by

Kanti Rahmillah, M.Si: Bebaskan Indonesia dari Penghambaan terhadap Kapitalisme

Kanti Rahmillah, M.Si
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Bendera merah putih berkibar. Umbul-umbul berwarna warni menjulang bak janur di depan gedung pernikahan. Rakyat berlomba menghiasi rumah dengan nuansa merah putih. Anak-anak menghiasi sepeda. Gapura-gapura desa meriah dengan segala kreatifitasnya. Toko-toko tak kalah cantiknya, memberi diskon yang serba tujuh belas.
Kegembiraan yang begitu tampak dari sebagian wajah Indonesia. Namun tidak dengan sebagian lainnya. Ada sebuah realitas yang tak bisa dihapus hanya dengan menyanyikan Indonesia Raya Potret buram mayoritas rakyat Indonesia, yang ternyata menjadi bagian paling menyedihkan. 
Hingga tahun 2018 total siswa putus sekolah di Indonesia sebanyak 187.828 orang. Ratusan ribu anak putus sekolah dan penyebab utamanya adalah faktor ekonomi. Kesulitan ekonomi yang dialami oleh sebagian besar rakyat Indonesia, telah menjadikan prioritas pendidikan ditaruh paling bawah. Jangankan bersekolah, untuk memenuhi kebutuhan pangan pun mereka harus bekerja ekstra.(idntimes.com).
Lantas, benarkah Indonesia sudah merdeka? Saat kran impor tak bisa kita kendalikan, tarif impor ditiadakan, subsidi pada petani pun dihilangkan, hanya karena terikat perjanjian perdagangan? Apakah ini yang dinamakan kebijakan suatu negara yang menginginkan rakyatnya sejahtera?
Dua puluh lima juta rakyat miskin. Pengangguran yang tak pernah habis. Gelombang tsunami PHK yang tak berkesudahan, lalu impor tenaga kerja asing? Inikah yang dinamakan keberpihakan pada rakyat? 
Meragukan Intelektualitas anak negeri dengan mengimpor tenaga pendidikan, Guru bahkan Rektor. Inilah bukti ketergantungan kita. Memang benar, sudah tidak ada penjajahan fisik. Sudah tidak ada para tentara yang menodongkan moncongnya untuk merampok kekayaan alam. Tapi, bukan berarti tidak ada lagi yang bisa merampok SDA dan mengambil kekayaan intelektual anak bangsa.
3,5 abad dijajah Belanda dan 3,5 tahun dijajah Jepang, telah menjadikan bangsa ini bermental terjajah. Penjajahan ekonomi, politik, budaya masih berlangsung hingga kini. Walau merdeka secara dejure, tapi kita masih hidup dalam bayang-bayang negara adidaya. Oleh karena itu, Indonesia belum merdeka secara hakiki.
Lalu, bagaimana agar Indonesia bisa mendapatkan kemerdekaan hakiki? 
Saat terjadinya perang Qodisiyah. Panglima perang Rasulullah SAW, Saad bin Abi Waqaash menerintahkan Rabi’ bin Amir untuk menghadapi Rustum, Panglima Perang Persia. Lalu Rustum bertanya kepada Rabi’ tentang tujuan kedatangan pasukan Islam ke wilayahnya. 
Dengan lantang Rabi’ menjawab, “Kami datang untuk membebaskan manusia dari penghambaan terhadap sesamanya kepada penghambaan kepada Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa. Dari dunia yang sempit menuju dunia yang luas, serta dari kesewenang-wenangan kepada keadilan, Al-Islam,”
Perkataan Rabi’ kepada Panglima Perang Persia di Perang Qodisiah, telah dicatat dengan tinta emas sejarah Islam. Kalimatnya telah dengan jelas menunjukan bahwa Islam menginginkan agar tidak ada penghambaan seorang hamba kepada selain Allah. Hanya Allah-lah yang berhak kita sembah.
Selain itu, Islam pun menginginkan agar kesewenang-wenangan yang diproduksi penguasa yang dzolim harus dihentikan, agar tercipta keadilan. Bebaskan Indonesia dari penghambaannya terhadap kapitalisme, yang telah jelas merusak manusia. Kapitalisme adalah sebuah sistem buatan manusia yang menjadikan manfaat materi di atas segalanya. Keserakahan yang dilegalkan penguasa. Klaborasi busuk antara penguasa dan pengusaha demi meraup keberlimpahan nafsu dunia. Semua itu akibat negeri ini menghamba pada ideologi kapitalisme.
Oleh karena itu, upaya membebaskan Indonesia dari belenggu penghambaan pada selain Allah SWT adalah upaya mewujudkan kemerdekaan hakiki. Mari kembalikan Indonesia pada tatanan Islam secara kaffah, agar kehidupan di negeri ini diberkahi oleh Allah yang maha kuasa.[]

Comment

Rekomendasi untuk Anda