by

Desi Wulan Sari, S.E, MSi: Polemik Umroh Online, Pro Rakyat Atau Pengusaha?

Desi Wulan Sari, S.E, MSi
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Indonesia merupakan negara yang memiliki penduduk muslim terbesar di dunia. Sebagai bagian dari ritual ibadah yang diwajibkan yaitu ibadah haji, dan sunah yaitu umrah ke tanah suci mekah di Arab Saudi. 
Dipastikan memanfaatkan perjalanan umrah akan meningkatkan devisa negara, dan peningkatan ekonomi umat serta menguatkan kepentingan nasional. Pengusaha nasional dalam bidang penyediaan jasa perjalanan muslim di Indonesia telah menggambarkan jalannya ekonomi rakyat dengan beragam jenis keuntungan dan tentunya keeberkahan dari penyediaan perjalanan spiritual umat muslim Indonesia saat ini. 
Penyelenggaraan ibadah umrah banyak di tangani oleh berbgai biro perjalanan umrah di indonesia.  Baik berskala besar maupun kecil yang telah melakukan kerjasama dengan pemerintah yaitu Kementrian agama yang telah diatur prosedurnya dalam UU No. 8 tahun 2019. Masyarakatpun ikut terbantu dalam pengadaan lapangan kerja dan peningkatan ekonomi di bidang jasa perjalanan umrah. 
Belum berapa lama, pemerintah dalam hal ini Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, dan Kementrian Agama mengumumkan akan melakukan perubahan signifikan dalam penyelenggaraan biro perjalanan umrah berbasis teknologi online. Kekhawatiran para agen pengusaha kecil dan masyarakat atas kebijakan umrah online akan  berdampak pada banyaknya penutupan usaha konvesional dan sempitnya kesempatan masyarakat dalam mengembangkan usaha bidang biro perjalanan. Perubahan kearah digital tentu banyak memiliki resiko dan dampak sosial ekonomi  yang harus dipikirkan penerintah terkait kondisi masyarakat dan pengusaha lokal kedepannya.
Dalam umrah online ini, rencananya pemerintah akan menggandeng dua perusahaan raksasa unicorn online yaitu Traveloka dan Tokopodia. Bertindak sebagai produk umroh dikhawatirkan akan terjadi monopoli dalam pengelolaan ibadah umrah. Dampak buruk yang kemungkinan terjadi terhadap biro-biro pelayanan umrah bermodal kecil yaitu terancam tutup beserta ribuan karyawan akan dirumahkan.
Dipertegas oleh Anggota Komisi VIII DPR Khatibul Umam Wiranu mengatakan bahwa tindakan penyelenggaraan umrah online  tak sesuai hukum serta merugikan agen travel konvensional. Umam khawatir bisnis umrah online tersebut berpotensi membuat agen travel gulung tukar (liputan6.com, 19/8/2019).
Tentu dapat ditebak kemana arah tujuan akhir dari ide digitalisasi umrah online ini.   Yaitu hanya berfokus pada capaian hasil proyek dan perolehan keuntungan berlipat bagi penguasa kapitalis dan pengusaha asing kapitalis. Mereka hanya  akan tutup mata dan telinga dibawah bayangan payung hukum buatan manusia. kondisi keterpurukan ekonomi pada masyarakat nanti akan dianggap hal yang lumrah di era persaingan global ini. Cara kapitalis membangun suatu bisnis perekonomian akan selalu meenciptakan kerusakan ditengah-tengah umat. Dalam masalah ini akan terjadi pengangguran, pemutusan mata pencaharian, dan ketiadaan nafkah masyarakat terhadap keluarganya.  
Alasan yang diangkat atas  pennyelenggaraan jasa berbasis  umrah online nenurut pemerintah adalah kondisi zaman yang telah berubah dan telah mengarah pada era teknologi digital yang berkembang luas. Tentu saja apapun bisa dijadikan alasan dalam sistem kapitalis.  Meteka tidak akan pernah nemikirkan bagaimana rakyat akan terkena dampak luar biasa terhadap perekonomiannya. Perubahan dari keterlibatan langsung SDM (pegawai) biro perjalanan dirubah dengan keterlibatan langsung kepengurusan biro perjalanan umrah sistem digital online, jelas-jelas akan mengancam dan mematikan  usaha kecil di masyarakat. Sedangkan para pengusaha kapitalis akan semakin kaya dengan kesempatan emas yang tidak mungkin dilepaskan. 
Bagaimana Islam Mengatur Teknologi 
Dalam pandangan Islam menurut hukum asalnya segala sesuatu itu adalah mubah termasuk segala apa yang disajikan oleh berbagai peradaban baik yang lama ataupun yang baru. Semua itu sebagaimana diajarkan oleh Islam tidak ada yang hukumnya haram kecuali jika terdapat nash atau dalil yang tegas didalamnya.  Kemajuan teknologi modern yang begitu pesat telah memasyarakatkan produk-produk teknologi canggih seperti radio, televisi, internet, alat-alat komunikasi dan barang-barang mewah lainnya serta menawarkan aneka jenis hiburan bagi tiap orang tua, kaum muda, atau anak-anak. Namun tentunya alat-alat itu tidak bertanggung jawab atas apa yang diakibatkannya. Justru di atas pundak manusianyalah terletak semua tanggung jawab itu. Sebab adanya pelbagai media informasi dan alat-alat canggih yang dimiliki dunia saat ini dapat berbuat apa saja kiranya faktor manusianyalah yang menentukan operasionalnya. Adakalanya menjadi manfaat yaitu manakala manusia menggunakan dengan baik dan tepat. Tetapi dapat pula mendatangkan dosa dan malapetaka manakala manusia menggunakannya untuk mengumbar hawa nafsu dan kesenangan semata.
Di sinilah Islam sebagai agama paripurna (lengkap) mampu memberikan petunjuk bagi manusia. Ini semua tidak lepas dari karakter agama Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Dalam abad teknologi dan era globalisasi,  umat Islam hendaklah melakukan langkah-langkah strategis dengan meningkatkan pembinaan sumber daya manusia guna mewujudkan kualitas iman dan takwa serta tidak ketinggalan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. 
Dalam Al-Qur’an, surat Al ‘Alaq ayat 1-5, Allah telah mengisyaratkan agar manusia mau belajar mengusai ilmu pengetahuan. Perintah Allah ini dalam firman-Nya berbunyi :“bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah mencipatakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah dan Tuhamnulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajari manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajari manusia apa yang belum diketahuinya.”
Begitupun Islam, selalu memandang kepentingan umat dan kemaslahatan umum untuk di dahulukan ketimbang hanya kepentingan sekelompok orang saja. Apalagi kepenitingan yang hanya mementingkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Maka dalam hal ini perlu adanya pengkajian ulang kembali atas rencana pemerintah terhadap penyelenggaraan umrah berbaais online tersebut. Perlunya mengetahui apakah kesiapan masyarakat atas pemanfaatan teknologi umrah online sudah teratasi ataukah belum?  Pada dasarnya teknologi memang diciptakan oleh manusia atas izin Allah.  Tetapi Allah memberikan pilihan pada manusia apakah teknologi itu baik digunakan untuk kemaslahatan umat, atau sebaliknya.  Perlu atau tidaknya teknologi terkait keberlangsungan hidup orang banyak harus lebih diprioritaskan pemanfaatannya untuk kepeentingan umat.
Sejatinya perubahan signifikan tentu diperlukan kesiapan bagi masyarakat yang berhadapan langsung dengan program tersebut. Dan sebagai penguasa umat, pemimpin harus mampu mengurus umatnya menjadi msyarakat yang sejahtera dan dilindungi hak dan kebutuhannya dengan adil dan bijaksana. Ketika penguasa menggunakan hukum Allah maka tidak akan ada pengusaha yang berani nenyentuh bahkan  memperminkan hukum syariat demi kepentingan kelompok apalagi dirinya sendiri. Wallahu a’lam bisahawab.[]

Comment

Rekomendasi untuk Anda