by

Ahsani Ashri*: Bendera Enzo vs Film The Santri

Ahsani Ashri
RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Enzo Zenz Allie seorang Santri dari Pondok Pesantren Al Bayan yang memiliki kemampuan berbicara empat bahasa yakni bahasa Indonesia, Perancis, Inggris dan Arab dan bercita cita menjadi TNI itu dinyatakan lulus seleksi tes di Akademi Militer namun tersandung fitnah lantaran ia mengunggah foto profil akun di media sosialnya sedang memanggul bendera tauhid di tas belakangnya.
Anak yatim blasteran Perancis inipun mulai dipersoalkan kecintaannya pada Pancasila dan NKRI. Sekejap Menhan langsung bereaksi untuk segera mencoret namanya dari calon taruna Akmil TNI jika terlibat HTI.
Dalam waktu singkat, pihak TNI langsung menelusuri riwayat keluarga Enzo. Ia dicurigai terpapar paham radikal dan terafiliasi dengan ormas yang sudah dibubarkan, HTI. Apakah karena pernah membawa bendera tauhid layak diragukan kecintaannya  terhadap Bumi Pertiwi? Masih membekas di ingatan kita betapa reaktifnya Kemenag saat kedapatan siswa MAN di Sukabumi mengibarkan bendera tauhid. Persis seperti reaksi Menhan saat mengetahui calon taruna TNI membawa Bendera Tauhid.
Sadar atau tidak, deislamisasi tengah mewabah dan menjangkit bak virus yang menyerang dalam jangka waktu singkat. Ironinya di negeri yang mayoritas muslim ini, terlena dalam kehidupan dunia yang hedonis (serba boleh) sehingga membawa petaka bagi umat islam. Kasus Enzo mungkin intermezo  bahwa gerah dengan simbol simbol islam dan alergi dengan istilah istilah islam yang merupakan gejala Islamophobia akut.
Upaya Barat menghancurkan generasi dan menanamkan hagemoninya di negeri negeri mayoritas Muslim sangat kuat, terbukti bahwa hembusan tersebut tidak disadari oleh umat islam. Proyek yang dulu kita kenal Global War On Terorism kini istilah tersebut diganti dengan deradikalisasi yang berarti deislamisasi.
Intermezo kisah Enzo harusnya membuat kita sadar dan semakin faham, narasi radikalisme, pancasila dan NKRI hanyalah kedok untuk menyerang Islam, Tak mau dibilang anti Islam, mereka berlindung di balik slogan Pancasila dan NKRI.
Sementara di sisi lain,  penggarapan film berjudul “The Santri” disutradai oleh Livi Zheng yang bukan berasal dari Santri, dan sempat dipromosikan oleh KH. Said Aqil Siradj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) dan diinisiasi oleh PBNU (https://makassar.tribunnews.com/2019 ).
Film ini rencananya akan ditayangkan pada Hari Santri 22 Oktober mendatang, menuai pro-kontra.  Sebagaimana sudah beredar di media online, film The Santri menceritakan tentang perjalanan anak santri hingga ke Amerika Serikat sekaligus memperkenalkan budaya khas Nusantara. Pengambilan film tersebut melibatkan beberapa tempat seperti Pondok Mambaus Sholihin Gresik, Candi Penataran, Hutan Maliran dan salah satu Gereja.
Dalam penggalan film  The Santri, Para Santri ini membawa nasi tumpeng untuk dipersembakan kepada pengurus Gereja tersebut. Menampilkan citra santri sebagai representasi islam rahmatan lil alamin yang ramah, bukan Islam marah, kekerasan dan menakutkan. Inilah toleransi yang digambarkan mereka. Bentuk kesalahpahaman bertoleransi sehingga tidak menempatkan toleransi bukan pada tempatnya.
Padahal toleransi telah dicontohkan oleh Nabi kita, Rasulullah SAW saat empat pemuka kafir Quraisy yakni Al-Walid bin Mughirah, Al-Ash bin Wail, Al-Aswad ibnul Muthalib, dan Umayyah bin Khalaf datang menemui Rasulullah seraya berkata,
“Wahai Muhammad, bagaimana kalau kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian (Muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami, kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebagian dari ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, kami akan amalkan hal itu. Sebaliknya, jika ada dari ajaran kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu, engkau juga harus mengamalkannya.” (Tafsir Al-Qurtubi/14:425)
Sebagai jawaban dari perkataan mereka, kemudian Allah menurunkan surat Al-Kafirun ayat 1-6 yang menegaskan bahwa tidak ada toleransi dalam hal yang menyangkut akidah. Allah SWT berfirman: “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (TQS. Al-Kafirun: 6).
Inilah toleransi yang  diajarkan di dalam Islam. Allah  telah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk bertoleransi pada orang-orang di luar Islam. Namun demikian, sikap toleransi tidak boleh dipraktikkan dalam hal yang menyangkut akidah.
Selain itu,  dalam Film The Santri terlihat interaksi pemainnya yang justru bebas campur laki perempuan, dimana adegan berdua duaan (khalwat)  itu diperankan oleh artis cantik dan tampan justru merusak citra santri. Seakan membuat image bahwa santri saja yang faham agama boleh melakukan itu dan membenarkannya. 
Berbeda dengan Islam yang merupakan sebuah aturan kehidupan sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk hubungan antara laki-laki dan perempuan yang tidak boleh berkhalwat (berdua-duaan), berikhtilat (campur baur antara laki-laki dan perempuan), mengumbar aurat, bertabarruj (berdandan berlebihan), dan melakukan safar tanpa ditemani mahram bagi seorang perempuan. Namun tetap boleh berinteraksi sebatas dalam ranah pendidikan, muamalah, persanksian dan kesehatan.
Islam memandang kebebasan berekspresi boleh, namun tidak melanggar hukum syara dan tetap dibatasi oleh nilai-nilai luhur syariah. Karena setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri dan akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Sebagaimana Rasulullah shallallahu Alaihi wassalam bersabda : “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya”, (HR Abu Hurairah).
Hanya di negeri ini, santri asli vs santri santri-an mendapat perlakuan yang berbeda. Padahal segala kebenaran harusnya dilihat dari kacamata Sang Pemilik Alam ini, bukan kacamata kepentingan semata. Maka tidak ada jalan lain yaitu kembali pada aturan Islam dengan menerapkan ajaran islam secara komutmen dan menyeluruh agar kehidupan keluarga dan masyarakat menjadi barokah. Wallahu’alam bis Showab.[]
*Nutritionist, Pemerhari Generasi

Comment

Rekomendasi untuk Anda