by

Lulu Nugroho*: Jangan Ada ‘Penumpang Gelap’ Di Antara Kita

Lulu Nugroho
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Ramai beredar di dunia maya usai acara diskusi di Jakarta, tentang ‘Penumpang Gelap’. Isu ini keluar dari  Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad ketika bertutur tentang keberadaan penumpang gelap pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang kerap menyudutkan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Gerindra. 
Gerindra tersudut saat diminta buka suara soal ‘Penumpang Gelap’. Bahkan sempat tersiar kabar, rumor ini mengenai Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Ormas yang semakin naik daun karena namanya sering disebut ini akhirnya selalu menjadi perbincangan. Begitu pun ide yang diembannya. Alih-alih ingin menjatuhkan, justru membuatnya makin dikenal.
Sekalipun para penumpang gelap itu disinyalir ingin membuat kekacauan di Indonesia. Namun blunder ‘Penumpang Gelap’ tak pelak menjadikan jagat dunia maya semakin meriah. Berbagai wacana yang dilontarkan elit politik negeri, sekarang tidak mudah menggoyahkan pemikiran umat. 
Umat semakin kritis. Sebab peristiwa yang terjadi silih berganti di tengah kehidupan, justru membuat umat cerdas. Mereka pun menjadi saksi, gagalnya pengelolaan negeri. Akhirnya kini telah terbukti bahwa sekularisme tidak mampu mengakomodir urusan umat. Ideologi kufur mati gaya.
Isu ini juga mengenai lawan-lawan politik. Saling tuding, saling serang, dan meminta Gerindra buka mulut terkait ‘Penumpang Gelap’ yang dimaksud. Hingga akhirnya politisi lupa akan tanggung jawab mereka mengurusi umat. Tradisi berebut kursi pasca Pemilihan Umum (Pemilu) menjadi hal yang lumrah, sekalipun itu salah.
Oleh sebab itu perlu terus dilakukan penyadaran di tengah umat, agar umat mampu menghukumi fakta dengan Islam. Sebab mereka sebenarnya telah memiliki akidah yang sahih. Penerapan sekularismelah yang mengotori kehidupan umat. Polusi pemikiran membuat mereka tak mampu berpikir dengan Islam.
Akidah yang diemban umat sejak lahir, tidak hanya sebagai ibadah ritual. Tapi juga sebagai mu’alajah  (pemecah persoalan), Islam memiliki solusi hakiki. Berbagai opsi solusi yang ditawarkan pemikiran kufur, adalah solusi pragmatis yang malah menyeret umat pada persoalan baru. Solusi ala sekularisme menyesatkan. Sebab menjauhkan umat dari Islam.
Sekularisme juga merupakan pemikiran yang lemah dan merusak. Sesuatu yang datangnya dari Allah, tidak akan mampu ditandingi dengan pemikiran manapun. Lemah sebab tidak mampu menyelesaikan persoalan umat. Serta merusak karena selalu menimbulkan persoalan baru dengan daya rusak yang hebat.
Tanpa penerapan Islam, dipastikan ada yang hilang dari diri kaum muslim. Maka berbagai cara dakwah harus sampai ke tengah umat. Inilah yang akan mengembalikan jati diri kaum muslim sebagai ‘Umat Terbaik’. Kekuatan kufur telah memaksa kaum muslim lupa, terhadap hal-hal yang bisa mengantarkan mereka pada kebaikan tersebut.
Inilah kontribusi kita dalam perjuangan. Tidak saja dakwah bil lisan, juga bil qolam kita tempuh agar umat semakin cinta agama-Nya. Menunjuki umat akan kebenaran Islam. Oleh sebab itu, rumor ‘Penumpang Gelap’ tidak menggoyahkan umat. Isu ini melipir dengan sendirinya. Karena dakwah yang massif telah menjadikan umat tegak di atas akidahnya.
Mematahkan opini kufur dengan opini Islam. Hingga umat tidak surut langkah. Bahkan semakin yakin bahwa hanya Islam satu-satunya jalan untuk kembali pada kebangkitan umat. Baru satu isu, masih banyak isu lain yang tak kalah serunya. Seluruhnya pasti mampu dieksekusi oleh Islam. 
Solusi yang menentramkan hati, sesuai dengan fitrah manusia dan memuaskan akal. Inilah yang menjadi alasan mengapa kita kita harus menulis. Sebab Islam harus disampaikan ke berbagai kalangan dengan berbagai cara. Umat perlu tertunjuki kepada Islam.
Bahkan kabar gembira pernah disampaikan Rosulullah Shollallaahu ‘alaihi wasallam, “Di akhirat nanti tinta-tinta ulama’ itu akan ditimbang dengan darah syuhada (yaitu orang-orang yang mati syahid ).” Semangat menulis, untuk dakwah. Segera kita menyongsong abad kebangkitan umat, sebab sesungguhnya kemenangan itu sangat dekat. Tsumma takuunu khilafatan ‘ala minhajin nubuwwah.
*Muslimah Penulis dari Cirebon

Comment

Rekomendasi untuk Anda