by

Fitriani,S.Hi*: Haji Mewujudkan Ketaatan dan Persatuan Hakiki

Fitriani,S.Hi

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Setiap tahun, pada bulan Dzulhijjah jutaan umat Islam dengan beragam suku, bahasa, bangsa, warna kulit, profesi dan status sosial datang dari berbagai negara diseluruh belahan dunia menuju Makkah Amukarramah untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka meninggalkan keluarga yang mereka cintai, menuju tanah haram dalam rangka menyambut seruan Allah SWT, seraya berucap Labbaik Allahumma Labbaik (Ya Allah kami memenuhi panggilanMu).

Antusiasme umat Islam dalam melaksanakan ibadah haji begitu luar biasa. Hal ini terbukti bahwa haji tidak pernah sepi peminat dan tidak pernah surut pendaftar. Bahkan setiap tahun antrian haji semakin panjang. Waktu keberangkatanpun semakin lama. Ibadah haji dan ka`bah seolah memiliki magnet dan daya tarik yang luar biasa. Keduanya membuat siapapun yang beriman, baik pria dan wanita, muda dan juga renta bersiap memenuhi panggilan Allah SWT karena berharap mendapatkan pahala yang besar serta mendapatkan ganjaran Surga yang seluas langit dan bumi.

Sejatinya pelaksanaan ibadah haji mengandung esensi dan hikmah yang sangat penting dan tidak bisa diabaikan. Diantaranya bahwa pelaksanaan ibadah haji mengandung nilai spirit ketaatan dan persatuan. Dalam hal ketaatan ibadah haji mengajarkan kepada kaum muslim ketundukan, kepasrahan dan ketaatan secara total kepada Allah SWT. Betapa tidak, saat ihram para jamaah haji yang mungkin terbiasa menggunakan pakaian mahal dinegerinya, maka saat berhaji ditanah suci harus rela dan pasrah hanya mengenakan pakaian yang sederhana bahkan tak berjahit. Saat itu ia meninggalkan semua kemewahan duniawi, meninggalkan identitas dan status sosialnya. Bagi jamaah wanita mereka patuh mengenakan yang menutup auratnya.

Bahkan dalam ibadah haji yang terbiasa hidup serba nyaman, mereka harus pasrah untuk ikut berdesak-desakan dengan jamaah haji lainnya saat melakukan thawaf, sa`i atau melontar jumroh.

Bahkan tidaak peduli posisisnya sebagai rakyat jelata, pengusaha, para penguasa dan pejabat semuanya wajib mengikuti rangkaian prosesi haji yang wajib dilaksanakan dan mereka tidak ada yang memprotes bagian dari ritual haji yang telah ditetapkan oleh Allah SWT meskipun memberatkan dan penuh pengorbanan.

Contoh terbaik dalam ketaatan kepada Allah yang kemudian diabadikan menjadi bagian dalam ritual haji adalah ketika Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim menyembelih putranya Nabi Ismail. Karena perintah itu dari Allah, nabi Ibrahim dan nabi Ismail ikhlas menjalankannya dengan penuh ketundukan dan ketaatan. Maka sejatinya ketaatan secara total ini terus dibawa oleh seluruh jamaah hingga mereka kembali ke negerinya masing-masing. Mereka bersiap untuk menjalankan perintah Allah secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan bukan hanya saat ibadah haji saja namun juga dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya bahwa ibadah haji juga memiliki spirit persatuan untuk seluruh umat Islam. Hal ini bisa kita saksikan dalam pelaksanaan ibadah haji umat Islam seluruh dunia bertemu dan berkumpul menjadi satu, mereka datang dari seluruh pelososk dan penjuru dunia dengan bebagai suku, warna kulit, bahasa dan bangsa. Namun karena ikatan ukhuwah Islamiyah mereka dipertemukan dan dipersatukan. Tidak ada perbedaan, tidak ada sekat-sekat yang menghalangi, tak ada dinding yang memisahkan. Semuanya merasa satu tubuh yang diikat dengan ikatan yang sama yaitu Aqidah Islamiyah. Mereka tidak mempermasalahkan dari mana asal negara, karena sesama kaum muslim bersaudara.

Spirit persatuan umat Islam seperti inilah yang seharusnya dirasakan ketika para jamaah haji kembali kenegaranya masing-masing. Namun faktanya saat ini, sejak runtuhnya institusi Khilafah Islamiyah persatuan umat Islam tidak lagi bisa dirasakan. Ada sekat yang memisahkan, tembok besar yang menghalangi yaitu sekat nasionalisme dan nation state. Hal ini berakibat pada hilangnya persatuan hakiki umat Islam.

Faktanya ketika banyak negeri-negerin kaum muslim ditindas dan dijajah oleh negara kafir kaum muslim tidak bergeming. Sebagaimana yang terjadi pada kaum muslim di uyghur ketika ditindas oleh Cina. Rohingya ketida ditindas oleh Bangladesh. Palestina ditindas zionis Israel, tidak ada satu negeri kaum muslim yang bergerak untuk membebaskan karena adanya batas dan sekat negara tersebut.

Memang sebuah ironi. Spirit persatuan dan persaudaraan yang mereka rasakan ketika melakukan ibadah haji tidak lagi mereka temukan ketika kembali kenegerinya masing-masing. Padahal Rasulullah SAW menggambarkan bahwa orang beriman dalam berkasih sayang seperti satu tubuh, ketika ada anggota tubuh yang sakit maka yang lain juga merasakan hal yang sama. Namun sayang saat ini tidak terealisasi. Hal ini karena saat ini umat Islam tidak lagi bersatu dalam satu naungan negara yang menerapkan Islam secara kaffah.

Maka sejatinya nilai spirit ketaatan dan persatuan ini harus ada dan terus dibawa oleh jamaah haji saat mereka kembali kenegrinya masing-masing.  Spirit ketaatan secara total serta spirit persatuan umat Islam diseluruh dunia berdasarkan ukhuwah Islamiyah. Hal ini hanya akan terwujud ketika Islam diterapkan secara kaffah dalam naungan Khilafah Islamiyah. Wallahu`alam bisshawab.[]

*Founder Forum Silaturahmi Tokoh Muslimah Deli Serdang

Comment

Rekomendasi untuk Anda