by

Siti Aisah, S. Pd*: Sabilulungan Membangun Generasi Berkualitas

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Dahulu, para pahlawan bangsa memekikkan seruan “Merdeka atau Mati” untuk memompa semangat perjuangan. Mayoritas mereka adalah Muslim sehingga wajar bila kumandang takbir,  mengiringi perlawanan terhadap penjajahan.

Hal itu disampaikan Ustad Abdul Somad. Beliau menambahkan, generasi kini dan mendatang hendaknya tidak melupakan jasa-jasa para pahlawan. Sebab, mereka telah tulus-ikhlas berjuang memerdekakan negeri ini (Republika.co.id, 17/8/2019).

Usai sudah acara peringatan 17 Agustusan, namun pesan bapak Bupati Bandung H. Dadang M. Naser selaku Inspektur Upacara pada peringatan Hut RI ke 74 di lapangan Upakarti Kab. Bandung seolah masih terngiang. Dalam pidatonya ia menyampaikan harapan bahwasanya kebersamaan dalam kemajuan kabupaten Bandung antara pemerintah dan masyarakat harus saling membangun sinergitas yang berlandaskan ‘Sabilulungan’, serta membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang maju, mandiri, dan berdaya. Sehingga mampu berdaya saing dengan tata kelola pemerintahan Desa yang baik. (bandungberita.com, 17/08/2019).

Hal ini senada  dengan ungkapan Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum dalam acara Cooperative Fair 2019 dengan tema ‘Generasi Milenial Jabar Juara’ di Plaza Metro Indah Mall, Kota Bandung, Jumat (23/8/19). Beliau mendorong agar kapabilitas SDM tentang koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) agar mampu bersaing di era revolusi industri (Jabarekspres.com 25/8/2019).

Pemerintah seharusnya tidak hanya memandang dari segi peningkatan SDM saja, tanpa membina karakteristik generasi. Hal ini dikarenakan kondisi remaja saat ini terpapar krisis moral. Era digital yang semakin canggih tidak mampu mencegah masuknya ratusan atau bahkan ribuan situs pornografi. Penayangan film remaja dibuat agar melenakan mereka, sehingga mereka enggan untuk bersaing serta tidak memiliki daya untuk maju dan mandiri.

Islam mempunyai cara untuk mempersiapkan generasi berkualitas serta cara menjaga negara agar sabilulungan bisa terjalin dengan baik antara masyarakat dan negara demi terciptanya generasi berkualitas. Namun sebaiknya yang harus dikritisi dari sistem ini adalah karena sistem keseluruhan saat ini tidak mampu menjaga mereka, bahkan cenderung bersifat merusak dan menjadi pengkhianat melalui jargon “penjaga sistem” demi kedaulatan negeri, namun pada faktanya mereka tak ubahnya seperti “menjual” negara. Dengan dalih investasi semua infrastruktur yang nyatanya hanya untuk kalangan tertentu saja. Serta hanya memuluskan kalangan elite politik dan para kapital.

Sesungguhnya pemuda atau remaja adalah generasi penerus. Oleh Karena itu, Islam memberikan perhatian besar kepada mereka, bahkan mulai dari usia dini. Sistem saat ini Demokrasi mengedepankan kebebasan, artinya mereka bebas melakukan apapun tanpa adanya filter agama. Mereka memisahkan aturan kehidupan dan agama. Hanya mementingkan keuntungan semata, tanpa melihat halal-haramnya.

Di masa lalu, madrasah pertama bagi putra-putrinya adalah keluarga. Orang tuanya telah membiasakan putra-putrinya yang masih kecil untuk menghafal Alquran dengan cara memperdengarkan bacaannya sejak masih dalam kandungan. Sehingga mereka bisa hafal Alquran sebelum usia enam atau tujuh tahun, karena di usia emas (golden age) seperti ini, anak-anak bisa dibentuk menjadi apapun, tergantung orang tuanya. Selain itu mereka juga dibiasakan oleh orang tua-orang tua mereka untuk mengerjakan shalat, berpuasa, berzakat, infaq hingga berjihad.

Tinta emas peradaban Islam mencatat banyak pemuda yang berkilau namanya karena memuliakan Islam. Sejak generasi sahabat sampai Sultan Muhammad Al-Fatih Penakluk Konstantinopel yang menjadi pintu gerbang mulainya penyebaran Islam ke Eropa. Serta kejayaan Islam lainnya banyak dibangkitkan oleh kalangan muda. Peran ulama Salafush shalih mendidik generasi muda ini tiada lain karena mereka paham, bahwa menyia-nyiakan pembinaan kaum muda sama artinya dengan merencanakan kehancuran suatu bangsa.

Dengan demikian bekal ilmu dan pembentukan mental yang diberikan harus ditopang dengan pembentukan sikap dan nafsiyah yang mantap, sehingga tidak heran jika kehidupan pemuda di era Islam jauh dari istilah hura-hura, dugem dan kehidupan hedonistik lainnya.

Oleh karenanya, agar generasi muda tidak terperosok dalam kesia-siaan, maka mereka harus disibukkan dengan ketaatan. Baik membaca, mendengar atau menghafal Alquran, hadits, kitab-kitab tsaqafah para ulama’, atau berdakwah di tengah-tengah umat dengan mengajar di masjid, kantor, tempat keramaian, dan sebagainya. Mereka juga bisa menyibukkan diri dengan melakukan perjalanan mencari ilmu, berjihad, atau yang lain.

Beberapa hal ini yang patut dilakukan pemuda antara lain:

Pertama, hujamkan keimanan bahwa Islam adalah agama sempurna, artinya bukan hanya spiritual saja namun mengatur setiap sendi-sendi kehidupan.

Kedua, kaji Islam sebagai Ideologi, bukan hanya sekedar ilmu pengetahuan belakang. Sehingga mereka mampu memahami dan terikat terhadap hukum syara.

Ketiga, tidak bersifat oportunis yang mementingkan duniawi saja, namun bukan pula bersikap netral akan tetapi harus berpihak pada Islam sehingga mereka tidak salah arah.

Keempat, melibatkan diri dalam dakwah Islam demi tegaknya syariah. Tentunya Semua ini membutuhkan peran negara sebagai sebuah sistem yang akan memberikan suasana kondusif untuk terciptanya generasi penerus yang berkualitas. Wallahu ‘alam bi-ashawab
[]

*Member Akademi Menulis Kreatif Regional Bandung

Comment

Rekomendasi Berita