by

Firda Umayah: Pernikahan Dini, Antara Siap dan Terpaksa

Firda Umayah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Seorang remaja putri berinisial SNI usia 18 tahun tega membunuh anaknya yang baru saja dilahirkan di kamar mandi Rumah Sakit Umum Daerah Beriman. Meskipun berdalih tidak ada niatan untuk membunuh, namun remaja ini mengaku bahwa ia belum siap untuk memiliki anak dan menikah (news.okezone.com/28/07/2019). 
Lain dengan SNI, Dini remaja yang juga berusia 18 tahun asal Palu salah satu korban bencana alam tanah bergerak harus menikah dini lantaran sudah hamil di luar nikah (kompas.com/26/07/2019). Apa yang terjadi pada Dini dan SNI merupakan dua di antara sekian banyak kasus hamil di luar nikah akibat pergaulan bebas. Adanya paham sekulerisme yang berkembang di mayoritas negeri merupakan salah satu penyebabnya. 
Sebab, paham sekulerisme menjadikan seseorang melepaskan diri dari aturan agama dalam aktivitas sehari-hari. Standar perbuatan manusia bukan lagi halal-haram namun kesenangan, asas manfaat dan materi semata. 
Sistem sekuler juga telah membuat model pergaulan bebas. Hal ini juga membuat buruknya sistem kontrol di masyarakat. Masyarakat dibuat acuh terhadap kondisi sekitarnya. Faktor lemahnya individu dari pemahaman agama juga menjadi penyebab seseorang melakukan kemaksiatan. Individu semakin tak memiliki arah dan tujuan hidup. 
Hidup terombang ambing mengikuti arus yang ada. Sehingga kenakalan remajapun menjadi hal yang merebak luas. Hal ini diperparah dengan maraknya tontonan pengumbar aurat dan pembangkit naluri seksual. 
Sistem sekulerisme nyatanya juga telah membuat mental remaja menjadi sosok pemuja kesenangan tanpa rasa tanggungjawab. Betapa tidak. Banyaknya kasus hamil diluar nikah yang berakhir dengan pengguguran bahkan pembunuhan bayi merupakan bukti atas ketidaksiapan remaja terhadap konsekuensi pergaulan bebas. Bahkan kalaupun menikah, para remaja melakukannya lantaran terpaksa daripada menanggung malu. Jika sudah seperti ini, maka peran negara seharusnya dapat memberikan solusi yang tuntas. 
Namun, hingga saat ini negara yang juga mengemban paham sekulerisme tak dapat mencegah kerusakan moral yang terjadi ditengah-tengah masyarakat khususnya remaja. Lemahnya penegakkan hukum juga menjadi salah satu penyebabnya. Lantas, adakah solusi tuntas terhadap permasalahan ini?
Fakta menunjukkan bahwa generasi cemerlang yang berkepribadian luhur hanya ada dalam masa kepemimpinan Islam. Sebab Islam sebagai pandangan hidup menjadikan standar hidup seorang muslim sesuai dengan apa yang Allah swt perintahkan. Dalam sistem pergaulan, Islam mewajibkan setiap muslim untuk menutup aurat, menundukkan pandangan, tidak melakukan khalwat (berdua dengan selain mahram), tidak berikhtilat (campur baur laki-laki dengan perempuan), serta melarang melihat tontonan yang mengumbar aurat dan pembangkit naluri seksual. 
Islam juga mencegah segala perkara yang dapat mengantarkan untuk hal yang mengarah kepada pendekatan zina. Masyarakat menjadi pengontrol para individu yang berada ditengah-tengah mereka. Sistem hukum yang tegas kepada para pelaku pelanggar hukum juga menjadi pembuat jera dan peredam kemaksiatan.
Islam yang diterapkan secara total melalui tegaknya daulah Islam telah mampu mencetak generasi unggul berkepribadian Islam (syakhsiyah islamiyah). Generasi memiliki tsaqafah Islam yang dalam dan selalu beraktivitas sesuai dengan apa yang Allah swt perintahkan. Muhammad Al Fatih, Harun Ar Rasyid, Shalahudin Al Ayubi, Mu’tashim Billah adalah beberapa contoh generasi Islam unggul dan pemimpin umat yang telah tercatat masa kejayaannya dalam sejarah. 
Sudah saatnya umat kembali kepada aturan Allah swt. Menerapkan kembali semua hukum Allah swt. Sebab Islam akan mampu menebar rahmat tidak hanya kepada pemeluknya namun juga kepada seluruh umat manusia. Wallahu a’lam bishowab.[]

Comment

Rekomendasi untuk Anda