by

Ns. Sarah Ainun, S.Kep,. M. Si*: Ekspansi Kapitalisme Membidik Emas Negeri di Atas Awan

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Aceh tengah yang dijuluki negeri di atas awan, adalah sebuah kabupaten yang terletak di provinsi Aceh. Berada di ketinggian 1.200 meter dari permukaan laut. Tanah yang subur dan kondisi alam dikelilingi pegunungan dengan hawa sejuk dan keindahan panorama alam yang masih  alami. Aceh Tengah terkenal dengan komunitas kopinya yang mendunia. Anugerahah kekayaan alam yang berada di permukaan bumi maupun yang terkandung didalamnya seperti emas telah menarik pihak luar untuk mengeksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) nya.
Sejak 4 April 2019 mencuatnya penolakan sejumlah kalangan mulai dari Reje (kepala desa), LSM, ORMAS, Organisasi Kepemudaan (OKP), aktivis lingkungan dan masyarakat terhadap kehadiran perusahaan tambang PT. Linge Mineral Resource (LMR) yang mengumumkan rencana melakukan penambangan dan pengolahan bijih emas dmp proyek Abong, yang berlokasi di Lumut, Owak dan Penarun kecamatan Linge kabupaten Aceh Tengah. Besaran rencana kegiatan 9.684 Ha dengan target produksi maksimal 800 ribu ton pertahun (rri.co.id, 17 Agustus 2019) 
Desakan kepada Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah untuk mencabut keputusan Gubernur nomor: 065/962/2018 tentang informasi yang di kecualikan di lingkungan pemerintah Aceh datang dari Badan Pekerja GeRAK Gayo Satria Darmawan (TASKOMI.COM, 21/08/2019)
Hal serupa juga datang dari aktivis perempuan asal Bener Meriah Sri Wahyuni yang mendesak pemerintah Aceh segera mencabut izin PT. LMR. Melalui aksi tunggal teatrikal di bundaran Simpang Lima Banda Aceh Kamis, 22/08/2019 sebagai bentuk protes dan penolakan serta kekecewaan terhadap pemerintah Aceh yang membiarkan keberadaan perusahaan tambang LMR di Tanoh Gayo.
Lebih lanjut Sri mengatakan dampak hancurnya lingkungan yang disebabkan oleh tambang akan berakibat pada tercemarnya sumber air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat, hilangnya tutupan hutang menyebabkan meningkatnya suhu udara yang berdampak pada menurunnya kualitas kopi dan hasil panen sebagai sumber utama ekonomi rakyat yang sudah mulai dirasakan serta meningkatnya kemiskinan (AnalisAaceh, 22/08/2019)
Alasan tersebut tentu saja tidak menyurutkan langkah perusahaan LMR untuk menghentikan rencana penambangan emas tersebut. Perusahaan yang 80 persen penyertaan modal asing dari Kanada ini melalui perwakilannya kuasa direktur PT. LMR Ahmad Zulkarnaen  sebelumnya pada Sabtu, 17/08/209 yang dikutip dari rri.co.id mengatakan pihak perusaan sedang melakukan studi kelayakan. Jika layak, perusahaan akan melengkapi dokumen Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) 
Sebagai negara yang menganut ideologi Kapitalisme, Indonesia merupakan negara yang mempermudah dan membuka keran investasi sebesar-besarnya untuk mengundang minat datangnya para investor asing. Kapitalisme adalah sebuah sistem dimana negara memberikan kebebasan bagi individu maupun sekelompok orang (pemilik modal) untuk mengelola semua SDA tanpa adanya campur tangan negara. 
Pengerukan atau perampokan secara besar-besaran terhadap SDA sampai tidak tersisa dan mengeksploitasi buruh (Sumber Daya Manusia), akumulasi/penumpukan pundi-pundi kekayaan dilakukan dengan berbagai cara dan melakukan ekspansi keseluruhan daerah merupakan pola sifat dan watak Kapitalisme. Sistem Kapitalisme melahirkan paham Sekulerisme, dimana agama tidak boleh ikut campur dalam mengurusi masalah kehidupan salah satunya ekonomi.
Islam bukan agama yang hanya mengurusi ibadah ritual saja. Namun, Islam mengatur segala sendi kehidupan manusia termasuk ekonomi. Ekonomi Islam lahir dan dipraktikkan sejak Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam memulai kariernya menjadi seorang pedagang. Yang dilanjutkan dan di praktikkan oleh para sahabat sampai pada masa kekhilafahan Ustmani.
Dalam Islam negara tidak boleh menyerahkan pengelolaan sumber daya alam kepada individu/perorangan apalagi oleh pihak asing, karena sudah menjadi tanggung jawab negara mengambil alih pengelolaan sumber daya alam sebagai kepemilikan umum yang di pergunakan untuk kepentingan hajat hidup orang banyak. Seperti Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA berkata sesungguhnya Nabi SAW bersabda; orang muslim berserikat dalam tiga hal yaitu; air, padang rumput, api, dan harganya haram. Begitu juga yang terkandung dalam UUD 1945 pasal 33.
Sungguh sebuah ironi yang menyedihkan memang, ketika rakyat tidak tahu hakikat sebuah negara demokrasi dengan penerapan ideologi Sekularisme Kapitalisme. Slogan oleh rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat, aplikasinya hanyalah sebagai alat politik untuk mendapatkan pengakuan rakyat terhadap kursi kekuasaan. Namun dalam sistem kapitalis dengan dasar pemikiran materi diatas segala-galanya, negara mengakui kekuasaan berada pada kaum pemodal.
Begitu juga dengan kedaulatan ditangan rakyat dan suara rakyat suara Tuhan. Hanya sebuah slogan yang tidak memiliki dasar hukum yang kuat untuk melindungi kepemilikan umum. Penolakan rakyat bukanlah cara untuk menghentikan langkah kaum Kapitalisme menjarah dan menguras habis-habisan kekayaan SDA di setiap sudut dan lapisan bumi dengan dalih investasi. Hal ini merupakan bentuk penindasan atau penjajahan gaya modern (Neo-Imperialisme).
Sudah saatnya rakyat sadar dan mengembalikan posisi kadaulatan  yang hakiki di tangan sang pemilik hidup Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan patuh, tunduk dan taat apa hukum sang khalik melalui penerapan syari’at Islam secara Kaffah dalam mengatur semua aspek kehidupan yang merupakan solusi satu-satunya yang mampu menjamin kesejahteraan dan melindungi rakyat serta mengembalikan Islam yang rahmatan lil’alamin. Wallahu A’lam bish-shawabi.[]
*Lulusan S2, Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Fak Ilmu Kebencanaan

Comment

Rekomendasi Berita