran Islam mulai membahana. Misalnya seperti penolakan terhadap ide khilafah yang jelas-jelas ajaran Islam. Hal ini dinyatakan oleh Wiranto yang menegaskan anggota HTI tidak boleh menyebarkan paham khilafah atau ideologi lain yang bertentangan dengan Pancasila dan NKRI. Wiranto menegaskan larangan ini juga berlaku bagi ormas lainnya. Tentu saja seruan itu tidak berlandas bagaimana mungkin paham khilafah yang memiliki landasan historis dan teologi dituduh sebagai pemecah belah. Justru fakta sejarah menggambarkan kegemilangan institusi khilafah yang mampu menyatukan kaum muslimin di dunia.

Phobia dengan Islam juga ditunjukan dengan munculnya sentimen terhadap pakaian muslimah. Upaya membenturkan pakaian muslimah dengan pakaian adat berupa kebaya marak disuarakan. Mereka menuduh gamis dan kerudung sebagai budaya Arab, sehingga sebagai masyarakat Indonesia kita dituntut untuk melestarikan budaya setempat. Ini adalah upaya pendangkalan pemahaman umat. Bagaimana mungkin pakaian muslimah yang terdiri dari gamis dan kerudung disebut sebagai budaya Arab, padahal perintah untuk mengenakannya termaktub dalam Al Qur’an Surata Al Ahzab ayat 59 dan An nNur ayat 31. Perintah itu jelas ditunjukan untuk muslimah bukan untuk orang Arab.

Selain pakaian, simbol Islam pun kembali mereka permasalahkan, pengibaran bendera tauhid yang dilakukan siswa-siswi MAN1 Sukabumi mendapat teguran keras dari Menag. Menag memerintahkan untuk melakukan investigasi terkait peristiwa tersebut. Sebenarnya apa yang salah dengan pengibaran bendera tauhid? Bukankah itu bendera rasulullah? Warisan untuk umat, sehingga hal yang wajar ketika umat mencintai, membanggakan dan menjaganya bak barang pusaka.

Phobia dengan Islam tidak hanya cukup disitu, baru-baru ini muncul sebuah buku yang mendiskreditkan Islam bahwa kajian-kajian yang dilakukan dengan kelompok-kelompok kecil yang berbentuk lingkaran atau sering di sebut dengan halaqah-halaqah adalah cikal bakal radikalisme dan terorisme. Padahal kebiasaan melakukan kajian dengan bentuk lingkaran (halaqah) ini sebenarnya bersumber dari Nabi  Muhammad. Dicontohkan ketika melakukan bai`ah `Aqabah Kanjeng Nabi duduk dikelilingi oleh para muslim awal dari Madinah (Yatsrib).

Tradisi tersebut kemudian berkembang sebagai pengajaran di masjid-masjid di dunia Islam awal, dengan pengajarnya adalah para sahabat yang dikirim Nabi Muhammad. Para tabi`in meneruskan tradisi ini di masjid-masjid, sehingga dikenal Halaqah Imam Hasan al-Bashri, Halaqah Imam asy-Syafi`i, dan lain-lain.

Tradisi halaqah juga pernah terkenal di Haramain (Mekah dan Madinah) pada abad ke-19 sehingga para syaikh dan guru besar mumpuni di kalangan Islam, dikenal memiliki halaqah di sana dengan sejumlah para murid, di antaranya Syaikh Mahfudz at-Tirmasi, Syaikh Alwi al-Maliki, dan lain-lain.

Meneruskan tradisi ini, para pendiri NU setelah pulang dari Haramaian,  di tempat masing-masing membuat halaqah pengajian dan pengajaran dengan diikuti murid-murid tertentu, yang kemudian berkembang menjadi pesantren.

Dari sini nampak sekali bahwa tradisi halaqah adalah napak tilas Rasulullah, para sahabat dan ulama-ulama terdahulu. Sehingga upaya mendiskreditkan ya adalah sesat fikir sebagai bentuk phobia terhadap Islam. Padahal dalam realitanya halaqah-halaqah inilah yang mampu membina generasi menjadi generasi terbaik.

Apa yang terjadi di negeri tercinta ini tentu tidak bisa dibiarkan. Umat Islam tidak boleh menutup mata dengan realita yang sedang dialami. Penyakit yang menjangkiti umat harus segera disembuhkan. Apalagi virus yang sedang tersebar itu adalah virus yang sangat berbahaya dan mematikan. Bagaimana mungkin di negeri mayoritas muslim mereka terjangkiti islamophobia? Bagaimana mungkin seorang muslim phobia dengan ajarannya? Semua ini terjadi ketika umat semakin jauh dari ajaran agamanya.

Ini adalah masalah serius yang harus segera ditangani, kita harus mengembalikan ajaran Islam ke tengah-tengah umat. Kita punya PR besar untuk memberikan pemahaman yang benar ditengah-tengah umat. Kita punya tanggung jawab untuk menyadarkan umat agar kembali mencintai, menerapkan dan memperjuangkan agamanya. Alih-alih membencinya seharusnya umat berada di garda terdepan dalam menjaga dan meninggikan kemuliaan Islam.

*Anggota Revowriter Karawang

Comment

Rekomendasi untuk Anda