by

Eva Fauziyah, S.Pd*: Sesat Pikir Rencana Impor Rektor

Eva Fauziyah, S.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Baru-baru ini ramai dibicarakan ‘ide gila’ impor rektor. Ini ‘ide gila’ saya katakan. Tapi perlu diketahui ini hal ini bukan hal baru. Rencana impor rektor itu sudah dicanangkan mulai tahun 2016. Dan sekarang mulai digencarkan lagi. Harapannya agar rencana ini tak gagal lagi dan bisa diwujudkan tahun 2020. 
Walaupun pro kontra, banyak yang kontra malah. Tapi izin dari orang pertama negeri ini sudah dimiliki. Entahlah bagaimana nanti akhirnya akan tetap impor atau ditunda ataukah dihapus rencana ini? Tentu segala kemungkinan bisa terjadi. Wong, jadi pr*siden pakai cara curang aja bisa koq. Yang jelas dari kalangan DPR dan para akademisi terutama UI, UGM, dan UNPAD menolak dengan tegas impor rektor. 
Menurut mereka, keberhasilan PTN tidak hanya ditentukan dari siapa rektornya semata tapi ada faktor-faktor lain diantaranya tata kelola, birokrasi, mahasiswa dan banyak indikasi yang lain.
Tapi tidak usah heran dengan ‘ngototnya’ pemerintah untuk impor rektor ini  karena ini sejalan dengan arus World Class University (WCU) yang tidak lain adalah produk Knowledge Based Economy (Pengetahuan Berbasis Ekonomi) yang sudah sewindu santer ditargetkan. Bahkan beberapa negara-negara lain sudah melakukan program ini.
Rencananya tahun 2020 impor rektor sudah mulai berjalan. Ada 2 sampai 5 rektor yang akan diimpor dan 200 dosen. Pemerintah akan membuka seluas-luasnya lowongan untuk akademisi asing bisa bekerja di Indonesia. Aneh ya warga asing diurusi, diberi lowongan pekerjaan. Eh, giliran rakyatnya sendiri malah diabaikan. 
Pemerintah beralasan rektor impor dilakukan demi menaikkan rangking perguruan tinggi Indonesia di mata dunia menjadi angka 100-an. Karena selama ini hanya 3 Universitas yang bisa diakui dunia internasional yaitu UI, ITB, dan UGM itu pun menempati rangking 400-an. 
Beginilah wajah pemimpin yang mengabaikan rakyatnya. Bagaimana mungkin pendidikan bisa maju jika pemimpinnya hanya bergantung pada asing dan aseng. Bahkan peluang untuk anak bangsa sendiri sangat minim. Jadi dengan santainya menetapkan jika ingin naik rangking harus impor rektor padahal upaya peningkatan kualitas tenaga ahli, sarana dan prasarana pendidikan tidak maksimal dilakukan dan hanya sekedarnya saja.
Proyek rektor asing ini menjadi salah satu celah memformat perguruan tinggi, selain agar berkelas dunia, juga dapat diperas intelektualitas civitas akademinya demi memenuhi standar-standar publikasi ilmiah. Dan di bawah kendali rektor asing ini menjadikan pendidikan di perguruan tinggi adalah pabrik yang menghasilkan ‘pasukan besar’ baik yang terdidik maupun tidak terdidik sesuai arah kapitalisme.
Jika selama ini persyaratan menjadi seorang rektor di beberapa perguruan tinggi  tidaklah mudah, termasuk  mempersyaratkan seorang WNI. Maka jika ada impor rektor syarat-syarat menjadi rektor beberap akan dihapus. Nah, sekarang pertanyaannya apa seorang rektor asing dia akan bekerja untuk kepentingan negeri ini ataukah kepentingan asing? Kepentingan sekuler liberalis? 
Ide impor rektor akan menghancurkan insan perguruan tinggi. Para civitas akademika yang tadinya adalah aset bangsa untuk membangun kemandirian bangsa, eh jika rektornya asing,  liberalisme dan sekulerisme yang masuk dan dimasukkan dengan kuat ke perguruan tinggi malah akan menjadikan kita menjadi budak liberalisme dan sekularisme. Alih- alih menjadi negara maju malah menjadikan negara kita semakin tercengkram dalam kubangan kapitalisme karena paparan liberalisme dan sekulerisme semakin masif di perguruan-perguruan tinggi, tempat mencetak corong-corong rakyat.

Berbeda dengan khilafah. Khilafah adalah sebuah institusi yang berwibawa dan berdaulat penuh. Khilafah mempunyai kemandirian tidak perlu bergantung pada asing dan aseng untuk mengurusi negaranya. Dengan sistem terbaik ini khilafah akan menjadikan SDM-SDM dalam negeri mencukupi untuk menaikkan kualitas pendidikan dalam negara.
Khilafah akan ‘mensupport’ penuh pendidikan dalam negara sehingga ‘output’ pendidikan yang dihasilkan berkualitas baik dari ilmu pengetahuan maupun iman dan takwa setiap individunya. Dengan demikian pendidikan dalam negara akan melesat jauh dan terdepan di kalangan internasional. Masya Allah. Wallahu ‘alam bisshowab.[]
*Praktisi pendidikan, Cianjur

Comment

Rekomendasi Berita