by

Anna Ummu Maryam*: Nestapa Di Balik Merdeka

Anna Umu Maryam

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia biasa dirayakan dengan berbagai lomba. Mulai dari lomba barap karung, makan kerupuk, tarik tambang, sampai panjat pinang. Jika diperhatikan, jenis lomba yang diselenggarakan hampir selalu sama dari tahun ke tahun.(Kompas.Com, 17/8/2019).

Dalam rangka memperingati hari ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Pandu Laut Nusantara kembali melaksanakan kegiatan bersih-bersih pantai dan laut. Kegiatan yang diselenggarakan pada 18 Agustus 2019, akan dilakukan serentak di 74 lokasi seluruh Indonesia.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan, kegiatan bersih-bersih ini merupakan bentuk komitmen dari seluruh aktivis pencinta lingkungan yang tergabung di dalam Pandu Laut Nusantara.

Dengan adanya kegiatan ini diharapkan masyarakat bisa menjaga ekosistem laut secara bersama-sama.

Indonesia Terus Berbenah

Sangat penting oleh kita untuk mengetahui sejarah kemerdekaan pada setiap hal yang menjadikan negara kita mencapai kemerdekaannya. Bahkan juga pada perayaannya.

Menurut pakar Sejawaran JJ Rizal, mengatakan perlombaan yang ada pada 17 Agustus, sebenarnya sudah ada pada masa kolonialisme Belanda dan Jepang.(17/8/2019).

Artinya perayaan ini adalah warisan penjajah yang tanpa kita sadari terus dilanjutkan. Dimana kita mengetahui saat masa kependudukan Belanda dan Jepang rakyat Indonesia dalam keadaan yang amat terpuruk.

Ekonomi yang sangat sulit yang mendorong mereka untuk ikut dalam perlombaan ini karena untuk mendapatkan bahan makanan dan hal lain yang sengaja dibuat penjajah kepada rakyat Indonesia yang dipandang rendah.

Maka tentunya para generasi bangsa perlu berfikir lagi, bagaimana memaknai kemerdekaan ini dengan cara yang terhormat. Bukan seperti perayaan Indonesia pada masa penjajah dulu.

Menguti ungkapan salah seorang founding father dan ulama besar Indonesia, yang  pernah menduduki anggota majelis konstituante,  Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), menegaskan dalam pidatonya di depan majelis konstituante pada tahun 1957.

Bahwa jiwa dan dasar kemerdekaan negara ini, merupakan hasil dari semangat dan perjuangan yang telah diisi oleh mayoritas para ulama, tokoh dan ummat Islam sejak ratusan tahun lamanya, yang kemudian dapat dipetik pada tahun 1945.

Pekik kemerdekaan yang dahulu dikumandangkan oleh pahlawan dan masyarakat Indonesia, bersahutan dengan pekikan takbir, yang melatari semangat dan jiwa kemerdekaan Indonesia.(Hidayatullah.com)

Maka kita harus menyadari bahwa seluruh rakyat Indonesia berusaha untuk tidak hidup dalam penjajahan negara asing yang menduduki daerahnya. Mereka menyadari betul bahwa kehidupan tidak akan pernah merasakan keamanan dan kesejahteraan sebelum mampu mengusir penjajah dari ini.

Segala usaha dikerahkan, walau tidak mempunyai senapan tapi rakyat pada saat itu memahami bahwa Allah akan menolong mereka selama mereka berusaha dengan segenap kemampuan mereka.

Penerapan sistem kapitalis telah menghilangkan makna sebuah kemerdekaan dimana dalam sistem ini para penjajah dianggab sebagai penolong. Dimana setiap sumberdaya alam maupun manusia dikuasai dan dipaksa untuk tunduk pada kebijakan penjajah asing.

Sistem ini pula yang telah merusak ketenangan dan kesejahteraan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan dimasa dulu. Bagaimana tidak setiap jengkal tanah dan sumber ekonomi masyarakat telah mereka kuasai.

Mereka membangun perusahaan besar yang rakyat kebanyakan menjadi buruh buruh pabrik mereka. Mereka dengan kekuasaannya meneror dan membunuh setiap rakyat yang tidak mau tunduk pada kepentingan mereka.

Keamanan adalah milik penguasa dan pengusaha sedangkan rakyat terpaksa menjaga diri mereka dari ancaman keberlangsungan hidup mereka.

Segala sisi kehidupan telah dirusak oleh sistem ini, karena sejatinya sistem ini adalah bentukan penjajah yang diterapkan di negeri jajahan mereka. Segala kepentingan adalah dari mereka, oleh mereka dan untuk mereka memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dari SDAyang berlimpah pada suatu negeri yang tidak memiliki identitas.

Sungguh sangat miris, bagaimana tidak. Andai kata para pejuang masa dulu melihat kondisi rakyat Indonesia sekarang, tentulah mereka merasa amat sedih.

Kepemimpinan Islam Mewujudkan Kemerdekaan Hakiki

Mewujudkan penghambaan hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, itulah misi utama Islam. Itu pula arti kemerdekaan hakiki. Dalam pandangan Islam, kemerdekaan hakiki terwujud saat manusia terbebas dari segala bentuk penghambaan dan perbudakan oleh sesama manusia. Dengan kata lain Islam menghendaki agar manusia benar-benar merdeka dari segala bentuk penjajahan, eksploitasi, penindasan, kezaliman, perbudakan dan penghambaan oleh manusia lainnya.

Terkait misi kemerdekaan Islam ini, Rasulullah ﷺ pernah menulis surat kepada penduduk Najran. Di antara isinya berbunyi:

«… أَمّا بَعْدُ فَإِنّي أَدْعُوكُمْ إلَى عِبَادَةِ اللّهِ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ وَأَدْعُوكُمْ إلَى وِلاَيَةِ اللّهِ مِنْ وِلاَيَةِ الْعِبَادِ …»
…Amma badu. Aku menyeru kalian untuk menghambakan diri kepada Allah dan meninggalkan penghambaan kepada sesama hamba (manusia). Aku pun menyeru kalian agar berada dalam kekuasaan Allah dan membebaskan diri dari penguasaan oleh sesama hamba (manusia)… (Al-Hafizh Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, v/553).

Misi Islam mewujudkan kemerdekaan hakiki untuk seluruh umat manusia itu juga terungkap kuat dalam dialog Jenderal Rustum (Persia) dengan Mughirah bin Syubah yang diutus oleh Panglima Saad bin Abi Waqash ra. Pernyataan misi itu diulang lagi dalam dialog Jenderal Rustum dengan Rabi bin Amir (utusan Panglima Saad bin Abi Waqash ra.). Ia diutus setelah Mughirah bin Syubah pada Perang Qadisiyah untuk membebaskan Persia. Jenderal Rustum bertanya kepada Rabi bin Amir, “Apa yang kalian bawa?” Rabi bin menjawab, “Allah telah mengutus kami. Demi Allah, Allah telah mendatangkan kami agar kami mengeluarkan siapa saja yang mau dari penghambaan kepada sesama hamba (manusia) menuju penghambaan hanya kepada Allah; dari kesempitan dunia menuju kelapangannya; dan dari kezaliman agama-agama (selain Islam) menuju keadilan Islam…” (Ath-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, II/401).

*Penggiat Literasi Aceh)

Comment

Rekomendasi Berita