by

Kilas Balik Yayasan Harapan Kita & Yayasan Dana Kemanusiaan Gotong Royong

“Yayasan Ini Bukan Milik  Keluarga Tapi Milik Segenap Rakyat Indonesia”

Oleh: Ir. SetiaBudi

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Hj. Siti Hartinah Soeharto, istri mantan presiden kedua Indonesia, Jenderal H. Moh. Soeharto, adalah ibu negara nan melegenda, yang sangat dikagumi masyarakat karena sikap keibuan, keramahan, kesosialan dan ke-Indonesia-annya yang sangat kental. Sosoknya sebagai ibu negara mendampingi Pak Harto sebagai presiden selama 32 tahun, dilengkapi dengan busana kebaya, khas nusantara yang menjadi signature fashion dalam keseharian Ibu Tien, sangat lekat dalam benak Rakyat Indonesia.

Ibu Tien, sapaan kesayanganya, seperti terlahir kembali saat menyaksikan putri sulungnya, Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut, menyampaikan prespektifnya seputar kilas balik perjuangan ibunda tercinta, Ibu Tien, baik sebagai orang tua, sebagai istri presiden, maupun sebagai Ketua Yayasan Harapan Kita dan Yayasan Dana Gotong Royong.

Mbak Tutut, yang pernah sukses menggalang kreatifitas generasi muda dalam gerakan ‘Kirab Remaja Nasional Indonesia’,  pun memaparkan panjang lebar seputar kedua yayasan tersebut, bertepatan dengan ulang tahun Yayasan Harapan Kita ke – 51 tahun dan Yayasan Dana Gotong Royong ke 33 tahun, atau sama seperti hari kelahiran Ibu Tien, tepat pada Hari Jumat, 23 Agustus 2019.

Seandainya Ibu Tien masih ada, saat ini usianya sudah mencapai 96 tahun. Meski telah mangkat, Ibu Tien tetap meninggalkan nama baik yang harum nan indah, karena meninggalkan warisan yang tak ternilai harganya. Ibu Tien berhasil melahirkan yayasan sosial yang menuai banyak manfaat dan telah dinikmati oleh rakyat dari generasi ke generasi. Semuanya bermula dari Yayasan Harapan Kita pada 23 Agustus 1968, kemudian Yayasan Amal Bhakti Pancasila pada 23 Agustus 1986.

Kedua Yayasan tersebut, menurut Mbak Tutut, adalah yayasan yang lahir dari tangan emas Ibu Tien, karena di dorong oleh rasa keprihatinan yang mendalam atas kondisi sosial, budaya dan ekonomi Rakyat Indonesia ketika itu. Dari kedua yayasan tersebut, lahirlah Rumah Sakit Harapan Kita, destinasi wisata Taman Mini Indonesia Indah, Gedung Pewayangan Kautamaan, Padepokan Pencak Silat serta  Perpustakaan Nasional, dan sejumlah kegiatan lainnya yang nyata-nyata telah membantu kehidupan masyarakat, seperti donasi untuk pendidikan, kesehatan dan bantuan pada korban bencana alam yang terjadi pada sejumlah wilayah di Indonesia.

“Yayasan-yayasan tersebut, bukan yasasan keluarga, tapi yayasan yang diperuntukkan bagi seluruh rakyat Indonesia,” ungkap Siti Hardiyanti Rukmana, selaku ahli waris yayasan. Setelah Ibu Tien mangkat, Pak Harto menjadi ahli warisnya, kemudian menyerahkan kepada Tutut, tanggung jawab mengelola kedua yayasan itu disaat Pak Harto telah sepuh.

Kepercayaan Pak Harto pada putri seulungnya untuk mengkoordinasi semua kegiatan yayasan, adalah pilihan yang tepat, atas pertimbangan profesionalitas dan kapabilitas yang dimiliki Tutut. Dia adalah tokoh dibalik pembangunan jalan layang tol pertama Indonesia antara Cawang-Tanjung Priok. Ia kemudian memimpin pekerjaan kontraktor konstruksi swasta pertama Indonesia di Malaysia dan Filipina.

Harapan Hidup Rakyat Indonesia pada ‘Yayasan Harapan Kita’.

Yayasan pertama yang didirkan oleh Ibu Tien ini, konsep dasarnya adalah bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia dalam arti seluas-luasnya, pertama kali dikelola oleh Ibu Tien bersama para tokoh perempuan di era itu, seperti Siti Zaleha Ibnu Sutowo, Sri Dewanti Muhono, Kartini Widya Latief, Siti Maemunah Alamsjah, Wastuti Ali Murtopo dan Soetamtitah Soedjono Humardani.

“Kita jangan mau dikalahkan oleh keadaan menyedihkan yang sedang menimpa, kita harus bangkit dan keluar dari kondisi keterpurukan ini,” ungkap Mbak Tutut, mengenang narasi kemanusiaan yang seringkali terdengar dari mulut Sang Ibu Negara, hingga kini masih melekat terus dalam sanubarinya.

Tutut yang pernah aktif sekali mengelola klub Softball dan Baseball ini, dalam kilas baliknya menuturkan pula, saat kali pertama syukuran pendirian yayasan dilaksanakan bertepatan ulang tahun ke 45, Ibu Tien Soeharto, 23 Agustus 1968. Tamu paling dinantikan hari itu tentu saja Pak Harto.

Bukan sebagai suami semata, tapi juga Pak Harto selaku Presiden Republik Indonesia. Tampak hadir Wakil Presiden Adam Malik, para Menteri Kabinet Pembangunan dan Direktur Utama Pertamina, Ibnu Sutowo. Pengguntingan pita oleh Sultan Hamengkubuwono IX, selaku Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, ketika itu.

Dari Yayasan Harapan Kita, kemudian lahirlah destinasi wisata yang masih populer hingga saat ini, yaitu Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Konsep dasarnya adalah, Ibu Tien ingin menyatukan beragam budaya nusantara dalam satu wilayah. Sebutlah Indonesia kecil.

Di dalam TMII ada Taman Flora & Fauna, pertunjukan berkala seputar Adat-Istiadat dari seluruh wilayah provinsi di tanah air, Museum Iptek, Museum Listrik, dan sejumlah wahan edukasi dan hiburan lainnya, seperti Taman Anggrek Indonesia Permai yang melestarikan ribuan Anggrek dari seluruh Indonesia, disekitar kompleks TMII.

“Jangan hanya yang sugi saja yang menikmati hiburan, tapi mereka yang masih hidup dibawah garis kemiskinan juga harus bisa menikmati hiburan disekitar,” ungkap Mbak Tutut, mengenang Ibu Tien, yang menyampaikan pandangannya tentang latar belakang dibuatnya destinasi wisata dengan harg amasuk paling murah, Taman Mini Indonesia Indah. Sampai kini, dibandign dengan destinasi wisata lainnya, TMII realtif yang paling murah.

Perjuangan Ibu Tien tak berhenti sampai disitu. Melalui yayasannya, ia mendorong pembangunan Rumah Sakit Anak dan Bersalin Harapan Kita, karena ketika itu angka kematian bayi dan ibu yang melahirkan sanga tinggi. Beliau ingin rumah sakit ini berperan besar membantu tumbuh kembang anak-anak hebat harapan bangsa dan menjadi pionir penggunaan teknologi kedokteran terbaru.

Puncak kiprah Rumah Sakit Harapanan Kita, bisa dilihat pada Mei 1988. Ketika itu pihak rumah sakit menangani kelahiran “Bayi Tabung” pertama di Indonesia, yang karena sukacitanya, oleh Ibu Tien  Bayi Tabung itu diberi nama Nugroho Karyanto. Disusul bayi tabung kembar tiga yang juga diberi nama Melati, Suci, dan Lestari.

Rumah Sakit Jantung Harapan Kita menjadi medan pertempuran berikut Ibu Negara Tien Soeharto bersama Yayasan Harapan Kita. Dalam pengasuhan tangan dinginnya, rumah sakit ini menjadi yang pertama melakukan bedah jantung terbuka di Indonesia dan operasi jantung berteknologi tinggi lainnya.

“Harus ada subsidi silang, di mana mereka yang kaya raya harus membantu yang mereka yang muskin dan lemah, tapi mengalami penyakit yang sama seperti mereka yang kaya raya,” tandas Ibu Tien, seperti yang dituturkan oleh putri sulungnya, Mbak Tutut. Sukses Yayasan Harapan Kita melahirkan beragam kegiatan sosialnya, sampai kini tak terlepas dari kendali Mbak Tutut,  yang mendapat kepercayaan penuh dari seluruh anggota keluarga.

Kiprah Kemanusian ‘Yayasan Dana Kemanusian Gotong Royong’.

Yayasan ini lahir di Istana Bogor, bertepatan dengan ulang tahun Ibu Tien pada tanggal 23 Agustus 1986, karena terpicu oleh kondisi kelapran rakyat Afrika yang menjadi masalah dunia intrnasional. Setahun sebelumnya, tahun 1985, Pak Harto ke Markas FAO – Food and Agricuture Organization yang bernaung di bawah Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Roma, Italia. Pak Harto mengantarkan langsung sebagian hasil pertanian yang melimpah itu, melalui FAO untuk disampaikan ke Pemerintah Afrika, dimana banyak rakyatnya yang  sakit dan meninggal akibat kelaparan. Saat itu kemarau sangat panjang. Banyak bayi, anak-anak, dan orang dewasa tak mampu bertahan hidup tanpa air dan makanan.

Ibu Tien kemudian terpanggil dan tergerak hatinya untuk meneruskan kepedulian sosial Pak Harto itu, berbagi kasih sayang dan perhatian nyata kepada korban musibah di Saudi Arabia, korban Perang Teluk Persia, dan masalah kemanusia dunia internasional lainnya.

“Yang penting adalah nawaitu yang baik, untuk memperbaiki dan membangun bangsa Indonesia,” terang Tutut, yang kembali mengutip filsafat hidup dari sang bunda.

Dan tentu saja kepedulian terhadap Rakyat Indonesia yang tertimpa bencana. Melalui Yayasan Dana Kemanusiaan Gotong Royong, setiap kali ada bencana alam terjadi di tanah air, yayasan ini paling terdepan  dalam memdinasikan bantuannya. Segala bentuk bencana alam menjadi bagian dari kepedulian sosial yayasan tersebut, seperti letusan Bunung Berapi, angin badai Puting Beliung, Gempa Bumi Tektonik, gelombang Tsunami, Likuifkasi, Banjir Bandang, Tanah Longsor, Kebakaran, hingga akibat musim kemarau panjang, yang menelan korban dan merenggut nyawa manusia.

Selain Ibu Tien sendiri seringkali mengantarkan langsung kebutuhan mendasar masyarakat perkotaan seperti gerobak sampah dan merehabilitasi banyak perkampungan kumuh, kerapkali seluruh anggota keluarga dilibatkan dalam setiap kepedulian sosial. Selain Tutut dan suaminya Idra Rukmana, juga adik-adikanya, Bambang Soeharto, Sigit Soegarto, Titiek Soeharto, Tommy  Soeharto dan Mamiek Soeharto.

Yayasan juga mengadakan berbagai pelatihan dan simulasi bencana untuk para relawan. Mengukuhkan keberadaan mereka, kemudian menyerahkannya kepada Pemerintah Daerah setempat untuk bertugas di berbagai lokasi bencana.

Kini, dibawah koordinasi Mbak Tutut, Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan tetap melanjutkan bakti sosialnya. Bahkan, generasi ketiga Keluarga Cendana ini, turut aktif dalam semua kegiatan sosial, seperti  Danty Rukmana, Eno Sigit, Gendis Trihatmojo dan anggota keluarga besar lainnya. Mereka kini ujung tombak pelanjut pengabdian Presiden RI ke-2 Bapak Mohamad Soeharto dan Ibu Negara Tien Soeharto, di ranah kemanusiaan tanah air Indonesia.

“Walaupun bantuan itu kecil, tapi jika langsung sampai ke tangan rakyat yang sedang mengalami bencana di seluruh Indonesia, itu jauh lebih penting dan manusiawi,” terang Mbak Tutut, yang terus mengulangi narasi-narasi indah bernilai filosofis, dari Ibunda Tercinta, Hajjah Siti Hartini Soeharto,

Meski telah mangkat, Ibu Tien, masih memberikan sejuta harapan hidup bagi segenap Rakyat Indonesia, melalui yayasan yang didirikannya, Yayasan Harapan Kita dan Yayasan Dana Kemanusiaan Gotong Royong. Disanalah sebagian besar harapan Rakyat Indonesia digantungkan.

“Tak satu rupiah pun yang kami ambil untuk kepentingan pribadi dan keluarga, semua dana yang masuk ke yayasan, 100 semuanya akan diberikan kepada Rakyat Indonesia yang mengalami musibah dan masalah ekonomi,” simpul Mbak Tutut, sembari berharap agar kinerja kedua yayasan tersebut terus mengalami kemajuan agar semakin banyak bantuan yang bisa disalurkan.

Ini tak boleh berhenti. Selama Republik Indonesai masih berdiri, maka yayasan milik Ibu Tien tersebut, harus tetap berdiri tegak untuk demi masa depan kemanusiaan di tanah air, seperti yang tersirat dalam puisi indah Ibu Tien, berikut ini:

Diluar tak kentara/ Di dalam pasti terasa/ Dilubuk hati turut berduka/ Tekadku satu untuk bersama//

Ceriamu ceriaku/ Penderitaanmu penderitaanku/ Begitu besar kasih sayangku/ Maka tekadku satu/ Hartaku sebahagian untukmu//

Tuhan Maha Besar dan Maha Sempurna/ Apa yang kita bagi dengan sesama/ Kelak pasti mendapat phala/ yang suci dan berlipat ganda// Amin///[]

Comment

Rekomendasi untuk Anda