by

Hijriana*: Aku Yang Berhak Atas Diriku

Hijriana

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Ini tubuhku, yang berhak mengaturnya ya tentu saja aku. Siapapun tak berhak mengaturnya, baik kamu, Dia bahkan Tuhan sekalipun.

Tak usah sok suci, sok peduli, menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana ku perlakukan tubuhku ini, Ini hak ku yang berhak ya aku.

Pernah di posisi seperti itu ? Yah kita semua pasti pernah.
Tak munafik, memang sebelum semuanya berubah, sebelum kita mengenal mereka yang mengajak pada taat,memberikan banyak pelajaran tentang bagaimana posisi wanita juga sebagai hamba.

Segalanya kita pikir ada dalam kendali kita sendiri, sebab yang mengaturnya adalah kita, Bodoh-Nya kita lupa bahwa tak lebih dari mahluk lemah berlumur dosa nyatanya kita membutuhkan sesuatu yang mampu memberi kita segalanya, Termasuk ketenangan menghadapi segala Gundah, Ya membutuhkan sesuatu yang maha kuat, Rabb semesta alam Allah SWT.

Pada waktu itu, waktu di mana segala hal kita rasa mampu kita kendalikan sendiri, hidup yang tak terarah berantakan, tujuan di bumi pun tak tau untuk apa, apalagi memikirkan tujuan diciptakannya diri di bumi ini.

Akhirnya pelampiasan atas segala sesak adalah bermuara pada hal-hal yang bertajuk dosa, pacaran, dan hal-hal maksiat lainnya yang membawa pada akhir yang kelam.

Kita pikir melakukan hal bodoh seperti yang saya sebutkan tadi tadi cara terbaik melepaskan sesak yang menggebu di dada, rupanya salah kita hanya menambah masalah baru dan dosa yang semakin lama semakin menggunung hingga pada klimaksnya adalah mengecewakan banyak pihak. Ya keluarga kita yang seharusnya tak salah, malah menanggung dosa atas kesalahan-kesalahan yang kita perbuat.

Hingga akhirnya Allah yang maha baik mempertemukan kita dengan mereka yang senantiasa sabar memberi nasehat, atas segala kesilapan masa lalu yang tak luput dari pemakluman atas ketidakhuan kita pada hal buruk yang menjerumuskan pada kubangan-kubangan dosa.

Mirisnya kita masih saja membanggakan aturan yang berasal dari kejeniusan manusia, menganggap bahwa merekalah yang mampu memberi solusi terbaik atas segala problematika yang menimpa diri, juga kebodohan kita yang kadang abai pada nasehat-nasehat baik dari sahabat-sahabat taat yang kita anggap sebagai pengganggu ketenangan.

Padahal sungguh bersahabat dengan orang-orang yang saleh adalah nikmat yang sangat besar. Umar bin Khattab berkata,

ما أعطي العبد بعد الإسلام نعمة خيراً من أخ صالح فإذا وجد أحدكم وداً من أخيه فليتمسك به

“Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (semuslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh maka pegang lah erat-erat.” [Quutul Qulub 2/17]

Kita lupa bahwa yang berhak mengatur  diri kita hanyalah sang Khalik, aturan yang Allah beri tentu aturan terbaik sebab Allah tahu apa yang dibutuhkan mahluk-mahluknya, bukankah berantakannya hidup kita sebab aturan Allah yang kita abaikan?

Padahal Allah SWT berfirman

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

“Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (Al-Qur`ân) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri”. [an-Nahl/16:89]

Jadi tak inginkah hidupmu kembali terarah, berjalan pada jalan kebaikan dengan Islam sebagai jalan dan ilmu sebagai cahaya penunjuk jalan kegelapan mu menuju cahaya kebenaran.[]

*Penulis adalah Mahasiswi perikanan dan ilmu kelautan program studi budidaya perairan Universitas Khairun Ternate
*

Comment

Rekomendasi Berita