by

Kritik Pedas Dalang “Pancen Oye”, K.H. Manteb Soedarsono Di HUT Senawangi

KH. Manteb Soedarsono saat aksi dengan pagelaran wayang
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Dalam Perayaan HUT ke – 44 ‘Sena Wangi’ yang berlangsung di halaman depan Gedung Pewayangan Teater Kautaman, Taman Mini, Pondok Gede, Jakarta, Dalang K.H. Manteb Soedarsono, tampil memesona dalam lakon ‘Sri Sadono Boyong’, disaksikan sejumlah tokoh dan pemerhati pewayangan serta para milenial dari komunitas penggemar wayang.
“Dalam setiap lakon yang saya tampilkan, selalu menyelipkan pesan sosial, budaya dan moral, termasuk kritik pedes terhadap masalah narkoba, seks bebas dan korupsi,” ungkap Ki Manteb, yang terkenal dengan diksi ‘Pancen Oye’ itu, dihadapan sejumlah wartawan yang turut hadir menyaksikan salah satu lakon garapan Ki Manteb yang disukai para penggemar wayang.
Ki Manteb, yang memiliki komunitas penggemar dari kalangan milenial tersebut, mengaku tidak pernah takut dengan kritik pedas yang disampaikannya.
“Melalui wayang yang syarat filosofi itu, saya menyelipkan kritik yang aktual sekaligus faktual, dengan cara yang ringan, humor dan beradab, yang memiliki benang merah dengan cerita,” tandas Ki Manteb yang mengakui jumlah generasi milenial penikmat lakon wayang yang ditampilkannya setiap tahun mengalami peningkatan.
“Saya mengerti selera generasi milenial, dan saya mengikuti apa kesukaan mereka. Seperti sound system yang bagus, alat musik modern diantara alat musik tradisi dan juga efek suara. Jadi saya tidak pernah menaklukan mereka, tapi merekalah yang menaklukan saya,” simpul Ki Manteb diselingi tawa bahagia.
Pergelaran yang berlangsung semalam suntuk tersebut, menurut Drs. Suparmin Sunjoyo, Ketua Umum Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia Sena Wangi melibatkan sejumlah komunitas dari beragam kantong budaya yang berasal dari Indonesia.
“Sudah lama negeri kita dikenal sebagai bangsa yang kaya budaya. Keragaman budaya dengan corak multikultur-nya sudah menjadi brand mengagumkan. Pada titik inilah sebuah komunitas budaya yang sekaligus sebagai salah satu pemangku kebudayan bisa mengambil peran,” jelas Suparmin
Sena Wangi kini genap berusia 44 tahun (12 Agustus 1975 – 2019). Momentum ulang tahun ini menurut Suparmin, dapat menjadi ingatan bagi para penggiat budaya untuk terus menampilkan entitasnya sebagai elemen humaniora yang mampu menumbuhkan kepekaan nurani.
Sebagai lembaga konservasi, preservasi, dan inovasi seni pewayangan, lanjut Suparmin, Sena Wangi telah melakukan berbagai langkah. “Oleh karena itu, karya kesenian setidaknya dapat menjadi mata rantai ikon peradaban bangsa yang santun, terhormat, dan bermartabat. Dalam skala mikro para pelaku seni dan budaya agaknya perlu sigap menangkap berbagai momen globalisasi,” ujarnya lagi. 
Pada saat yang sama, Ketua Bidang Humas dan Kemitraan Sena Wangi, Eny Sulistyowati SPd, SE, MM., menjelaskan, Sena Wangi telah berupaya mendekatkan seni Wayang kepada generasi muda dengan cara yang lebih progresif. Termasuk ikut mencegah korupsi dan menanggulangi korban narkoba melalui berbagai proses kreatif seni Wayang, yang melibatkan anak-anak muda.
Periode lima tahun berjalan, terang Eny, pengurus Sena Wangi telah melakukan berbagai kegiatan. Upaya tersebut diantaranya menjalin kerjasama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN), melakukan sosialisasi Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).
“Sesuai tuntutan zaman, kesenian Wayang harus dikembangkan secara inklusif. Lebih terbuka terhadap nilai-nilai baru yang lebih mudah diterima masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai filosofis yang dibawanya. Masalah pencegahan, pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran narkoba misalnya, pesannya dapat disisipkan saat pertunjukan Wayang,” ujar Eny Sulistyowati.
Pengurus Sena Wangi, lanjut Eny, terus berupaya bagaimana mengenalkan kesenian Wayang di kalangan generasi milenial baik dari segi konten maupun konteksnya. “Budaya adiluhung ini dapat dikenal, diturunkan, dan diwariskan kepada masyarakat, terutama generasi muda,” ujarnya.
Pencapaian Sena Wangi lainnya, kata Eny, adalah pengakuan Negara dan penetapan tanggal 7 November sebagai ‘Hari Wayang Nasional’ yang telah ditanda tangani Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo.
“Pengakuan ini merupakan perjuangan panjang SENA WANGI. Dari mulai proses pengusulan (tahun 2001-2003), hingga penerimaan penghargaan UNESCO, Wayang Indonesia sebagai a asterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity di Paris tanggal 7 November 2013. Maka tanggal itulah yang kemudian kami usulkan sebagai Hari Wayang Nasional,” terang Eny.
Perayaan HUT Ke-44 Sena Wangi, lanjut Eny, menjadi momentum pihaknya untuk kembali meresume apa yang sudah dan belum dilakukan Sena Wangi. antara lain, penetapan renstra (rencana strategis), jangka panjang pengembangan pewayangan Indonesia, tahun 2010 hingga tahun 2030. 
Sena Wangi juga telah mendorong terbentuknya sejumlah organisasi pewayangan, antara lain; PEPADI (Persatuan Pedalangan Indonesia), APA (ASEAN Puppetry Association) Indonesia, UNIMA (Union Internationale de la Marionnette) Indonesia, dan PEWANGI (Persatuan Wayang Orang Indonesia). 
“Sena Wangi secara aktif mengikuti Festival Wayang Internasional, serta menerbitkan berbagai buku dan ensiklopedi Wayang Indonesia. Secara berkala SENAWANGI juga menyelenggarakan pergelaran; Teater Wayang Indonesia (TWI), dan Festival Wayang Indonesia (FWI) setiap tahun,” papar Eny.
Hadir di acara ini para dalang, seniman, budayawan, serta pejabat terkait, antara lain; Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Didik Suhardi, Ph.D, mewakili Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Turut hadir Dr. Ir. Pamuji Lestari, M.Sc. (Asisten Deputi Warisan Budaya Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI), Komjen Pol. Drs. Heru Winarko, SH, (Kepala Badan Narkotika Nasional), Mayor Jenderal  TNI (Purn) Drs. Hendardji Sopeandji SH, (Ketua Umum Komite Seni Budaya Nusantara).
Hadir juga Drs. H. Solichin (Ketua Dewan Kebijakan SENA WANGI) dan Ketua Presidium APA (ASEAN Puppetry Association), H. Kondang Sutrisno, SE, (Ketua Umum PEPADI), Drs. TA. Dubes Samodra Sriwidjaja (Presiden UNIMA Indonesia), Ir. Luluk Sumiarso (Ketua Umum PEWANGI), Dr. Sri Teddy Rusdy, SH. M.Hum,  serta para tamu penting lainnya.[[Budy ACe]

Comment

Rekomendasi untuk Anda