by

Mulyaningsih, S. Pt*: Islam Ada, Peran Pemuda Nyata

Mulyaningsih, S. Pt
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA  – Lagi dan lagi, publik dihebohkan dengan satu peristiwa yang selalu ada dan mungkin akan terus terjadi setiap tahun atau bahkan bulannya. Kejadian tersebut adalah pembunuhan secara keji dan tidak manusiawi, yang dilakukan oleh seorang ibu pada anaknya. Padahal si ibu baru saja melahirkannya, bukan kasih sayang yang ia berikan namun justru kebencian. 
Remaja berinisial SNI, 18 tahun sengaja melakukan tindak kriminal pada  anaknya sendiri. Dia tega menghabisi anak yang baru saja dilahirkannya. SNI melakukannya ketika berada di dalam toilet Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Beriman pada Rabu 24 Juli. Banyak yang mempertanyakan mengapa pelaku bisa tega membunuh dengan keji terhadap buah hati yang baru dilahirkannya? Sungguh ironis melihat kejadian tersebut.
Bayi perempuan itu tewas setelah mulutnya disumpal dengan tisu toilet dan tali pusarnya dicabut. Setelah tewas, jasad bayi dimasukkan ke dalam kantong plastik dan akan dibuang di luar. Pada akhirnya, aksi SNI diketahui petugas rumah sakit saat hendak melarikan diri. Di hadapan awak media ia menyampaikan bahwa sejatinya tidak ingin melakukan hal tersebut. Namun, lantaran alasan belum siap menikah dan mempunyai anak akhirnya langkah itu ia ambil. Padahal sang pacar diakuinya telah siap untuk mengarungi rumah tangga bersama.
SNI menjelaskan bahwa dirinya sendiri tidak mengetahui tentang kehamilannya dan mengaku sulit buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK) pasca terjatuh dari toilet rumah. Dengan alasan khawatir, maka ia meminta urut kepada sang kakak yang tinggal di Kecamatan Balikpapan Barat. Sang kakak pun mengatakan tidak ada tanda-tanda kehamilan pada perutnya, padahal saat itu usia kehamilan SNI telah masuk delapan bulan.
Setelah itu ia pergi ke RSUD Beriman yang berada di Jalan Mayjen Sutoyo, Gunung Malang, Kecamatan Balikpapan Kota. Ia pun diminta untuk mengambil sampel urin untuk diperiksa. Setelah berhasil mengeluarkan sedikit urinnya, sampel tersebut diperiksa oleh tim medis. Tak lama berselang, mendadak merasa mules dan ingin BAB ke toilet. Dalam toilet ruang IGD inilah SNI melahirkan bayinya (news.okezone.com, 28/7/2019).
Fakta di atas sebenarnya tidak asing, banyak kejadian serupa yang mewarnai kehidupan remaja saat ini. Terus akan berulang dan terjadi. Hal tersebut layaknya suguhan hidangan yang setiap saat selalu hadir di sebuah rumah makan. Itulah salah satu fakta yang mewarnai dunia remaja saat ini. Belum lagi kejadian-kejadian lain seperti perkelahian atau tawuran antar sekolah, pemakaian narkoba, mencuri atau bahkan sampai tega membunuh. Terkadang kita tak habis pikir mengapa semua itu bisa dilakukan oleh para remaja saat ini? Apakah rasa iman dan takwa sudah hilang dari diri mereka?
Pandangan Islam
Islam adalah agama yang Allah SWT turunkan kepada Rasulullah SAW melalui perantara malaikat Jibril. Tak hanya mengatur masalah ibadah hamba kepada Rabb nya, tetapi hal yang lain juga. Ibarat kata mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali Islam mengaturnya. Lengkap, sempurna dan paripurna, itulah gambaran Islam.
Dalam Islam ada aturan yang terkait pola hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta, sesama serta dirinya sendiri. Wujud nyata dari hubungan manusia dengan Penciptanya adalah dalam hal ibadah, baik wajib maupun sunnah. Sementara wujud hubungan dirinya dengan manusia yang lain adalah dalam hal muamalah salah satunya. Dan manusia dengan dirinya sendiri contohnya dalam hal pakaian, makanan dan minuman. Terkait dengan hal tersebut, maka manusia harus tahu benar mana yang terkategori dibolehkan oleh syariat Islam dan mana yang tidak. Karena Islam sudah punya aturan bakunya, jika dilanggar maka siap-siap saja pasti hidup terasa hampa dan sengsara.
Manusia akan bertindak sesuai dengan pemahaman yang dia dapatkan. Jika pemahamannya benar, makan perilakunya akan benar. Namun jika pemahamannya salah, maka perilakunya akan ikut menjadi salah. Usia remaja sangat rentan, karena mereka sedang mencari jati diri serta ingin tahu tentang dirinya. Pada masa ini, remaja cenderung mengikuti orang ramai, sehingga sangat mudah terbawa lingkungan sekitar.
Celakanya, dilingkungan sekitar remaja saat ini, pemahaman yang berkembang adalah pemahaman yang bertentangan dengan islam. Televisi dan media sosial yang sangat dekat dengan remaja cenderung mengkampanyekan budaya-budaya permisif liberal yang tentu saja manjauhkan mereka dari pemahaman islam. 
Dalam urusan duniawi misalnya, maka banyak remaja islam yang tidak tahu bahwa agama mereka mengatur seluruh permasalahan. Tak hanya itu, budaya pergaulan bebas (liberalisme) telah mengakar kuat dalam benak mereka. Dan akhirnya pergaulan mereka tanpa ada batasan yang jelas. Begitupun dalam hal penyaluran naluri yang ada dalam diri mereka, utamanya adalah naluri kasih sayang. Mereka akhirnya menumpahkannya lewat perbuatan-perbuatan yang tak selaras dengan Islam. Pacaran, itulah gambaran penumpahan kasih sayang kepada sesama. Dan akhirnya mereka terjerumus dalam kubangan perbuatan keji yaitu zina.
Sangat jauh berbeda ketika Islam sudah melekat dalam jiwa-jiwa para pemuda. Mereka ibarat buku-buku yang terbaru dan best seller. Banyak karya yang mereka hasilkan di masa mudanya. Dengan keislamannya Itu, mereka seperti mutiara yang memancarkan cahaya kemilaunya nan indah. 
Contoh yang sangat nyata dan sudah semestinya dapat kita contoh adalah ketika Rasulullah SAW berdakwah. Pada saat itu, generasi pertama yang mau menerima dakwah Rasul mayoritas adalah pemuda. Mereka selalu ada pada garda terdepan untuk menjaga dan melindungi Islam. Pasukan perang yang ada juga dipenuhi oleh para pemuda. Sebut saja Ali bin Abi Thalib, Saad bin Abi Waqash, Usamah bin Zaid dan masih banyak lagi. Begitu pula dengan utusan Rasulullah untuk berdakwah adalah pemuda. Mush’ab bin ‘Umair, beliau diminta oleh Rasulullah untuk berdakwah ke Madinah. Ia menjadi duta Islam yang pertama, mau meninggalkan segala kebanggaan dunia dan menggantikannya dengan kemuliaan hakiki. Berkat kiprah dan kerja keras Mush’ab, dalam tempo kurang dari setahun hampir seluruh penduduk Madinah memeluk Islam.
Dari gambaran contoh di atas dapat ditarik satu kesimpulan bahwa posisi seperti itulah yang semestinya harus ada pada para pemuda Muslim kita. Mereka adalah pengemban dakwah Islam yang terpercaya, duta-duta propaganda syariah Islam yang akan menjadi rahmat bagi seluruh penduduk bumi jika Islam diterapkan secara kâffah dalam bingkai sebuah negara.
Posisi dan fungsi vital pemuda inilah yang harus kita kembalikan agar sesuai dengan tuntutan Islam. Oleh karena itu harus ada sebuah gerakan penyadaran kepada para pemuda Muslim yang dilakukan oleh semua pihak, khususnya partai politik Islam yang berpijak pada mabda’ (ide dan metode) Islam. Sejatinya peran penting pemuda akan teroptimalisasi dalam masyarakat yang menerapkan Islam secara kâffah. 
Negara akan menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pemberdayaan pemuda. Sistem pendidikan, pergaulan, sosial, ekonomi dan politik yang akan diterapkan negara mendukung pemberdayaan potensial para pemuda sebagai penjaga dan pelindung Islam terpercaya. Akal dan hati mereka akan senantiasa ditambatkan pada Islam dan kejayaan umatnya. Wallahu A’lam.[ ]

Mulyaningsih, S.Pt
Pemerhati masalah anak, remaja dan keluarga
Anggota Akademi Menulis Kreatif (AMK Kalsel)

Comment

Rekomendasi untuk Anda