by

Warastiawati*: Kapitalisme Lahirkan Kejahatan Human Trafficking

Warastiawati
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Semakin berkembangnya zaman, maka semakin masif juga banyak bentuk kejahatan yang ada di berbagi negeri. Sebut saja sebuah kejahatan perburuan organ tubuh yang dilakukan etnis China komunis terhadap kaum muslim sebagai salah satu sumber pemasukan kekayaan mereka. 
Tindakan kejahatan ini semakin bertransformasi, kreatif dan terorganisir serta terjalin diberbagai belahan negara di dunia menjadi sebuah bentuk Kejahatan Transnasional. Kejahatan transnasional  (Transnational Crime (TC)) adalah kejahatan lintas  batas negara yang dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung dan melibatkan lebih dari satu negara. 
Tindakan semacam ini biasanya disebut dengan Humman Trafficking atau Perdagangan Manusia yang dimana adalah segala bentuk jual beli terhadap manusia dan juga eksploitasi terhadap manusia itu sendiri seperti pelacuran, perbudakan atau praktek yang menyerupainya dan juga perdagangan atau sampai pada tingkat pengambilan organ tubuh manusia. 
Seiring dengan keberhasilan dan kemajuan teknologi hingga ditemukannya metode transplantasi organ manusia menimbulkan sebuah fenomena baru. Pasalnya  menurut temuan OECD (Organisation for Economic Cooperatin and Development) dengan transplantasi yang berhasil harapan hidup seseorang dapat meningkat hingga 20 tahun dari rata-rata usianya, yakni bisa mencapai 82,2 tahun untuk wanita dan 76,7 tahun untuk laki-laki. Hal ini mejadikan sebuah harapan baru kepada semua orang untuk meningkatkan longviety (Harapan Hidup) lebih lama.
Dalam sebuah video terdapat seorang dokter yang tengah berbicara. Menurut dokter yang bernama Enver Tohti itu, dirinya ditugaskan untuk mengambil organ tubuh Muslim Uyghur oleh pemerintah China. Pengakuan Dokter China yang ditugaskan untuk mengambil organ tubuh Muslim Uyghur. Kebiadaban Rezim China Komunis terhadap Muslim Uyghur melebihi kebiadaban bangsa manapun. (https://m.eramuslim.com 01/06/2019).
Lebih dari 2 juta Muslim Uyghur ditahan di jaringan kamp konsentrasi dan penjara di seluruh Xinjiang dan seluruh Cina. Itu merupakan penahanan massal terbesar terhadap minoritas agama tertentu setelah “pembantaian pogrom” pada abad 19 pertengahan. Oleh karena itu, kasus terhadap praktik barbar pengambilan organ hidup umat Islam yang dilakukan Cina menjadi semakin memberatkan kasus ini.
Dan ada yang lebih biadab, demi pundi-pundi rupiah, ada yg membela China dengan menutupi fakta. Sebelumnya, di tengah desakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang meminta agar pemerintah dapat membantu pembebasan warga Uyghur, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengaku tidak dapat melakukan bantuan dengan alasan tidak dapat mencampuri kebijakan bangsa lain. “Tentu saja kami menolak atau (ingin) mencegah pelanggaran hak asasi manusia. Namun, kami tidak ingin campur tangan dalam urusan domestik negara lain,” Jusuf Kalla dikutip dari The Jakarta Post pada Senin 17 Desember 2018. (https://m.eramuslim.com).
Sebagian besar ulama kontemporer membolehkan transplantasi organ tubuh dari orang yang masih hidup selama menimbulkan dhoror kepadanya (seperti dilakukan ketika sakit atau dilakukan pada objek vital yang menimbulkan kematian). Namun demikian, mereka berbeda pendapat dalam hal istidhlal (penetapan dan penggalian dalil atas fakta yang dihukumi). Diantara nash yang dijadikan dalil bahwa badan manusia adalah haqqullah adalah firman Allah swt:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. 51:56)
لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَى حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ
“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit” (QS. an-Nur: 61)
Adapun  transplantasi organ tubuh dari orang yang sudah mati, maka para ulama sepakat bahwa hukum aslanya tidak boleh karena melanggar kehormatan mayat. Disamping itu, Dalam riwayat ‘Aisyah. ra, Rasulullah Saw, melarang memecahkan tulang mayat seorang mukmin.
إن كسر عظم المؤمن ميتا مثل كسره حيًا (رواه أبو داود)
“Sungguh memecah tulang seorang mukmin setelah ia mati, sama seperti memecahkannya pada saat masih hidup” (HR. Abu Dawud).
Human Trafficking atau perdagangan manusia yang tercakup juga jual-beli organ tubuh, hal ini di dalam islam jelas merupakan tindakan pembunuhan dan keji yang dilarang oleh syariat. Saat ini kejadian seperti demikian banyak terjadi pada kaum muslim dibelahan negeri lainnya seperti di Uyghur, mereka di dzolimi oleh pemerintah dengan sistem sekuler yakni sosialis-komunis-kapitalisnya. Dan itu dikarenakan saat ini umat islam tidak memiliki perisai untuk menjadi tameng pelindung. Jelas tidakan tersebut tidak akan berhenti atau adanya upaya preventif maupun kuratif selama sistem kapitalisasi-sekuler ini tetap kokoh pada tampuk kekuasaan. Selama penjualan organ tubuh ini memberikan keuntungan bagi pihak pemodal, maka selama itupula terus akan berlangsung bahkan menjadi halal. Inilah sistem busuk yang menumpangtindihkan ketidakadikuasanya rakyat yang lemah. 
Tindakan Human Trafficking hanya akan mampu diberangus dengan terterapkannya sistem islam, yang maha adil atas kehidupan manusia dimuka bumi! Sebab di dalam islam negara sebagai penjamin kebutuhan pokok dan kebutuhan dasar. Kebutuhan dasar yang salah satunya berupa hak kemanan atau perlindungan bagi setiap individu dan itu wajib diberikan negara pada rakyatnya secara cuma-cuma. Seperti halnya sabda Rosulullah saw : “Dan seorang pemimpin adalah pemelihara kemaslahatan masyarakat dan dia bertanggungjawab atas mereka” (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad). 
Apakah kita masih saja mau terus dijajah!? Tentu Tidak!!! Maka sudah saatnya dan harusnya kita bangkit dan bergerak untuk menyerukan keadilan atas kehidupan yang layak bagi kita. Sebab keadilan hanya bisa di raih dengan penerapan hukum islam. Hukum yang jika terterapkan akan membawakan rahmat bagi sekalian alam. Mengapa demikian? Ya sudah jelas ia! Sebab hukum islam bukan berasal dari logika manusia yang terbatas dan suka berandai-andai, namun berasal dari Zat yang Maha menciptakan dan juga mengatur alam semesta tanpa bantuan manusia. Wallahu’alam Bisyowab.[]
*Mahasiswa Program study peternakan  Universitas Khairun Ternate

Comment

Rekomendasi untuk Anda