by

Hawilawati,S.Pd*: Kokohkan Aqidah Shohih Sejak Dini

Hawilawati,S.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Penanaman aqidah sedari dini sangat penying agar generasi memahami apa yang harus dilakukan dalam kehidupan ini dan dapat istiqomah dalam Islam hingga akhir hayat.
Banyak kasus pelanggaran terhadap syariat Allah yang terjadi pada diri manusia bahkan sampai ragu terhadap agamanya sendiri (Islam) hingga tak sedikit yang berakhir pada kemurtadan. Hal ini dipastikan karena Aqidah yang dimiliki sangat lemah, tidak produktif bahkan kemungkinan besar memahami aqidah shohihnya tidak totalitas dan tidak menghujam kuat dalam hati sanubari sehingga ketika saat diterpa kesulitan dunia orang tersebut menjadi galau dan  lemah hingga berani menggadaikan aqidah Islamnya.
Aqidah dari segi bahasa (etimologis) berasal dari Bahasa Arab (Aqad) yang bermakna ‘ikatan’ atau ‘sangkutan’ atau menyimpulkan sesuatu.
Menurut istilah (terminologis) ‘aqidah’ berarti ‘kepercayaan’, ‘keyakinan’ atau ‘keimanan’ yang mantap dan tidak mudah terurai oleh pengaruh mana pun baik dari dalam atau luar diri seseorang.
Aqidah merupakan keyakinan dasar yang dapat mempengaruhi segala amalan seseorang. Perumpaan yang sangat sederhana tentang aqidah agar mudah difahami oleh anak-anak, ibarat sebuah akar pohon, jika akarnya sehat dan  kuat maka bagian pohon lain seperti batang, daun, bunga bahkan buahnya akan tumbuh sehat.  Sebaliknya,  jika akar pohon sakit, layu atau kering maka bagian pohon lain juga akan sakit bahkan pohon tersebut akan mengalami kematian.
Karena itu aqidah manusia harus terjaga sehat dan kuat agar amalannya menjadi baik sebagaimana perumpaan akar pohon yang sehat di atas. Jika aqidah manusia rusak dan lemah maka akhlak manusia akan buruk, amalan manusia akan banyak kekeliruan bahkan menghilangkan rasa percaya diri (self confidence) sebagai seorang muslim.
Agar pohon tetap sehat maka harus ada perlakuan khusus, diantaranya pohon disiram, diberi pupuk, butuh pencahayaan, dan tumbuh di media atau lahan yang pas lagi subur. Tujuan penyiraman agar akar pohon sehat, jika akar sehat maka akan menghasilkan buah yang memuaskan. Perlakuan khusus tersebut terus dilakukan agar pohon tetap terjaga dan sehat.
Untuk menghasilkan buah yang bagus tatkala dipanen maka butuh proses yang panjang tidaklah instan, step by step dilakukan dengan penuh kesabaran dan kehati-hatian dan benar.
Begitupun aqidah manusia agar senantiasa produktif dan banyak melakukan amalan yang baik serta mendatangkan maslahat dan pahala maka aqidah harus senantiasa dipupuk. Bagiamana caranya ?
1. Terus berikan pemahaman aqidah yang shohih (benar) yaitu keyakinan yang mendatangkan keimanan, tiada lain adalah Aqidah Islam terkait keyakinan terhadap rukun iman (iman kepada Allah, malaikat, kitab, Rosul, hari akhir, qodho dan qodhar) tanpa ada keraguan sedikitpun.
2. Bangun sensitifitas/kepekaan panca I
indra anak dengan banyak mengajak mengihsas atau mengindra fakta sambil diajak bertafakur (berfikir)  apa yang terjadi di hadapannya, bahwa dibalik peristiwa yang dapat dilihat, didengar, dirasakan, dihirup, disentuh ada peran yang maha hebat, yaitu Allah Azza Wajalla. Segala materi atau benda tersebut bersifat lemah saling bergantung satu dengan lainnya , dan  tidak hadir dengan sendirinya di muka bumi ini.
Hal ini untuk menghadirkan pembuktiaan  kehebatan Allah  bahwa di balik materi lemah itu ada Allah yang Mahabesar dan Mahahebat sebagai Al-kholiq (Maha Pencipta) dan Al-mudabbir (Maha Pengatur) sehingga anak-anak takjub dengan kebesaran Sang Kholiq. Disinilah kekuatan maklumat tsabiqoh (informasi yang shohih) diberikan agar menghasilkan proses berfikir yang shohih tidak sesat.
3.Mengajak anak-anak berfikir dan  memecahkan masalah (problem solving) terkait dengan Aqidah, tuk mengetahui sejauh mana pemahaman dan keyakinan Aqidah Islam terpatri dalam diri mereka. Sebagai contoh kasus pembuktian
Walau Allah itu ghoib namun keberdaannya tidak diragukan.
Dengan melihat benda yang dihadapannya misalnya sebuah meja, lanjut dengan beberapa pertanyaan : dari manakah meja berasal? tentu mereka akan menjawab dari kayu dan batang pohon, selanjutnya tanya kembali apakah kayu yang berbentuk meja bagus seperti ini ada dengan sendirinya di ruang kelas ini?
Mereka akan menjawab,  Tidak, di sinilah kita memberikan penjelasan bahwa walau diri kita tidak tahu seperti apa wajah tukang kayu yang membuat meja tapi kita yakin bahwa meja tersebut ada yang membuatnya yaitu tukang kayu. Begitupun dengan adanya alam semesta seperti bumi, langit, bulan, matahari, angin, bintang dsb, walau kita tidak pernah lihat sosok seperti apa yang menciptakan alam semesta dan isinya  karena ghoib namun kita tetap meyakini itu semua ada yang menciptakannya. Tidak mungkin alam semesta ada dengan sendirinya atau tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri.
4.Bacakan kisah-kisah akan kebesaran dan kehebatan Allah, kitab suci, malaikat, nabi, hari akhir atau kehidupan surga dan neraka berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah serta pemahaman qodho dan qodar. Hal ini akan membuat anak-anak semakin tergambar kaitan satu dengan lainnya serta pengaruh dalam kehidupan manusia.
5.Tidak menghadirkan media-media sampah nan rusak yang bersifat liberalisme, sekulerisme sehingga mudah mengotori pikiran dan melemahkan Aqidah generasi jika tidak ada yang mengontrol bacaan yang dilihatnya.
Selain pemahaman diatas diberikan oleh  orangtua dan pendidik, juga kewajiban  lingkungan masyarakat, dan negara menjaga aqidah generasinya dengan memberikan edukasi syar’i atau tidak bertentangan dengan syariat,  karena segala perbuatan manusia akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah kelak. Cara diatas harus dilakukan penuh kesabaran dan pemahaman shohih secara  totalitas.
Semoga dengan tahapan demikian  orangtua sedikit bisa tergambar bagaimana cara  menguatkan Aqidah shohih ananda  agar produktif dan tidak mati hingga hidayah dan taufik keislaman selalu menyelimuti dirinya dan predikat taqwa dapat diraihnya. Wallahu’alam Bishowwab. []
* Praktisi pendidikan

Comment

Rekomendasi Berita