by

Ermawati*: Perlukah Ibu Kota Baru?

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pindahnya ibu kota menjadi perbincangan hangat saat ini, sebelumnya Presiden Jokowi telah menyampaikan rencana pemindahan ibu kota negara ke Pulau Kalimantan Timur saat sidang bersama DPD – DPR, Senin (16/08/2019) lalu.  Ibu kota baru Indonesia telah di putuskan berlokasi di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.  Keputusan pemindahan ibu kota baru di Indonesia diumumkan pada konferensi pers di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (26/08/2019) siang.

Salah satu alasan pindahnya ibu kota ke Kalimantan Timur adalah minimnya potensi bencana alam disana, padahal belum tentu di tempat baru bisa terhindar dari bencana alam, musibah terjadi karena sudah menjadi kehendak Allah SWT,  sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Hadid ayat 22-23 yang artinya : “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Al Hadid: 22-23).

Namun dengan berpindah tempat bukanlah solusi yang bisa menuntaskan masalah di Jakarta, bahkan ini merupakan masalah baru yang justru melahirkan masalah cabang lainnya, diantara nya yaitu pertama, membengkaknya hutang negara, negara membutuhkan biaya untuk pemindahan ibu kota Rp 466 Triliun, dari mana dana sebesar ini? pada kasus-kasus sebelum nya selalu melakukan pinjaman pada naegara lain, secara otomatis negara akan berhutang kembali karena membutuhkan biaya yang sangat besar untuk pembangunan ibu kota baru.

Kedua, masyarakat tambah sengsara. Dengan fokus nya membangun ibu kota baru maka urusan masyarakat akan di kesampingkan, padahal mengatur kemaslahatan umat adalah tanggung jawab seorang pemimpin, kemakmuran atau kesengsaraan suatu masyarakat sangat tergantung peran yang di mainkan nya.

Ketika seorang pemimpin berlaku adil sesuai dengan Syariat Islam maka masyarakat pun akan sejahtera, begitu juga sebaliknya, ketika pemimpin berlaku dzalim dan tidak jujur dalam menjalankan amanahnya maka masyarakat pun berujung pada kesengsaraan.

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim Dari Abdullah ibn Amr ibn Ash dari Nabi saw. : Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil menurut pandangan Allah, akan di tempatkan di atas mimbar dari cahaya sisi kanan Tuhan Yang Maha Pengasih. Mereka itulah orang-orang berlaku adil dalam keputusannya, di keluarganya, dan pada apa-apa yang mereka pimpin (mereka tidak bergeser dari keadilannya).

Ketiga, menghadirkan masalah sosial dan lingkungan, konflik tanah dan masalah lain nya, ditempat lain Jakarta masih bergulat dengan masalah lama nya.  Maka jelas ini akan menimbulkan masalah baru yang bercabang, yang seharusnya ini tidak terjadi.

Sebenarnya pindah ibu kota bukan sesuatu yang urgent untuk saat ini, alngkah baiknya dana sebesar itu di alokasikan untuk pengembangan kota lainnya, Jakarta dan lain nya misal.

Bahkan lebih bermanfaat lagi untuk kemaslahatan masyarakat Indonesia, bisa di alokasikan untuk biaya kesehatan, pendidikan, bayar hutang negara.  Karena masyarakat masih jauh dari yang namanya sejahtera, ciptakanlah masyarakat yang terjamin secara financial, mapan secara sosial dan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Tapi ternyata Islam memiliki konsep kesejahteraan yang jauh lebih bagus di banding konsep ekonomi nya kapitalis. Konsep yang telah diterapkan dengan baik mulai dari zaman nya Rasulullah Saw, sampai para khalifah.

Kesejahteraan dalam Islam bukan hanya dari segi material saja tetapi juga non material.  Pertama, terpenuhinya kebutuhan pokok setiap individu masyarakat, bak pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan.  Kedua, terjaganya agama, harta, jiwa, akal juga kehormatan manusia.  Sehingga perlunya penerapan Syariah Allah SWT secara menyeluruh. Wallahu a’lam bishawab.[]

*Ibu Rumah Tangga
Perum Wirojayan Asri IV RT007/ 004, Desa Wiroborang, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.

Comment

Rekomendasi untuk Anda